-->

Bullying Lagi! Ada Apa Dengan Pendidikan Di Negara Kita?


Oleh : Maulli Azzura 

Dua anak di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang diduga melakukan perundungan (bullying) dan menyebabkan adik kelas mereka meninggal dunia, tidak ditahan di rumah tahanan.

Penanganan hukum terhadap keduanya dilakukan secara khusus mengingat usia mereka masih di bawah 12 tahun.

"Berdasarkan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA), kami baru bisa membuktikan untuk dua anak, yang dalam penanganannya karena usianya masih di bawah 12 tahun," kata Wakapolres Pemalang, Kompol Eddy Purnama.

Keduanya ditetapkan sebagai anak berhadapan dengan hukum (ABH) dan kini dititipkan di Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (LPKS). (BBC news Indonesia 5/10/2026)

Ketika sekolah seharusnya menjadi tempat anak belajar dan tumbuh dengan aman, mengapa justru perundungan masih terus terjadi?.

Kabar duka kembali datang dari dunia pendidikan.

Seorang siswa SD di Pemalang, Jawa Tengah. Keluarga korban menyampaikan adanya dugaan penganiayaan oleh kakak kelas. Polisi kini masih melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, termasuk keluarga, pihak sekolah, dan teman korban.

Pertanyaannya. Mengapa bullying bisa terjadi berulang kali di lingkungan pendidikan?.

Apakah pendidikan kita terlalu fokus pada nilai akademik, tetapi kurang memberikan perhatian pada pembentukan karakter dan akhlak?. Di mana peran keluarga, guru, sekolah, masyarakat, dan negara dalam melindungi anak?.

Apakah sistem pendidikan kita sudah benar-benar menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman bagi setiap anak?. Dan yang lebih mendasar, Bagaimana Islam Memandang Pendidikan?.

Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana seorang anak menjadi pintar tetapi juga bagaimana ia menjadi manusia yang beriman, berakhlak, bertanggung jawab, dan menghormati sesama.

Al-Qur'an dengan tegas melarang perilaku merendahkan, mencela, dan memberikan julukan buruk kepada orang lain dalam QS. Al-Hujurat ayat 11. 


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰى اَنْ يَكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِسَآءٍ عَسٰى اَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْأَلْقَابِۚ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْإِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

Nilai ini menjadi salah satu dasar penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan.

Dalam perspektif Islam, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu.

Pendidikan adalah proses membentuk kepribadian manusia. 

Anak tidak cukup hanya diajarkan membaca dan berhitung mengejar prestasi mendapatkan nilai tinggi.

Tetapi juga harus dibentuk menjadi pribadi yang memiliki kasih sayang menghormati orang lain memahami keadilan memiliki kesadaran kepada Allah mampu membedakan benar dan salah bertanggung jawab atas setiap perbuatannya .Sebab anak adalah amanah.

Ketika pendidikan kehilangan ruh akhlak, apakah kita sedang mencetak manusia yang berilmu atau hanya manusia yang memiliki pengetahuan tetapi kehilangan kepedulian?.

Wallahu A'lam Bishowab