-->

Antara Mindfulness dan Empati, Menyikapi Berita Buruk dalam Pandangan Islam


Oleh : Shaznia Kusuma Wardhani, Aktivis Muslimah

Dalam video YouTube milik Maudy Ayunda berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News” yang diunggah pada Agustus 2026, ia membahas rasa kewalahan (overwhelmed) secara mental akibat terus-menerus dibombardir berita buruk (bad news), baik terkait isu global maupun kondisi lokal di Indonesia.

Maudy membagikan pengalaman pribadinya yang sempat merasa marah, menangis, hingga tidak berdaya (hopeless). Solusi yang ditawarkannya adalah menerapkan mindfulness, membatasi atau memfilter konsumsi berita (diet berita), serta mengatur respons emosional agar kesehatan mental tetap terjaga. Lalu, mengapa pernyataan Maudy Ayunda sampai menuai kritik dari netizen?

Mengapa Maudy Dikritik?

Poin-poin utama yang menjadi sorotan netizen antara lain: Pertama, dianggap tone deaf. Netizen menilai ajakan Maudy untuk membatasi atau mencerna berita buruk menunjukkan ketidakpekaan terhadap realitas sosial. Bagi masyarakat awam, isu seperti kondisi ekonomi, krisis lapangan kerja, hingga kebijakan publik bukan sekadar “berita buruk” yang bisa diabaikan melalui mindfulness, melainkan realitas hidup yang berdampak langsung setiap hari.

Kedua, sorotan terhadap privilese dan dianggap “bermain aman”. Sebagai lulusan perguruan tinggi ternama dan public figure dengan ribuan pengikut, Maudy diharapkan menggunakan panggung besarnya untuk bersuara atau memvalidasi keresahan publik. Keinginannya untuk rehat dari berita buruk dinilai sebagian netizen lahir dari posisi kehidupan yang relatif nyaman.

Ketiga, respons publik. Gelombang kritik ramai bermunculan di platform X dan Threads. Sebagian netizen mengaku memutuskan untuk unsubscribe atau cancel karena merasa sang aktris tidak lagi peka terhadap isu-isu di tingkat akar rumput (grassroots).

Di sisi lain, sebagian warganet membela bahwa pesan Maudy murni membahas coping mechanism atau mekanisme untuk menghadapi tekanan psikologis agar tidak mengalami kelelahan mental akibat doomscrolling, bukan mengajak masyarakat untuk bersikap apatis terhadap persoalan sosial.

Maudy sendiri telah menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang timbul. Ia mengakui bahwa kemampuan untuk melangkah mundur atau rehat dari berita merupakan sebuah privilese yang tidak dimiliki semua orang. Ia juga menyampaikan komitmen untuk lebih banyak belajar dan mendengarkan masukan publik.

Relate atau Tidak?

Lalu, apakah pernyataan tersebut relate dengan realitas lingkungan sekitar saat ini, termasuk di Indonesia? Sebenarnya, hal tersebut sangat bergantung pada sudut pandang, kelas sosial, dan posisi seseorang dalam masyarakat. Hal inilah yang kemudian memicu perdebatan di kalangan netizen.

Bagi sebagian masyarakat menengah ke atas atau pekerja profesional yang mengalami middle-class burnout, solusi yang disampaikan Maudy dapat dianggap relate. Secara psikologis, bahaya doomscrolling, yaitu terus-menerus membaca berita negatif hingga memicu kecemasan, memang menjadi persoalan tersendiri.

Bagi pekerja kelas menengah atau profesional yang terpapar arus informasi 24 jam sehari melalui media sosial, mengambil jeda dari berita buruk dapat menjadi salah satu coping mechanism untuk menjaga kondisi psikologis dan produktivitas.

Namun, bagi masyarakat akar rumput, persoalannya bisa berbeda. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, hal-hal yang disebut sebagai “berita buruk” seperti lonjakan harga bahan pokok, gelombang PHK, kenaikan pajak, krisis air bersih, hingga kebijakan publik yang berdampak pada kehidupan mereka bukan sekadar informasi di layar ponsel. Semua itu merupakan realitas hidup sehari-hari atau bad reality.

Masyarakat yang mengalami langsung dampak persoalan tersebut tidak selalu dapat memilih untuk “mematikan berita” atau sekadar melakukan mindfulness agar masalah selesai. Dampaknya langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pada kondisi dapur dan dompet mereka.

Karena itu, menjauh dari berita dapat dipandang sebagai sebuah privilese yang lebih mudah dilakukan oleh orang-orang dengan kondisi finansial dan kehidupan yang relatif stabil.

Bagaimana Islam Memandangnya?

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, persoalan tersebut tentu dapat dilihat dari sudut pandang Islam. Bagaimana seorang Muslim seharusnya menghadapi derasnya berita buruk, menjaga kondisi dirinya, tetapi tetap memiliki kepedulian terhadap realitas sosial?

Islam memberikan panduan yang menyeluruh terkait cara menyikapi informasi, menjaga diri, dan tetap peduli terhadap kondisi sesama. Pertama, tabayyun dan menyaring informasi. Menerima rentetan berita buruk melalui media sosial dapat memicu kecemasan. Terlebih, tidak semua informasi yang beredar akurat atau objektif. Karena itu, Islam memerintahkan umatnya untuk menyaring dan memastikan kebenaran informasi agar tidak terjebak dalam prasangka, kecemasan, maupun fitnah.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kecerobohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar” (HR Muslim dari Abu Hurairah). Dengan demikian, seorang Muslim tidak harus menelan seluruh informasi yang masuk. Ada kewajiban untuk melakukan tabayyun, memilih informasi yang benar, dan tidak membiarkan diri terus-menerus dibebani oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.

Kedua, menjaga jiwa dan mengelola diri. Mengambil jeda dari hiruk-pikuk berita buruk untuk mengurangi kecemasan pada dasarnya dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga diri. Dalam kerangka maqashid syariah, terdapat prinsip hifzh an-nafs, yaitu menjaga jiwa.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS al-Baqarah: 195).

Islam juga mengajarkan doa ketika seseorang menghadapi kesedihan dan kegelisahan. Rasulullah ﷺ mengajarkan: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu laki-laki dan anak hamba-Mu perempuan. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Ketetapan-Mu berlaku atas diriku dan keputusan-Mu adil terhadapku. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu ... agar Engkau menjadikan Al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghapus kegelisahanku” (HR Ahmad).

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa kesedihan dan kegelisahan (al-hamm wal-hazan) merupakan beban yang perlu dihadapi dan diobati, bukan dibiarkan menumpuk.

Ketiga, tetap peduli dan tidak apatis. Di sisi lain, Islam tidak mengajarkan sikap apatis atau tidak peduli terhadap kesulitan yang dialami orang lain. Jika seseorang memutus seluruh perhatian terhadap kondisi publik hanya karena tidak ingin merasa terganggu, sikap tersebut dapat berseberangan dengan semangat kepedulian sosial dan amar ma'ruf nahi munkar.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman” (HR Muslim).

Islam juga mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh akan ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur” (HR Bukhari dan Muslim). Artinya, seorang Muslim boleh menjaga dirinya dari paparan informasi yang berlebihan, tetapi bukan berarti mematikan kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

Keempat, menyeimbangkan ikhtiar dan tawakal. Dalam Islam, menghadapi tekanan hidup, baik karena kondisi ekonomi maupun kelelahan emosional, bukan sekadar dengan pasrah atau menghindar. Islam mengajarkan perpaduan antara ikhtiar dan tawakal.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS ar-Ra'd: 11).

Karena itu, menghadapi berita buruk tidak cukup hanya dengan mengatur emosi pribadi. Ada pula dorongan untuk melakukan perubahan sesuai kemampuan dan posisi masing-masing.

Rehat, tetapi Tidak Apatis
Secara garis besar, pandangan Islam dapat menjembatani dua perspektif tersebut. Pertama, seseorang boleh mengambil jeda apabila paparan informasi yang berlebihan mulai mengganggu kondisi dirinya. Menjaga kestabilan diri merupakan bagian dari menjaga amanah yang diberikan Allah.

Kedua, rehat tidak semestinya berubah menjadi sikap lepas tangan atau apatis. Rehat dapat menjadi sarana untuk memulihkan energi, bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab sosial.

Ketiga, bagi orang-orang yang memiliki privilese berupa harta, panggung, pengaruh, atau akses yang lebih luas, semua itu semestinya dimanfaatkan untuk kebaikan. Kepedulian dapat diwujudkan dengan membantu sesama, menyampaikan suara mereka, memberikan solusi, maupun bersedekah.

Dengan demikian, Islam tidak mengajarkan seseorang untuk terus-menerus membebani dirinya dengan seluruh berita buruk yang ada. Islam juga tidak membenarkan seseorang menutup mata terhadap penderitaan di sekitarnya.

Seorang Muslim perlu menyaring informasi, menjaga dirinya, mengambil jeda ketika diperlukan, tetapi tetap memiliki empati dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat. Ketenangan diri tidak seharusnya menjadi alasan untuk kehilangan kepedulian sosial.[]