Krisis Murid Baru di Sejumlah SD Negeri, Sekolah Swasta Menjadi Incaran
Oleh : Khusnul. H
Memasuki masa awal tahun ajaran 2026/2027, sejumlah sekolah negeri di Indonesia minim mendapatkan murid baru. Meskipun minim mendapat murid baru, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tetap digelar menyambut pelajar baru tersebut sejak Senin (13/7). MPLS digelar sepekan ke depan sebelum masa belajar mengajar secara penuh sepanjang tahun ajaran ini. Walaupun jumlah siswa sedikit, semangat tenaga pendidik dan kesiapan fasilitas di banyak sekolah tetap terjaga demi memberikan layanan pendidikan terbaik bagi setiap anak yang telah mendaftar. (cnnindonesia.com, 15/07/2026)
Krisis murid terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Beberapa sekolah dasar (SD) Negeri hanya menerima sedikit peserta didik, bahkan ada juga yang tidak mendapatkan murid baru untuk tahun ajaran 2026/2027. Menurut peneliti, fenomena yang terjadi di berbagai daerah itu bukan sekadar persoalan persaingan antarsekolah, tetapi juga mencerminkan perubahan struktur demografi.
Peneliti Senior Lembaga Demogafi FEB UI Turro Wongkaren membenarkan bahwa rendahnya daya serap SD menunjukkan penurunan penduduk berusia muda. Menurutnya, jumlah anak sudah mulai berkurang sejak tahun 2010-an. Kendati terjadi peningkatan, sangatlah sedikit. Turro memaparkan, jumlah anak-anak pada tingkat kota dan kabupaten lebih rendah karena adanya faktor perpindahan masyarakat dari desa ke kota.
Walaupun angka kelahiran di perkotaan secara total lebih rendah dari di perdesaan, dampak di perdesaan diperkuat oleh migrasi desa kota, umumnya penduduk usia produktif (sekaligus pasangan usia subur)," paparnya. Ia menjelaskan, penurunan jumlah penduduk muda akan terus berlanjut. "Tren ini akan terus berlanjut, seiring dengan perubahan proporsi perkotaan dan perdesaan," ungkapnya. Secara umum, penduduk Indonesia cenderung berpindah ke perkotaan dan akan menimbulkan dampak kepada masyarakat. (regional.kompas.com, 15/07/2026)
Sejumlah SD negeri di berbagai daerah kekurangan murid baru kelas 1 pada tahun ajaran baru 2026/2027. Ketua DPR RI Puan Maharani turut menyorot hal ini dan mengingatkan agar pemerintah melakukan evaluasi. Ia meminta pemerintah melakukan pengecekan dan kajian lebih mendalam, apakah ini merupakan gejala umum yang terjadi secara nasional atau hanya kasuistik di beberapa daerah. Apabila kasuistik, menurutnya maka perlu ada pendekatan yang lebih khusus sesuai dengan kriteria setiap daerah. Di sisi lain, jika krisis jumlah murid ini merupakan masalah nasional, maka menurutnya tidak cukup hanya dengan menutup atau menggabungkan sekolah."Karena ini menyangkut tanggung jawab negara dalam menjamin setiap anak memperoleh pendidikan dasar yang mudah dijangkau, berkualitas, dan sesuai kebutuhan masyarakat," ujarnya. (detik.com, 15/07/2026)
Dari fakta diatas bisa kita amati dari sejumlah SDN minim murid baru, bahkan ada yang tidak dapat murid sama sekali. Hal ini memang nampak tidak wajar, tapi itulah kondisi pendidikan saat ini. Hal ini terjadi karena diantaranya jumlah anak usia sekolah yang makin minim di sekitarnya (karena pertumbuhan penduduk menurun, generasi menua, dan urbanisasi) dan pergeseran orientasi pendidikan masyarakat yang lebih memilih sekolah yang mengajarkan pendidikan agama (ibadah, mengaji, dan akhlak). Ini adalah cerminan pemikiran orangtua yang takut keselamatan anaknya karena kerusakan dan kenakalan remaja semakin banyak. Sehingga sekolahan berbasis keagamaan menjadi lebih diminati. Sedangkan sekolahan negeri yang ada ternyata tidak memberikna fasilitas sesuai kebutuhan rakyat. Meskipun ada yang menyatakan bisa digabungkan tp jarak tempuh sekolah menjadi sangat jauh, apalagi yang sekolahan di pedesaan.
Maka dengan adanya perubahan struktur demografi (penduduk menua) harusnya pemerintah melakukan tindakan yang melindungi semuanya meski ini terjadi karena program pemerintah yang menjadikan jumlah kelahiran turun. Kegagalan kebijakan ekonomi membuat biaya hidup tinggi dan kesejahteraan sulit diraih sehingga pasangan muda enggan punya anak. Karena tidak sanggup menanggung biaya hidup yang berkali-kali lipat. Akhirnya rakyat memilih untuk urbanisasi dan ini marak dilakukan masyarakat karena kesenjangan pendapatan antara desa dan kota. Padahal harusnya pemerintah melakukan pemerataan lapangan pekerjaan dan memajukan sektor ekonomi di desa agar masyarakat tidak sampai melakukan urbanisasi.
Perusahaan sikap orang tua lebih memilih sekolah yang mengajarkan agama dibandingkan sekolah negeri menunjukkan kekhawatiran besar terhadap kerusakan generasi hari ini akibat sistem sekuler liberal yang memproduksi berbagai kerusakan moral hingga tindak kriminal di kalangan anak sekolah. Ada kenakalan remaja yang menjadikan generasi sangat jauh dari yang di harapkan. Ada yang terjerat kasus narkoba, lgbt, mental yang labil bahkan berani melakukan tindakan kriminal. Maka dengan memilik sekolahan dengan basis agama, orang tua berharap anak-anak mereka menjadi generasi yang mmapu bertahan dan siap menghadi kehidupan kedepannya. Dengan akhlak yang mulia dan pemahmaan agama yang benar orang tua lebih yakin anak nya mampu bertahan dalam perubahan peradaban. Tapi sayangnya pemerintah tidak memperhitungkan sampai sejauh itu. Pemerintah hanya melakukan perubahan kurikulum hingga berulangkali, tapi terbukti tidak mampu membendung kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem sekuler liberal saat ini. Perubahan kurikulum bukan solusi, jika arah pendidikan nasional tetap hanya untuk mencetak tenaga buruh bukan tenaga ahli yang berakhlak mulia. Karena dalam sistem kapitalis yang boleh berkuasa hanya para pemilik modal, sedangkan rakyat hnaya dijadikan tenaga buruh yang murah untuk menjalankan roda perekonomian saja. Kesuksesan dalam sistem kapitalis hanya di pandang dari jumlah materi saja, bukan capaian yang lain. Sedang imbas dari sistem kapitalis ini adalah rusaknya generasi dengan terfokus pada orientasi dunia dan kesenagan jasadiah saja. Maka bagaimanapun perubahan yang ada tetap tidak akan memberikan dampak yang positif untuk kemajuan negeri apalagi degan gambaran indonesia emas, sangat jauh panggang dari api.
Coba kita lihat bagaimana islam mencetak generasi yang mampu merubah peradaban menjadi gemilang, menghasilkan generasi unggulan yang mampu mempengaruhi dunia pendidikan, kedokteran, teknologi dan sain nya. Karena dalam islam pendidikan adalah nyawa sebuah peradaban, oleh kerena itu berabad-abad dulu islam mampu menjunjukkan kegemilangan peradaban dengan karya anak bangsa hingga mencapai mercusuar peradaban. Dalam islam pendidikan adalah kebutuhan dasar dan pilar penting peradaban, sehingga negara bertanggung jawab menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyat. Tidak ada perbedaan antara muslim dan non muslim yang menjadi warga daulah, baik miskin atau kaya semua mendapat kesempatan itu. Sistem pemerintahan islam menjadikan pendidikan sebagai sesuatu yang sangat diperhatikan. Bahkan dalam islam guru di gaji sekitar 30 dinar di masa khalifah Umar bin Khatab, sehingga para guru bisa fokus mengajar tanpa sibuk bekerja. Maka guru mencurahkan segala ilmu dan kemampuannya untuk mendidik muridnya hingga mereka menjadi ahli di dalamnya.
Sistem pendidikan Islam dalam institusi Khilafah menggunakan kurikulum berbasis akidah Islam untuk mewujudkan output pendidikan yang berkepribadian Islam dan mahir dalam iptek. Negara menyediakan SDM guru, infrastruktur, sarana dan prasarana untuk mendukung pendidikan berkualitas. Sehingga proses belajar mengajar menjadi sesuatu yang sangat berkualitas. Selain itu dengan biaya pendidikan yang difasilitasi penuh oleh negara, siswa jadi lebih fokus dalam belajar dan mengembangkan ilmu yang dia tekuni. Dan dengan pendidikan yang berbasis aqidah menjadikan mereka generasi yang mahir ilmu dunia tapi tetap berakhlak mulia serta beriman dan bertaqwa. Selain itu kesadaran masyarakat harus dinaikkan dari level ingin menyelamatkan anaknya dari bahaya kerusakan menjadi kesadaran politik bahwa kerusakan yang ada adalah kerusakan sistemik akibat penerapan sistem sekuler liberal. Karena dorongan orang tua juga sangat mempengaruhi output dari pendidikan yang dicetak nanti. Ketika orang tua memiliki tujuan yang sama ddngan pemerintah dalma pendidikan maka, mereka akan membantu menciptakan suahsana yang kondusif untuk belajar para generasi mudanya. Dan dengan adanya aktifitas amar makruf nahi mungkar maka suasana dakwah politik untuk membangun kesadaran politik di masyarakat akan tercipta, karena hal ini sangat penting dalam mendukung suah sana pendidikan ketika masyarakat juga berlomba-lomba dalam kebaikan. hingga akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk merubah sistem sekuler liberal menjadi sistem Islam. InsyaAllah.

Posting Komentar