-->

Keracunan MBG Selalu Terulang, Sistem Islam Solusi Tuntas


Oleh : Ummu Fadilah Aziz
(Ibu Rumah Tangga)

Surabaya, CNN Indonesia–Jumlah korban dugaan keracunan massal usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) di pondok Pesantren Manba'ul Hikam, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur kini mencapai 664 orang. Kemudian terjadi lagi kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa dan guru usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) mendapat perhatian serius dari Gubernur Sumbar, Mahyeldi. PADANG KOMPAS.com. Belum lagi di sejumlah daerah- daerah lainya yang kabarnya ada keracunan MBG lagi. Dari berita-berita di atas kami sangat sedih sekali, anak-anak yang sedang menuntut ilmu menjadi korban dari program unggulan pemerintah. Sehingga protes masyarakat tentang Makanan Bergizi Gratis semakin meluas. Banyak masyarakat yang menolak Makanan Bergizi Gratis (MBG). Dilansir dari BBC NEWS INDONESIA lebih dari 2000 orang sebagian besar anak-anak diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak Selasa (01/09) hingga Rabu (09/09). Ini sudah sangat tidak bisa diabaikan.

Kenapa Makan Bergizi Gratis Selalu Keracunan?

Pertama, adalah keracunan yang selalu berulang menandakan ada yang salah pada sistem. Makan Bergizi Gratis (MBG) ada aroma- aroma bisnis yang menjanjikan bagi para kapitalis. Sehingga dari SOP dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menimbulkan kualitas makanan, cara memasak dan serta pendistribusian tidak sesuai standar yang baik.

Kedua, adalah pengawasan yang lemah sehingga tidak terpantau dengan baik. Badan Gizi Nasional (BGN) seharusnya melakukan pengawasan yang super ketat dilapangan terkait pendistribusian Makan Bergizi Gratis ini. Tapi itu tidak dilakukan. Ada laporan terkait pembagian keuntungan antara yayasan dan pengelola. Inilah kenapa keracunan terjadi berulang-ulang karena mereka menjadikan program ini ladang bisnis. 
Dari sini kita bisa mengetahui Makan Bergizi Gratis (MBG) terindikasi korupsi. Dan akhirnya mengorbankan kualitas makanan dan lainnya. Dari pengawasan yang lemah tadi ada celah terjadinya kelalaian. BGN harus terus mengevaluasi ribuan dapur SPPG ini sebelum timbul korban lagi.
Apa yang sedang terjadi saat ini maraknya keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya adalah tata kelola yang bermasalah dari level bawah sampai keatas.

Padahal pemerintah mengatakan tujuan Makan Bergizi Gratis(MBG) adalah untuk menurunkan angka stunting dan malnutrisi tapi fakta dilapangan banyak anak-anak sekolah dari SD sampai SMA yang keracunan. Padahal mereka adalah generasi penerus yang harus kita jaga gizinya agar menjadi generasi sehat dan kuat.
Ketiga, tidak ada tindak pidana yang tegas. Kalau kita perhatikan pemerintah tidak menetapkan tersangka di tempat-tempat yang keracunan Makan Bergizi Gratis. 

Dilansir dari Warta Ekonomi, Jakarta -
Rentetan kasus gangguan kesehatan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memunculkan sorotan terhadap pola penanganannya. Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar menilai kasus yang terjadi berulang tidak cukup hanya diselesaikan dengan permintaan maaf atau sanksi administratif. Tapi sampai saat ini Ketua BGN belum melakukan tindak pidana. Mereka hanya menutup dapur SPPG saja tanpa menangkap pelakunya.

Kapitalisme Sistem Yang Mengorbankan Rakyat.

Fenomena maraknya keracunan massal yang terjadi. Menunjukan sistem kapitalis saat ini berorientasi pada bisnis dan keuntungan semata. Mereka tidak memikirkan dampaknya pada korban yang keracunan. Mereka tidak memberikan perlindungan yang nyata kepada para korban. Yang mereka lakukan hanya meminta maaf dan akan mengevaluasi. Tapi akhirnya solusinya juga cenderung mengkomersialisasi kejadian yang terjadi. Misalkan, BGN akan membeli cctv dan akan di taruh di dapur-dapur SPPG agar terpantau. Solusi ini membuka celah untuk bisa dikorupsi lagi. Lagi-lagi mereka benar-benar tidak serius dalam menanggulangi keracunan massal ini. Itulah kapitalisme yang hanya memikirkan keuntungan saja.
Dan anehnya sudah banyak korban tapi program ini tidak berhenti. Bahkan tidak boleh berhenti karena program ini adalah kontrak politik padahal sudah banyak memakan korban ribuan. Ini sudah kejadian luar biasa. 

Solusi Hanya Dengan Sistem Islam

Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab (wajib) untuk melindungi nyawa dan kesehatan rakyatnya. Ketika negara lalai akan menjadi dosa besar dan kegagalan dalam menjalankan amanah kepemimpinan. Rasulullah saw bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin (pengurus/pengembala) dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sanksi tegas diberlakukan bagi siapapun yang lalai dan membahayakan rakyat. Karena kewajiban negara adalah memberikan makanan yang halal dan thoyib.

Dalam Islam negara harus mengawasi kelayakan makanan dari mulai persiapan bahan baku, cara memasak, kebersihan tempat, distribusi, kemudian memastikan makanan benar-benar layak dikonsumsi. Dalam Islam pengawasan seperti ini adalah bentuk dari perintah Allah bukan sesuatu yang tujuannya mencari keuntungan. Masalah keracunan massal bisa diselesaikan hanya dengan sistem Islam yang didalamnya ada orang-orang yang amanah yang takut kepada Allah. Bukan sistem yang sedang berjalan saat ini yang orang-orang di dalamnya orang-orang yang tidak ada rasa takut kepada Allah.

Sudah kewajiban bagi kita untuk mewujudkan kembali sistem Islam. Sebagai umat Muhammad saw harus terus menyuarakan solusi untuk masalah-masalah yang terjadi disekitar kita yang membuat rakyat sengsara dan kesusahan akibat kebijakan yang lahir dari sistem kapitalis ini. Ayo umat Islam mari kita bergandengan tangan untuk mendakwahkan sistem Islam yang mampu menyelesaikan seluruh aspek kehidupan. 

Wallahu A'lam bishowab