Tawaduk Meniti Kebaikan Dakwah

Oleh: Fathur Rahman Alfaruq (Pengasuh MTI Darul Falah Lamongan)

Pegiat dakwah seyogyanya  melakukan evaluasi atas kerja dakwah yg telah dilakukannya setiap saat.  Sehingga Da'i mengetahuinya, apakah sudah memahami mad'u (objek dakwah)? Apakah konten materi dakwah sudah tersusun dengan sistematis, sederhana, dan argumentatif "syar'iyah" dan "aqliyah"?

Kadangkala, sebagian juru dakwah merasa persiapan dakwah sudah optimal. Baik dalam memahami psikologi dan kondisi objek dakwah. Bahkan tema dakwah sudah dipersiapkan dengan sistematis, sederhana, dan argumentatif. Sehingga secara syar'iyah, sasaran dakwah tidak bisa membantah argumentasi da'i. Begitupula, secara pola dan runutan berfikir (aqliyah) Pegiat dakwah dalam memaparkan materi sangat logis. Sehingga sasaran dakwah tidak bisa membantah sedikitpun. Kondisi objek dakwah bagaikan menjadi orang yang "kesengeren" atau "mati kutu". Sehingga mungkin dalam  pikiran Da'i, bahwa objek dakwah pasti menerima dan mendukung dakwahnya. 

Akan tetapi, pengemban dakwah terheran-heran terhadap objek dakwah ini, karena pada realitasnya,  sasaran dakwah justru tidak mendukung dakwah Da'i dan bahkan menolak dengan keras. Kenapa bisa terjadi seperti itu?

Oleh karena itu, pengemban dakwah harus faham terhadap sampainya hidayah Allah pada seseorang. Hidayah merasuk pada "qalbu" seseorang itu merupakan hak prerogatif Allah SWT. Maka, Da'i senantiasa harus munajat pada Allah, agar Allah membukakan tabir penghalang bagi hati seseorang.

Di sisi lain, berdasarkan sebagian pengalaman pendakwah, ada sedikit tabir  penghalang terhadap penerimaan kebenaran seseorang yang seharusnya tidak bisa ditolaknya. Penghalang itu adalah kesombongan, dan ketidaktawaduan seorang pendakwah. 

Padahal Allah SWT memerintahkan pada pengemban dakwah untuk memiliki sifat tawaduk pada mad'u:

(وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ)

"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat,dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutiku. (Surat Ash-Shu'ara 214-215)"

Mufassir menafsirkan ayat ini dengan:

وأَلِنْ جانبك وكلامك تواضعًا ورحمة لمن ظهر لك منه إجابة دعوتك.
"dan lembutkanlah sisimu (fisikmu), dan pembicaraanmu dengan tawaduk dan rahmat terhadap orang yg telah nampak menerima dakwahmu". (Tafsir Muyassar)

Muhammad Rawwas Qal'ahjii mendefinisikan tawaduk 

تواضع هو ضد التكبر, الانخفاض. 
أن يرى المرء نفسه دون غيره فى صفة الكمال

"Tawaduk adalah lawan Takabbur (kesombongan), kerendahan diri. ketawaduan itu sesorang yang memandang pada dirinya tidak mencapai sifat kesempurnaan tanpa lainnya. (Qal'ahjii, Muhammad rawwas: Mu'jam lughoh lifuqoha': 130)"

Sedangkan, Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad menjelaskan tanda seorang memiliki sifat tawaduk sebagai berikut:

  فمن أمارات التواضع حبُّ الخمول وكراهية الشهرة وقبول الحق ممن جاء به من شريف أو وضيع. ومنها محبة الفقراء ومخالطتهم ومجالستهم. ومنها كمال القيام بحقوق الإخوان حسب الإمكان مع شكر من قام منهم بحقه وعذرمن قصَّر.

  “Tanda-tanda orang Tawaduk antara lain, adalah lebih senang tidak dikenal daripada menjadi orang terkenal; bersedia menerima kebenaran dari siapa pun asalnya baik dari kalangan orang terpandang maupun dari kalangan orang yang rendah kedudukannya; mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan duduk bersama mereka; bersedia mengurusi dan menunaikan kepentingan orang lain dengan sebaik mungkin; berterima kasih kepada orang-orang yang telah menunaikan hak yang dibebankan atas mereka, sementara memaafkan mereka yang melalaikannya.  (al-hadad, sayyid Abdullah bin Alawi: Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah, halaman 148-149)"

Ketawaduan seorang pengemban dakwah yang ditampakkan dari sisi postur tubuh dan perkataannya akan membuahkan akhlak yang mulia, kecintaan (mahabbah), kehormatan, kecenderungan penerimaan dari mad'u (objek dakwah). Hal ini dinyatakan oleh imam Asy-Syafii:

قال الشافعي رحمه الله: التواضع من أخلاق الكرام , والتكبّر من شيم اللئام . التواضع يورث المحبة , والقناعة تورث الر

احة .

"Imam Asy-Syafii rh.: Tawaduk itu akhlak mulia, Takabbur (sombong) itu akhlak tercela. Tawaduk mewariskan kecintaan, kana'ah mewariskan kenyamanan. (al-kalimu ath-thayyibu)

Jadi, ketawaduan yang dimiliki oleh pengemban dakwah (hamlud dakwah) akan meniti kebaikan dalam dakwah. Sehingga mendorong lebih kuat bagi mad'u (objek dakwah) untuk menerimanya, atau minimal menghargai ide dakwah. Allahu A'lam bi ash-shawab.

—————————————
Sumber : Muslimah News ID 
banner zoom