Hikmah Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW
Oleh : Fajri al-abqary, Aktivis Dakwah
Diutusnya Nabi Muhammad SAW merupakan karunia terbesar bagi umat manusia. Karena itu, berkumpul dalam halaqah untuk mengingat dan mensyukuri karunia tersebut menjadi momentum untuk menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW dan mengikuti ajaran beliau.
Berikut dalil pujian bagi orang-orang yang berkumpul (halaqah) atas karunia diutusnya Rasulullah SAW: "Dari Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah SAW keluar menemui sebuah halaqah (kelompok berkumpul) dari para sahabatnya. Beliau bertanya: "Apa yang membuat kalian duduk berkumpul di sini?" Para sahabat menjawab: "Kami duduk berkumpul untuk mengingat Allah (berdzikir) dan memuji-Nya atas hidayah Islam yang Dia berikan kepada kami, serta karunia besar yang Dia anugerahkan kepada kami (dengan diutusnya engkau). "Nabi bertanya lagi: "Demi Allah, apakah tidak ada alasan lain yang membuat kalian duduk selain itu?" Mereka menjawab: "Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk selain alasan itu." Beliau lalu bersabda: "Ketahuilah, aku meminta kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Akan tetapi, Jibril telah datang kepadaku dan mengabarkan bahwa Allah 'Azza wa Jalla bangga terhadap kalian di hadapan para malaikat" (HR. Muslim, no. 2701)
Begitu juga, dari Abu Qatadah al-'Anshari ra, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Senin, lalu beliau menjawab: "Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus, atau hari ketika diturunkannya Al-Qur’an kepadaku" (HR. Muslim).
Dari hadits tersebut ada tiga poin utama yang perlu diperhatikan yaitu: Pertama, tanda-tanda alam saat kelahiran Rasulullah SAW. Dalam banyak berbagai kitab Sirah Nabawiyah menyebutkan peristiwa luar biasa yang terjadi di antaranya padamnya api Majusi. Api abadi di kuil penyembahan Persia yang tidak pernah padam selama 1.000 tahun seketika mati. Peristiwa ini menjadi simbol runtuhnya keyakinan menyembah api.
Kemudian, berguncangnya Istana Kisra. Istana Raja Persia (Kisra) bergetar hebat dan 14 balkonnya runtuh. Ditambah ada cahaya dan bintang terang. Ibunda Nabi SAW, Sayyidah Aminah, melihat cahaya terang yang memancar dan menerangi istana-istana. Selain itu, bintang-bintang bersinar jauh lebih terang pada malam kelahiran beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kedua, kelahiran. Umat Islam lebih berhak merayakan kelahiran Rasulullah SAW daripada Abu Lahab. Dalam beberapa kitab hadits, seperti dalam Shahih Bukhari: “Urwah bin Zubair mengatakan bahwa Tsuwaibah adalah budak wanita Abu Lahab yang dimerdekakan karena menyusui Nabi Muhammad SAW. Ketika Abu Lahab meninggal dunia, sebagian keluarganya bermimpi didatanginya dengan kondisi yang sangat buruk. Mereka bertanya kepada Abu Lahab, 'Apa yang kamu alami?' Abu Lahab menjawab, 'Aku tidak mendapatkan apa pun kecuali aku diberi minum dari ini (rongga di bawah ibu jari) sebab aku telah memerdekakan Tsuwaibah'” (HR Bukhari, No. 5101).
Pada saat kelahiran Rasulullah SAW, mendengar kabar baik tersebut dari budaknya, seketika itu juga Abu Lahab langsung memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah. Dalam ajaran Islam sikap ini disebut tasamuh yaitu sikap tenggang rasa atau empati. Yaitu suatu sikap ikut senang melihat orang lain senang dan ikut sedih melihat orang lain sedih. Sikap empati berbanding terbalik dengan sikap dengki, yaitu senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang.
Jika seseorang senang saat dikaruniai kelahiran seorang bayi yang ditunjukkan dengan memotong kambing (aqiqah), begitu juga Abu Lahab senang dengan kelahiran Rasulullah SAW dengan memerdekakan seorang budak. Maka umat Islam harus lebih besar lagi kegembiraannya atas kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena tanpa Rasulullah SAW kita tidak akan pernah mengenal iman dan Islam.
Ketiga, risalah Islam. Tujuan diutusnya Rasulullah SAW untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat Ahmad, Al-Baihaqi dan disahihkan oleh Al-Albani, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."
Akhlak atau lebih sering dikenal dengan istilah adab, merupakan budaya atau kebiasaan suatu masyarakat tertentu. Rasulullah SAW menyempurnakan akhlak yang mulia yaitu dengan cara menyampaikan ajaran atau risalah Islam sebagai petunjuk antara perbuatan baik dan buruk atau terpuji dan tercela sesuai dengan perintah dan larangan Allah 'azza wa jalla.
Islam mengatur tiga hubungan yaitu akhlak dengan Allah, akhlak dengan sesama makhluk (manusia, hewan, tumbuhan, dan sebagainya), akhlak dengan dirinya sendiri, yang terdiri dari, hablumminallah (mengatur hubungan manusia dengan Allah), cakupannya aqidah dan ibadah, hablumminannas (mengatur hubungan manusia dengan sesama), cakupannya muamalah dan 'uqubah dan hablumminannafsi (mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri), cakupannya makanan, minuman, pakaian, jujur, dan sebagainya.
Sebab dirusaknya Risalah Islam
Allah menegaskan dalam surah al-Furqan ayat 30 yang artinya, “Dan Rasul (Muhammad SAW) berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini diabaikan."
Diabaikannya Al-Qur'an adalah dengan cara mengamalkan sebagian dan meninggalkan sebagian. Jika menguntungkan diamalkan dan jika merugikan ditinggalkan, seperti syari'at jihad, qishas, potong tangan pencuri, rajam pezina, cambuk pemabuk, sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem politik baik dalam ataupun luar negeri, sistem pendidikan, sistem pergaulan sosial, sistem hukum, pertahanan dan keamanan, dan sebagainya.
Allah juga menegaskan dalam surah al-Baqarah ayat 208 yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian kedalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagi kalian."
Risalah Islam dirusak karena umat Islam tidak mengamalkan ajaran Islam secara keseluruhan/totalitas/kaffah, karena saat ini yang berlaku di masyarakat adalah sistem kehidupan sekuler, yaitu memisahkan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[]

Posting Komentar