-->

TEPATKAH ADA ISLAM VERSI TERTENTU?


Oleh : Ummu Qithath
(Ibu Peduli Umat)

Heboh buku “Islam Ala Prabowo” akhir-akhir ini. Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam kembali ramai dibicarakan pada September 2026. Selain judulnya yang memancing perdebatan di media sosial, warganet mulai mencari versi PDF, daftar penulis, hingga mempertanyakan keterlibatan sejumlah ulama seperti Gus Kautsar dan lembaga seperti Majelis Ulama Indonesia (www.jogjasuaramerdeka.com, Kamis 7 September 2026) (1). Buku tersebut sebenarnya bukan terbitan baru. Peluncurannya berlangsung dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Badan Amil Zakat Nasional di Jakarta pada 26 Agustus 2025. ANTARA mencatat penulisan buku itu diinisiasi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Ahmad Muzani bersama Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Anwar Iskandar. Karena itu, keterlibatan Majelis Ulama Indonesia memang ada dalam proses kelahiran dan peluncuran buku, terutama melalui KH Anwar Iskandar.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan karya 21 penulis yang merupakan tokoh agama, akademisi, diplomat dan politisi; tapi belakangan beberapa tokoh yang namanya tercantum sebagai penulis malah merasa tidak menulis untuk buku tersebut. Sebetulnya buku ini sudah lama terbit. Diluncurkan pada tanggal 26 Agustus 2025 pada saat Rapat Koordinasi Nasional Baznas di Jakarta, MUI dan Baznas. Banyak pihak menilai pilihan frasa dari judul besar buku ini. Frasa ‘Islam ala Prabowo’ terlalu berlebihan. Ternyata buku ini bukan hasil tulisan Prabowo sendiri, tapi merupakan kumpulan ulasan seputar ‘keislaman’ Presiden Prabowo Subianto dari masa kehidupan pribadi, karier militer hingga kepemimpinannya sebagai kepala negara.

Tepatkah Islam memiliki versi berdasarkan nama seorang penguasa? Apalagi penguasa di negeri sekuler? Pada jejak kejayaan peradaban Islam, kita mengenal pemimpin yang luar biasa amanahnya Khalifah Umar bin al-Khaththab, pahlawan Islam yang heroik Shalahuddin al-Ayyubi atau Khalifah muda hebat Muhammad al-Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel. Tapi tak pernah ada istilah “Islam ala Umar” atau “Islam ala Shalahuddin” atau "Islam ala Muhammad al-Fatih"; padahal kurang hebat apa mereka? Sangat jauh berbeda dengan para penguasa sekuler saat ini. Apakah Islam menjadi standar untuk menilai penguasa atau malah penguasa dijadikan standar untuk menjelaskan Islam?

Islam hanya boleh dijelaskan berdasarkan wahyu Allah SWT, berdasarkan sumber-sumbernya yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Tidak boleh menjadikan perilaku individu muslim sebagai standar untuk menilai Islam, karena mereka walaupun seorang pemimpin atau ulama sekalipun, bisa saja melakukan kesalahan. Sedangkan Islam itu sempurna dan tidak akan pernah berubah. Ini mengacu pada firman-Nya :
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku untuk kalian dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian” (Terjemah Al-Quran Surat Al-Maidah [5]: 3). 

Kesempurnaan Islam berasal dari Allah SWT. Karena itu setiap penyimpangan perilaku seorang Muslim harus dipahami sebagai penyimpangan dari ajaran Islam, bukan malah dianggap perwujudan dari Islam. Islam harus didudukkan dengan benar sesuai kehendak Allah, tidak boleh ada personifikasi Islam (menganggap wajar Islam ditafsirkan oleh tiap orang sesuai hawa nafsunya; karena tidak semua orang punya kemampuan untuk menafsirkan Al-Qur’an kecuali ahli tafsir). Semua orang, baik pejabat maupun rakyat biasa, berkedudukan sama sebagai hamba Allah SWT yang wajib tunduk pada syariah Islam. Bukan sebaliknya, orang menjadi penentu isi syariah Islam. Islam tidak boleh ditundukkan untuk kepentingan manusia. Sebaliknya, manusia wajib tunduk pada Islam. Ini mengacu pada firman-Nya : 
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul-Nya (as-Sunnah) jika kalian benar-benar mengimani Allah dan Hari Akhir. Yang demikian lebih utama dan lebih baik akibatnya (bagi kalian)” (TQS an-Nisa' [4]: 59). 

Islam tidak butuh legitimasi (pengesahan) dari figur mana pun untuk membuktikan kebenarannya, walau dia seorang penguasa sekalipun. Sebaliknya, setiap muslim, termasuk penguasa, justru akan memdapat kemuliaannya saat ia menyesuaikan pikiran, ucapan dan tindakannya dengan ajaran Islam. Saat Islam ditafsirkan orang perorangan, apalagi demi kepentingan politik, maka hanya demi pencitraan dan kepentingan tertentu; yang justru menjauhkan dari Islam itu sendiri. Islam mengajarkan kepada kaum Muslim agar beragama atau berislam dengan hanya mengikuti Rasulullah saw sebagai satu-satunya teladan dalam berIslam. Sesuai dengan firman-Nya :
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak mengingat Allah (TQS al-Ahzab [33]: 21).

Rasulullah Muhammad mengajarkan bahwa kepemimpinan harus sesuai syariat. Demikianlah perintah-Nya :
“Kemudian Kami menjadikan kamu berada di atas suatu syariah dari urusan (agama itu). Karena itu ikutilah syariah itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (TQS al-Jatsiyah [45]: 18).
Kepemimpinan yang ada hanya untuk menjalankan Islam secara menyeluruh (kafah), yang hanya bisa diwujudkan dalam system pemerintahan khas Islam yaitu Khilafah. Seperti yang Beliau contohkan saat hijrah ke Madinah, Beliau mendirikan Daulah (negara) Islam untuk menerapkan Islam secara kafah dan dilanjutkan oleh para Khalifah-Khalifah setelahnya. Ini merujuk pada firman-Nya :
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh kalian yang sangat nyata.” (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Dengan penerapan secara kafah, maka berbagai keberkahan akan turun dari langit dan bumi. Ini mengacu pada firman-Nya :
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka tersebut (TQS al-A’raf [7]: 96). 
Inilah Islam ala Rasulullah yang harus kita ambil.

Wallahualam Bisawab

Catatan Kaki :
(1) https://jogja.suaramerdeka.com/gaya-hidup/1817602363/link-download-islam-ala-prabowo-pdf-isinya-apa-dan-penulisnya-siapa-saja-apakah-benar-ada-gus-kautsar-hingga-mui