-->

PENDIDIKAN BERMUTU HANYA DENGAN ISLAM


Oleh : Linda

2 Mei merupakan hari nasional yang senantiasa diperingati setiap tahunnya. Begitu pula tahun ini, 2 Mei 2026 merupakan Hari Pendidikan Nasional yang mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Melalui tema ini, menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat (pemerintah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat luas) untuk menciptakan pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas.
Tema ini memang selaras dengan arah kebijakan pemerintah yang tertuang pada UUD 1945 bahwa negara wajib mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun fakta dilapangan justru berkata sebaliknya. kesenjangan kualitas sekolah di desa dan kota, keterbatasan sarana prasarana, serta kesejahteraan guru yang belum merata menjadi kritik nyata atas tema yang diangkat tahun ini. Apakah partisipasi semesta akan benar-benar terjadi, atau masih sebatas jargon semata?

Kesesuaian Tema dengan Fakta Lapangan
Melalui tema tahun ini, pemerintah mendorong adanya kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan media sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang saling mendukung. Konsep ini sebenarnya sangat penting karena pendidikan tidak dapat berjalan secara optimal apabila hanya dibebankan kepada sekolah dan guru semata. Peran keluarga dibutuhkan untuk membentuk karakter dan kebiasaan belajar anak di rumah, masyarakat berperan menciptakan lingkungan sosial yang positif, sementara media dapat menjadi sarana penyebaran informasi dan edukasi yang membantu perkembangan peserta didik. Dengan adanya kerja sama yang baik antarsemua unsur tersebut, kualitas pendidikan diharapkan mampu berkembang secara lebih merata dan berkelanjutan.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud. Di kota-kota besar, partisipasi masyarakat dan dunia usaha memang mulai terlihat cukup aktif, misalnya melalui program CSR perusahaan untuk pembangunan fasilitas sekolah, pemberian beasiswa, pelatihan digital, maupun dukungan kegiatan literasi. Orang tua di wilayah perkotaan juga cenderung memiliki akses informasi dan kesadaran pendidikan yang lebih tinggi sehingga keterlibatan mereka dalam mendukung proses belajar anak lebih mudah dilakukan.

Sebaliknya, kondisi di daerah terpencil masih jauh berbeda. Keterlibatan masyarakat dalam mendukung pendidikan sering kali terbatas karena faktor ekonomi, rendahnya tingkat pendidikan orang tua, serta minimnya akses informasi dan teknologi. Banyak keluarga di desa lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari sehingga pendidikan belum menjadi prioritas utama. Selain itu, keterbatasan infrastruktur membuat akses terhadap media pembelajaran dan komunikasi juga kurang memadai. Akibatnya, hubungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat belum terbangun secara maksimal.

Begitu pula revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, dan peningkatan kesejahteraan guru juga menjadi fokus utama pemerintah dalam upaya menciptakan pendidikan yang bermutu. Namun, kenyataannya di lapangan masih menunjukkan adanya ketimpangan yang cukup besar. Program-program tersebut memang mulai terlihat di beberapa sekolah perkotaan yang memiliki akses teknologi dan infrastruktur memadai. Penggunaan perangkat digital, pembelajaran berbasis internet, hingga pemanfaatan aplikasi pendidikan perlahan menjadi bagian dari proses belajar mengajar di kota-kota besar. Akan tetapi, kondisi tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh sekolah-sekolah di daerah terpencil dan pedesaan.

Masih banyak sekolah di desa yang menghadapi keterbatasan fasilitas dasar, seperti ruang kelas yang kurang layak, minimnya laboratorium, perpustakaan yang tidak memadai, hingga akses internet yang lemah bahkan tidak tersedia sama sekali. Akibatnya, proses digitalisasi pendidikan berjalan tidak merata dan justru memperlihatkan kesenjangan antara pendidikan di kota dan di desa. Dalam situasi seperti ini, peserta didik di daerah terpencil berisiko tertinggal karena tidak memperoleh kesempatan belajar yang sama seperti siswa di perkotaan.
Di sisi lain, kesejahteraan guru juga masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan sepenuhnya. Banyak guru honorer yang masih menerima upah rendah meskipun memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik generasi bangsa. Padahal, guru merupakan ujung tombak pendidikan yang sangat menentukan kualitas pembelajaran. Jika kesejahteraan dan fasilitas pendukung belum terpenuhi, maka sulit untuk mewujudkan pendidikan yang benar-benar berkualitas dan merata.

Oleh karena itu, revitalisasi pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada pembangunan citra modernisasi di wilayah tertentu, tetapi juga memastikan bahwa seluruh sekolah, baik di kota maupun desa, memperoleh perhatian dan kesempatan yang sama. Pendidikan bermutu tidak akan tercapai apabila masih ada ketimpangan fasilitas, akses teknologi, dan kesejahteraan tenaga pendidik di berbagai daerah Indonesia.
Sedangkan kesejahteraan guru juga memperlihatkan perbedaan yang sangat nyata antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Guru yang berada di kota umumnya memiliki akses yang lebih mudah terhadap berbagai fasilitas penunjang pendidikan, seperti pelatihan profesional, seminar, sertifikasi, hingga pemanfaatan teknologi pembelajaran berbasis digital. Selain itu, dukungan infrastruktur yang memadai membuat guru di perkotaan lebih leluasa mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Kesempatan untuk meningkatkan kompetensi juga lebih terbuka karena informasi, jaringan pendidikan, dan akses transportasi relatif lebih baik.

Sebaliknya, guru di daerah terpencil masih menghadapi banyak keterbatasan. Tidak sedikit tenaga pendidik yang harus mengajar dengan fasilitas minim, akses internet yang lemah, bahkan kondisi sekolah yang kurang layak. Kesempatan mengikuti pelatihan atau pengembangan kompetensi juga sering terkendala biaya, jarak, dan keterbatasan akses informasi. Banyak guru di daerah harus mengeluarkan biaya pribadi untuk mengikuti pelatihan di kota, sementara penghasilan yang diterima masih tergolong rendah, terutama bagi guru honorer.

Selain itu, kondisi geografis yang sulit juga menjadi tantangan tersendiri. Ada guru yang harus menempuh perjalanan jauh, melewati jalan rusak, sungai, atau daerah pegunungan demi mencapai sekolah tempat mereka mengajar. Ironisnya, perjuangan besar tersebut sering kali belum diimbangi dengan kesejahteraan yang layak maupun perhatian yang cukup dari pemerintah. Padahal guru di daerah terpencil memiliki peran penting dalam membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang berada jauh dari pusat perkembangan.

Ketimpangan kesejahteraan dan kesempatan ini menunjukkan bahwa pemerataan kualitas pendidikan belum sepenuhnya tercapai. Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, maka akan semakin sulit menciptakan pendidikan yang setara antara kota dan desa. Oleh karena itu, pemerintah perlu memberikan perhatian lebih terhadap guru di daerah terpencil melalui peningkatan kesejahteraan, pemerataan akses pelatihan, serta penyediaan fasilitas pendukung yang memadai. Guru bukan hanya tenaga pengajar, tetapi juga penentu masa depan generasi bangsa, sehingga kesejahteraan mereka seharusnya menjadi prioritas utama dalam pembangunan pendidikan nasional.

Pendidikan Bermutu hanya Dengan Islam
Pendidikan bermutu sejatinya tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual semata, tetapi juga pembentukan akhlak, moral, dan tanggung jawab manusia terhadap kehidupan. Saat ini, banyak sistem pendidikan modern lebih berorientasi pada nilai akademik dan persaingan dunia kerja. Akibatnya, lahir generasi yang cerdas secara intelektual tetapi lemah secara moral. Fenomena korupsi, kekerasan pelajar, hingga hilangnya rasa hormat kepada guru menjadi bukti bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membentuk karakter manusia. Di sinilah ajaran Islam menawarkan konsep pendidikan yang lebih utuh karena menyeimbangkan ilmu pengetahuan dengan nilai spiritual.
Pendidikan bermutu menurut pandangan Islam adalah pendidikan yang mampu membentuk manusia seimbang antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Kemajuan ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kerusakan, sedangkan ilmu yang dibimbing oleh nilai-nilai Islam dapat melahirkan peradaban yang lebih baik dan bermartabat.