-->

2020 ; MENUJU UMAT MULIA DAN SEJAHTERA DI BAWAH NAUNGAN KHILAFAH

Oleh : Zahida Arrosyida

Umat Islam hari ini masih menjadi umat yang tidak berdaya, tidak berwibawa dan tidak diperhitungkan diantara negara-negara di dunia. Lihatlah bagaimana umat Islam selalu menjadi bulan-bulanan, seperti hidangan yang siap disantap oleh musuh-musuh. Cina membasmi etnis muslim Uighur, Myanmar membasmi etnis muslim Rohingya, Israel membasmi etnis muslim Palestina. Rusia membasmi etnis muslim Tatar, India membasmi etnis muslim Bengal dan Kashmir. Dalam hal ini umat Islam selalu jadi objek utama perbincangan seputar isu terorisme dan radikalisme. Bagaimana mungkin umat yang selalu diserang dikatakan sebagai pelaku terorisme dan radikalisme?

Kapitalisme yang melingkupi banyak negeri di dunia telah mempertontonkan berbagai tragedi kemanusiaan yang sungguh mengusik naluri dan akal sehat. Dalam genggaman kapitalisme manusia merana, dunia gelap tanpa cahaya. Manusia menyembah berhala moderen. Mereka hidup tanpa moral layaknya binatang ternak. Darah dengan mudah tertumpah. Harta dirampas sekelompok pemodal. Kemiskinan merajalela. Hukum dan keadilan raib pada rakyat jelata. Selaksa persoalan itu menumpuk tanpa pernah terselesaikan. 

Penerapan sistem kapitalisme telah menyingkirkan negara dari aktifitas ekonomi, termasuk dalam penglolaan kekayaan negara. Kekayaan alam dikuasai korporasi, terutama asing dan aseng. Merekalah penikmat paling besar kekayaan negeri ini. Sebaliknya rakyat yang menjadi pemilik sah kekayaan alam negeri tidak mendapatkan bagian kecuali amat sedikit.

Demokrasi yang dipropagandakan sebagai sistem pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat ternyata justru menjadi alat legitimasi untuk menyengsarakan rakyat. Dalam demokrasi rakyat memang dilibatkan. Namun hanya saat pemilu tiba. Setelah suara didapatkan dan kekuasaan sudah ditangan, urusan dengan rakyat dianggap selesai. Tak masalah bagi pejabat yang berkuasa untuk membuat undang-undang akan mengkhianati amanat dan janji-janji pada  rakyat. Tak peduli kebijakan yang mereka buat menjadikan rakyat lebih menderita.
Maka dari itu demokrasi sesungguhnya adalah alat bagi para penguasa yang berkolaborasi dengan para kapitalis untuk menguasai negara dan aset-asetnya bukan untuk kepentingan rakyat. Bahkan demokrasi juga menjadi pintu masuk bagi penjajahan dan kepentingan asing. Negara-negara penjajah itu mendesakkan regulasi tertentu yang menguntungkan mereka lewat UU yang dibuat DPR. Ironisnya semua itu dilakukan atas nama rakyat.
 
Banyak kriminalitas seksual yang terjadi. Saat aturan hubungan laki-laki dan perempuan di lingkup publik diarahkan Islam untuk bermuamalah dan bekerjasama dilanggar, diganti dengan pandangan naluri seksual. Tidak sedikit rumah tangga menjadi retak bahkan berujung perceraian.

Belum lagi pengaruh media massa dan media sosial yang terus merangsang naluri seks, semuanya dalam genggaman tangan hingga masuk ke jantung keluarga kita.

Carut marut dunia pendidikan menambah daftar tragedi. Dunia pendidikan moderen saat inj merupakan bukti kenyataan sistem yang tidak mampu memberikan manfaat kesejahteraan bagi hidup umat. Pendidikan sekuler telah memberikan pengetahuan dan ilmu tapi gagal dalam membentuk kepribadian Islam siswa dan kader-kader yang dibutuhkan umat. Pendidikan telah mencetak mereka menjadi manusia yang sekuler dan apolitis. Ilmu yang dimiliki digunakan untuk melakukan "kejahatan intelektual" bukan lagi agar memberikan kontribusi bagi kebangkitan & kejayaan umat.

Akar masalahnya adalah karena tidak berhukum pada Syariat Allah. Kita telah meninggalkan Syariat Allah dalam semua aspek kehidupan.

Kapitalisme, sekulerisme dan demokrasi telah menyingkirkan hak prerogatif Allah untuk di mengatur manusia, mahkluk yang telah diciptakan-Nya. Demokrasi menjadi berhala baru yang diagung-agungkan. Standar kebenaran, baik-buruk,terpuji-tercela bukan lagi syariat Allah. Demokrasi telah merubah mindset manusia bahwa kebenaran ada pada suara mayoritas, yang berhak membuat hukum adalah manusia, dan suara rakyat adalah suara Tuhan.

Kapitalisme, sekulerisme demokrasi telah menghasilkan banyak kerusakan, kesengsaraan, menjauhkan manusia dari fitrah& memandulkan akal manusia. Menghasilkan berbagai kerusakan, kedzaliman dan menggerus nilai-nilai kemanusiaan.

Sesungguhnya Allah telah memberikan penjelasan kepada manusia tentang solusi untuk keluar dari persoalan yang membelit kehidupannya.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
 بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
(QS: Ar Ruum : 41).

Ayat ini menegaskan bahwa pangkal penyebab terjadinya kerusakan adalah "bima kasabat aydi an-nas" (disebabkan oleh perbuatan manusia). Ibnu Katsir, al-Alusi, Ibnu Taimiyah, Abu Hayyan dan para mufassir lain sepakat, maknanya adalah berbagai kemaksiatan dan dosa. Di akhir ayat juga ditegaskan bahwa terjadinya kerusakan itu agar membuat manusia sadar dan segera bertaubat, kembali pada Syariat Allah.

Agar syariah bisa diterapkan secara kaffah maka mewujudkan Khilafah menjadi keniscayaan. Sebab hanya Khilafah sistem pemerintahan yang kompatibel menerapkan Islam. Tidak mungkin Islam kaffah diterapkan dalam wadah demokrasi. Bukankah kita tidak mungkin menempatkan sesuatu yang tidak pada habitat aslinya? Penerapan Islam dalam sistem pemerintahan selain Islam justru akan menjadikan Islam sebagai sesuatu yang utopis bahkan menakutkan.

Khilafah beserta syariah yang diterapkan dapat mewujudkan kehidupan umat yang mulia, bermartabat, makmur dan sejahtera. Meskipun demikian bukan itu yang menjadi landasan dan motivasi untuk memperjuangkan tegaknya penerapan Islam. Perjuangan itu wajib dilandasi oleh dorongan keimanan dan niat memenuhi seruan Allah.

Kesejahteraan hidup di bawah naungan Khilafah diberitakan Rasulullah dalam sabdanya : " Akan ada pada akhir umatku seorang Khalifah yang memberikan harta secara berlimpah dan tidak terhitung banyaknya. ( HR Muslim).

Selayaklah keimanan terhadap panggilan Allah dan janji Allah bagi para pejuang yang memperjuangkan Khilafah dan Syariah ini menjadikan kita untuk bersegara mengokohkan resolusi di tahun 2020 menuju umat mulia dan sejahtera dengan Khilafah.

Wallahu a'lam.