Karhutla Satu Di Antara Agenda Rutin Dari Penguasa.
Karhutla Satu Di Antara Agenda Rutin Dari Penguasa.
Oleh : Sumarini
Kebakaran hutan terjadi lagi....
Ini untuk kesekian kalinya persoalan kebakaran hutan terus terjadi, musim kemarau dijadikan sebagai alasan dari sebab terjadi nya kebakaran. Meski telah dihimbau bahwa ketika suhu panas belum mencapai 170 - 200 derajat Celsius maka lahan gambut tidak akan terbakar, dan menurut data yang didapat suhu baru mencapai 150 derajat celcius ketika kebakaran terjadi kemarin.
KOMPAS.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus menjadi ancaman tahunan, terutama saat musim kemarau tiba.
Mirisnya, meski ancaman ini rutin datang, luas lahan yang hangus terbakar justru kian meluas.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total luas karhutla di Indonesia telah menembus 72.798 hektar, dengan Provinsi Kalimantan Barat sebagai wilayah terdampak terparah mencapai 38.310 hektar.
Pakar Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tatag Muttaqin, menegaskan bahwa pola berulang ini seharusnya menjadi landasan kuat bagi pemerintah untuk merancang strategi pencegahan yang lebih matang, kuat, dan terstruktur.
Ini seperti sebuah lingkaran setan yang terus berputar tiada henti dalam rangka melenyapkan hutan di negri kita ini. Bencana yang rutin tiada henti ini seperti sudah menjadi agenda yang mesti terjadi pelaksanaan nya sebab sudah menjadi program....
Program keji yang menghabisi seluruh isi alam, hutan habis terbakar belum lagi bagaimana kondisi ekosistem yang ada di dalam nya, seperti hewan hewan yang biasa hidup disana.Dan tidak hanya itu masyarakat yang ada di wilayah itu juga terdampak imbasnya...
Kabut asap muncul,serta kwalitas udara juga memburuk akibat dari hutan yang di bakar.
Hingga tertanggal 9 Agustus kemarin luas lahan terbakar untuk pulau Sumatera da kalimantan saja sudah tercatat sekitar 48.889,69 hektar luas nya.
Dan yang jadi pertanyaan dari seringnya ancaman yang datang terkait ancaman Karhutla, namun mengapa persoalan ini tidak ditangani secara serius...
Dari sini kita perlu menyadari bahwa ini bukanlah hal yang dianggap serius oleh mereka yang ada kaitannya dengan terbakar nya hutan. Sebab segala hal tentang masalah ini sudah dikondisikan perencanaan nya. Sampai disini... Stop kita tak perlu bertanya lagi ini ulah siapa...
Jelas oknum nya adalah mereka para penguasa bekerja sama dengan pengusaha...
Keserakahan sistem ini membuat Karhutla tidak dapat dilepaskan dari prinsip ekonomi kapitalis yang memandang lahan hutan sebagai komoditas yang dapat dan mesti dikuasai oleh segelintir mereka, dan memanfaatkan hutan dan lahan sebagai kepentingan bisnis.
Demikian sistem hari ini yang memandang segala sesuatu itu dan apapun itu jika dikelola harus ada keuntungan nya. Walaupun itu harus dengan cara merusak alam dan mengorbankan nyawa sekali pun..
Tak menjadi persoalan bagi sistem hari ini, sebab rakyat bukan lah yang utama, tetapi kepentingan segolongan orang dan juga pribadi itu yang di utamakan.
Dalam sistem kapitalis terbiasa menuntaskan permasalahan itu tidak dari akarnya, sebagai mana karhutla yang hanya ditindak secara reaktif teknis yaitu sebagai upaya pencegahan sementara. Bukan dengan pembenahan struktur penguasaan lahan sebagai akar masalah yang sebenarnya.
Sehingga permasalahan tidak pernah terselesaikan. Ujung- ujung nya karhutla tetap menjadi tamu yang datang rutin setiap tahunnya tanpa kita bisa cegah dan hanya bisa menyaksikan bagaimana hutan kita yg setiap saat habis dilalap orang orang kalaf.
Sungguh ini kezholiman yang luar biasa terhadap alam, lingkungan dan juga manusia bahkan seluruh mahluk hidup.
Ini semua adalah imbas dari abainya negeri ini terhadap kemaslahatan umat.
Kita dalam kondisi karhutla yang dilakukan oleh mereka justru lebih mendapatkan kerugian ekologis. Kabut asap lintas negara ditanggung oleh masyarakat publik blm lagi kualitas udara yang semakin buruk terus kita rasa kan hingga kondisi stabil dan itu butuh waktu yang cukup lama.
Sementara di sisi lain, mereka para pelaku karhutla justru tidak ditindak sesuai dengan tindakan yang mereka lakukan. Ada kerja sama dibalik semua ini, dan tidak ada yang lain kecuali hanya demi mendapatkan keuntungan, maka tak perlu adanya penindakan tegas untuk mereka si pelaku karhutla oleh negri ini.
Kepemimpinan hari ini sungguh jauh dari nilai ruhiyyah, bagaimana tidak sebab tegaknya kepemimpinan nya juga adalah sistem sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga jauh dari yang namanya dimensi ruhiyyah tadi.
Jabatan benar-benar tidak dipahami sebagai amanah yang harus diemban, yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban. Justru kekuasaan dan jabatan digunakan untuk dijadikan alat oleh segelintir orang untuk meraih kesenangan material, dan tidak perduli sama sekali dengan nasib rakyat yang seharusnya di riayah, sebab fungsi itu memang sudah hilang dari pemimpin seperti ini. Apalagi menjadi Junnah...
Sungguh jauh dari kata ada untuk kepemimpinan hari ini.
Islam memandang hutan sebagai kepemilikan umum, yang dikelola langsung oleh negara. Bukan di kuasa kan lewat izin konsesi kepada korporasi. Dan inilah yang hari ini terjadi disistem hari ini. Kewenangan yang sewenang-wenang yang itu disepakati oleh mereka sendiri oleh pihak pihak yang merasa berhak atas kepemilikan umum namun dijadikan milik mereka segelintir orang.
Rakyat berhak dan boleh memanfaatkan hutan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup nya sesuai dengan kemampuan nya dalam mengelola sumber daya hutan. Dan tidak ada upaya untuk menghalangi orang lain untuk melakukan hal serupa yaitu untuk mengambil manfaat yang sama.
Namun bukan pada kawasan hutan lindung ( hima) yang sudah ditetapkan negara untuk tidak di ganggu kelestarian nya.
Dan negara jelas akan memberi sanksi tegas bagi pelaku pembakaran hutan seperti yang sering dilakukan hari ini oleh pelaku nya. Apalagi jika itu dilakukan secara sengaja.
Demikian gambaran seorang pemimpin sebagai rain dan Junnah akan nampak dalam perlakuan nya pada rakyat nya. Penguasa muslim akan selalu mengupayakan dan mengedepankan rakyat untuk segala kebutuhan akan haknya. Memenuhi dan melindungi dari semua dan dari segala sesuatu yang membahayakan itu sudah pasti akan dilakukan oleh pemimpin muslim. Termasuk dalam konteks mitigasi bencana...
Intinya seorang pemimpin dalam islam tidak akan membiarkan rakyat nya dalam kesulitan, kesengsaraan, dan ketidak adilan.
Sekali lagi penguasa dalam islam akan terdepan dalam menolong rakyat nya.
Wallahu a' lam bishawab.

Posting Komentar