-->

Ironi Kemerdekaan di Sistem Sekularisme


Oleh : Ummu Farras

Setiap 17 Agustus, Indonesia menjelma menjadi tempat perayaan yang megah. Jalan-jalan dihiasi bendera merah putih. Sekolah-sekolah, kantor-kantor, dan bahkan gang-gang kecil mengadakan upacara. Anak-anak bersaing dalam lomba makan kerupuk, ibu-ibu bertanding dalam balap karung, sementara para bapak beradu tenaga di panjat pinang. Suara pidato kemerdekaan menggema, mengingatkan kita akan pengorbanan para pahlawan dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Semua ini sangat menyenangkan. Menyenangkan karena mengingatkan kita bahwa bangsa ini pernah berhasil mendapatkan kemerdekaan dari penjajahan. Menyenangkan karena bisa membangkitkan rasa bangga dan solidaritas, meskipun hanya untuk se hari.

Namun, kebahagiaan ini ada batasnya. Setelah bendera diturunkan dan perlombaan dibereskan, kita kembali pada kenyataan: harga semakin tinggi, gaji tidak bergerak, dan keprihatinan tentang hari esok masih menghantui. Di sinilah ironi muncul. Kita merayakan kemerdekaan dengan semarak, sementara banyak rakyat masih merasakan pahitnya kemiskinan.

Tidak ada yang salah dengan perayaan dan lomba. Tradisi tersebut penting untuk menjaga ingatan bersama. Masalahnya, ketika simbol-simbol tersebut dijadikan tujuan utama, makna sesungguhnya dari kemerdekaan justru terabaikan. Para pendiri bangsa berjuang bukan hanya sekadar untuk mengubah warna bendera. Mereka berjuang agar rakyat Indonesia bebas dari ketakutan, mampu bersekolah, mendapatkan makanan tiga kali sehari, dan menentukan nasib sendiri tanpa terjebak dalam kemiskinan.

Namun kenyataannya, BPS mencatat garis kemiskinan nasional masih berada di ratusan ribu per kapita per bulan. Ini berarti, jutaan orang masih dianggap miskin karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Ditambah dengan masalah kemiskinan ekstrem yang belum sepenuhnya teratasi. Pemutusan hubungan kerja massal di sektor industri, harga pangan yang tidak stabil, serta biaya pendidikan dan kesehatan yang terus meningkat membuat kata "merdeka” terasa seperti sekadar istilah di buku pelajaran.

Ini bukan masalah rakyat yang malas. Banyak yang sudah bekerja selama 12 jam, memiliki 2-3 pekerjaan, tetapi tetap tidak mencukupi. Penyebabnya bukan hanya kemalasan, melainkan struktur: harga kebutuhan pokok yang tidak terkontrol, lapangan kerja formal yang minim, dan sistem perlindungan sosial yang lemah.

Pemerintah sering berbangga dengan angka pertumbuhan ekonomi dan penurunan jumlah orang miskin secara keseluruhan. Itu benar secara statistik. Tapi statistik tidak bisa makan. Analisis tajamnya ada di distribusi. Pertumbuhan ekonomi kita selama ini lebih banyak dirasakan oleh kelompok kecil di kota besar, terutama di bidang digital dan properti, sementara di daerah pedesaan dan kalangan pekerja informal, pertumbuhan ekonominya hampir tidak terasa. Kesenjangan makin lebar.Kemiskinan hari ini juga sudah berubah wajah. Bukan hanya orang yang tidak punya rumah saja. Tapi juga pekerja kontrak yang gajinya tidak cukup, guru honorer, petani yang hasil panennya dipotong oleh tengkulak, dan lulusan kuliah yang tidak bisa mencari pekerjaan. Mereka tidak kekurangan data, tapi sangat rentan untuk jatuh miskin karena satu hal saja: sakit, dipecat, atau gagal panen.Inilah kemiskinan struktural. Ia tidak bisa selesai hanya dengan bantuan sosial sementara itu. Bansos penting bagi bantalan, tapi kalau tidak disertai dengan pembuatan pekerjaan yang baik, gaji yang adil, dan harga bahan pokok yang stabil, maka setiap tahun kita akan mengalami siklus yang sama: merayakan kemerdekaan sambil minta solusi lagi. Yang paling menyedihkan adalah ketika negara sendiri sering kali tidak peduli. 

Di satu sisi, kita menggunakan anggaran yang besar untuk acara perayaan, pembangunan infrastruktur mercusuar, dan subsidi yang tidak tepat sasaran. Di sisi lain, masyarakat biasa masih berusaha mendapatkan air bersih, sekolah gratis yang benar-benar gratis, dan layanan kesehatan yang tidak memaksa mereka menjual harta benda mereka.Kita bebas dari penjajah, tapi belum benar-benar bebas dari sistem yang membuat orang miskin semakin sulit untuk naik kelas. 

Pendidikan yang mahal membuat anak-anak dari keluarga miskin kesulitan untuk bisa bersaing. Biaya berobat yang tinggi bisa membuat satu anggota keluarga sakit menghabiskan tabungan selama satu tahun. Lapangan pekerjaan yang membutuhkan pengalaman membuat lulusan baru sulit mendapatkan pekerjaan.

Ironi yang manis di sini adalah: kita lantang berteriak "Merdeka!" sementara di dalam hati masih bertanya, "Merdeka dari apa, kalau besok masih bingung mencari uang?"Lalu apa solusinya? Menyalahkan keadaan tidak akan mengisi perut siapa-siapa. Pertama, kita harus jujur mengakui bahwa kemerdekaan belum tuntas.80 tahun bukan waktu yang singkat. Jika masih ada warga yang kesulitan mendapatkan makanan, maka itu adalah tugas bersama yang perlu diperhatikan. Kemerdekaan sebenarnya diukur bukan dari cara pesta upacara yang besar, tapi dari jumlah anak yang bisa sekolah sampai tamat, jumlah keluarga yang tidak takut pergi ke puskesmas, dan jumlah pekerja yang gajinya cukup untuk hidup rukun dan nyaman.

Kedua, kebijakan harus berpihak. Subsidi harus tepat sasaran. Lapangan kerja harus diciptakan, bukan hanya dijanjikan. Usaha mikro kecil menengah membutuhkan akses yang adil terhadap modal dan pasar. Harga pangan perlu dijaga dengan memperkuat para petani lokal. Pendidikan perlu dibimbing agar menghasilkan manusia yang tidak hanya pintar secara pikiran, tetapi juga memiliki kepribadian yang baik.

Ketiga, peran kita sebagai warga. Merdeka juga berarti tidak apatis. Mengawasi pengeluaran, memilih pemimpin yang berpengalaman dan memiliki visi yang peduli pada masyarakat, serta bekerja sama dalam komunitas. Kemerdekaan bukan hadiah yang turun dari langit. Ia diperjuangkan tiap hari.Namun sebelum hal itu, kita perlu mengetahui arti kemerdekaan itu sendiri. Rakyat hari ini butuh kemerdekaan hakiki. Kemerdekaan bukan hanya melepaskan tubuh dari penjajahan fisik, tetapi juga melepaskan pikiran dan hati dari pengaruh negatif dalam berpikir. Penjajahan sekarang ini tidak lagi datang dengan senjata berkaliber dan meriam. Ia datang melalui gaya hidup, budaya, dan sistem peradaban yang bukan berasal dari Islam dan bisa mengarahkan orang ke jalan yang salah. Ia menguasai cara kita berpikir, cara kita menilai apa yang benar dan apa yang salah, cara kita mengasuh anak, bahkan cara kita memahami hidup.

Sesungguhnya tanpa kita sadari, perang pemikiran jauh lebih berbahaya daripada perang fisik. Karena perang pemikiran secara diam-diam menghalangi kita untuk kembali pada aturan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Padahal kemerdekaan sebenarnya adalah berada dalam kebebasan dari segala jenis penguasaan yang tidak berasal dari Allah SWT. Ketika seseorang masih terikat oleh keinginan materi, oleh trend, oleh sistem ekonomi yang menguntungkan segelintir orang, oleh keyakinan yang bertentangan dengan alam semula, maka ia belum benar-benar bebas. Jasmaninya mungkin bebas, tapi jiwanya masih terjajah. Bangsa yang bebas seharusnya bisa menentukan sendiri jalannya menuju kebudayaan yang lebih baik, didasari oleh nilai-nilai tauhid, bukan hanya meniru dan mengikuti budaya lain yang justru menjauhkan dari Allah.

Bendera merah putih akan terus berkibar setiap tanggal 17 Agustus. Lomba-lomba akan tetap ada. Pidato akan tetap lantang. Dan itu baik. Tapi mari kita tanya lebih dalam: bagaimana mungkin semua kegembiraan itu bermakna, jika setelahnya warga pulang ke rumah dengan utang, anak masih belum mampu membayar SPP, masa depan terlihat gelap, dan pikiran mereka belum lepas dari belenggu penjajahan?

Kemerdekaan yang benar adalah ketika tidak ada lagi ibu-ibu yang harus memilih antara membeli beras atau membayar obat. Ketika bapak tidak lagi lembur, tapi uang masih tidak cukup. Anak-anak bisa bermimpi tanpa tergantung pada uang orang tuanya. Dan ketika masyarakat ini berpikir, bertindak, dan berpolitik berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan penjajahan pemikiran.

Selama hal itu belum tercapai, perayaan kita selalu berisi ironi. Manis di permukaan, pahit di dalam.Tahun ini, selain berkibar bendera, mari kita juga berkibar komitmen: bahwa kemerdekaan harus dirasakan hingga ke meja makan, hingga ke kelas, hingga ke puskesmas, dan hingga ke hati. Bangsa yang benar-benar bebas adalah bangsa di mana rakyatnya hidup makmur dan hatinya hanya tunduk kepada Allah SWT. Bukan hanya merdeka di atas kertas.