-->

KRITIK ULAMA PADA PENGUASA ITU WAJIB


Oleh : Ummu Qithath 
(Ibu Peduli Umat)

Viral pidato dari pondok pesantren Gontor. Pidato tersebut adalah pidato Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal. Pidato ini disampaikan di hadapan Presiden Prabowo dalam peringatan 100 tahun Gontor, saat Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026) (www.akurat.com, Selasa 22 September 2026) (1).

Pidato Kiai Hasan salah satunya menyinggung fenomena “cari muka” hingga “cari jabatan”. Beliau juga menegaskan prinsip kesederhanaan yang dilakukannya selama memimpin pesantren; yang jika makanan, pakaian, kendaraan, atau rumahnya melebihi apa yang dimiliki para santri, maka dirinya boleh diprotes, dikritik bahkan didemo. Yang menjadi poin pentingnya adalah penjelasan tentang prinsip kepemimpinan secara umum dalam Islam yang tidak menutup pintu kritik dan peran strategis ulama sebagai penyampai kritik.

Dalam Islam, kekuasaan adalah amanah yang dititipkan Allah SWT pada penguasa. Sedangkan penguasa adalah manusia biasa, tempat salah dan khilaf; sehingga wajar harus selalu dinasihati dan dikoreksi. Ini juga dinasihatkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ra pada pidato awal menjadi seorang Khalifah, beliau tegas menyampaikan:
“Jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku berbuat buruk, luruskanlah aku (M. Husain Haikal, Hayaah Muhammad saw., 1/97)”

Ulama juga bukan stempel kekuasaan’ sehingga tidak selalu membenarkan seluruh kebijakan penguasa tanpa pemeriksaan. Karena kemuliaan ulama terletak pada keluasan ilmu Islamnya, ketakwaannya, dan selalu menyampaikan kebenaran; terutama di hadapan penguasa. Saat penguasa terbukti menyimpang, ulama menjadi garda terdepan untuk mengoreksi dan meluruskan penguasa tersebut. Karena dakwah menyampaikan kebenaran Islam adalah kewajiban bagi tiap muslim, terutama ulama. Ini mengacu pada firman-Nya “
“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Terjemah Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran [3]: 104).

Semua muslim wajib dinasihati tentang agama, terutama Penguasa. Karena Penguasa yang keliru dalam menetapkan kebijakannya untuk rakyat, akan berefek secara luas terhadap kehidupan rakyat pula. Ini mengacu pada sabda Nabi :
“Agama adalah nasihat.” Para Sahabat bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab : “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslim dan seluruh kaum Muslim.” (HR Muslim).

Nasihat dan dakwah Islam pun wajib disampaikan sesuai kemampuan yang dimiliki. Jika memiliki kekuasaan, manfaatkan kekuasaan itu untuk melakukan dakwah. Jika tidak ada kekuasaan, masih bisa menyampaikan dakwah secara lisan. Sedangkan jika tidak percaya diri menyampaikan dakwah secara lisan, paling tidak hatinya menolak, tapi ini adalah selemah-lemahnya iman. Ini sesuai sabda Nabi saw :
“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya. Yang demikian adalah selemah-lemahnya iman (HR Muslim).

Nasihat dan dakwah pada penguasa adalah jihad yang paling utama. Karena kebijakan dan tingkah laku penguasa sangat mempengaruhi kehidupan rakyatnya. Rasulullah menyampaikan dalam hadisnya :
“Jihad yang paling utama adalah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim” (HR Ahmad).

Para ulama dan umat Islam di masa kejayaan Kekhilafahan Islam telah memberikan teladan yang luar biasa tentang mengkritisi penguasa ini. Walau system Khilafah telah menerapkan syariat Islam secara totalitas, tapi Khalifah tetaplah manusia yang wajar berbuat khilaf, sehingga mekanisme control terhadap Khalifah dengan mendakwahinya harus terus berjalan.

Salah satu keteladanan seorang rakyat yang berani menasihati Khalifah adalah kisah tentang seorang perempuan muslimah yang mengoreksi kebijakan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra mengenai pembatasan mahar yang ia pandang keliru (Al-Qurthubi, Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, 5/95; tafsir QS an-Nisa [4]: 20).

Juga kisah Imam Hasan al-Bashri, seorang ulama yang begitu besar rasa takutnya kepada Allah SWT tapi tak takut pada penguasa lalim. Beliau berani menentang Hajaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, penguasa Irak yang lalim pada zamannya. Beliau menyampaikan keburukan perilaku penguasa tersebut di hadapan rakyat dan menasehatiinya secara langsung. Ucapannya yang sangat terkenal :
"Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari para ulama untuk menjelaskan ilmu yang mereka miliki kepada manusia dan tidak menyembunyikan ilmu mereka." 

Ada pula ulama Sufyan ats-Tsauri yang sangat takut pada Allah dan berani menyampaikan nasihat pada penguasa yang keliru. Beliau pernah menentang penguasa Abu Ja'far al-Manshur untuk mendanai dirinya dan para pengikutnya dalam rangka beribadah haji ke Baitul-Haram dalam jumlah yang sangat besar, karena dana tersebut diambil dari Baitul Mal milik kaum Muslim. 

Ada pula kisah lain saat Khalifah Muawiyah hendak memulai pidatonya, tapi seorang ulama Abu Muslim al-Khaulani segera berdiri dan berkata bahwa ia tidak mau mendengar dan menaati Khalifah. Ketika ditanya alasannya oleh Khalifah, beliau menjawab :
“Karena engkau telah berani memutuskan bantuan kepada kaum Muslim. Padahal harta itu bukan hasil keringatmu dan bukan harta ayah-ibumu.” (Lihat: Al-Badri, Al-Islaam bayna al-‘Ulamaa' wa al-Hukkaam, hlm. 101).

Kisah-kisah di atas adalah keteladanan para ulama di masa kejayaan Khilafah Islam yang mempunyai keberanian untuk melakukan dakwah dan menyampaikan nasihat di hadapan penguasa. Ulama dan penguasa harus bersinergi berdasarkan ketakwaan dan tanggung jawab, karena ulama bukan stempel pembenaran kebijakan penguasa. Penguasa butuh ulama untuk menyampaikan kebenaran agar tidak melenceng dari syariat saat menetapkan kebijakan, sedangkan ulama butuh ruang untuk menasihati penguasa secara bebas tanpa tekanan dari system serta penguasa yang ada. Keduanya sama-sama mencari rida Allah SWT, karena amanah kekuasaan dan amanah ilmu sama-sama akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. 

Imam al-Ghazali telah memperingatkan adanya rusaknya hubungan antara penguasa dengan kerusakan ulama, yaitu saat para ulama telah dikuasai kecintaan terhadap harta dan kedudukan sehingga tidak lagi berani melakukan koreksi terhadap penguasa. Beliau menyatakan:
“Kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasa. Kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan para ulama. Kerusakan ulama terjadi ketika mereka dikuasai oleh kecintaan terhadap harta dan kedudukan” (Al-Ghazali, Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin, 2/357). 

Maka ulama harus menjadi teladan terdepan dalam membela kebenaran Islam. Ulama harus dikembalikan kje khiththahnya (posisinya) semula, yaitu sumber ilmu Islam dan penasihat terdepan bagi umat Islam, terutama bagi para penguasa yang posisinya sangat strategis dalam menentukan corak rakyat, menjadi rakyat yang bertakwa atau malah justru bergelimang maksiat. Karena Allah berfirman :
“Siapa saja yang tidak berhukum menurut wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim” (Terjemah Al-Qur’an surat Al-Ma'idah [5]: 45).
“...Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah para ulama... “ (Terjemah Al-Qur’an surat Fathir [35]: 28). 
Wallahualam Bisawab

Catatan Kaki :
(1) https://www.akurat.co/hikmah/892661/isi-pidato-lengkap-kh-hasan-abdullah-sahal-di-depan-prabowo-yang-viral