DILEMA GEN Z, ANTARA BEBAN EKONOMI, HEDONISME DAN KRISIS TUJUAN HIDUP
Oleh : Ummu Qithath
(Ibu Peduli Umat)
Menyedihkan kondisi gen Z. Dengan kisaran usia 16 – 36 tahun (Wikipedia) yang representative generasi muda saat ini (Generasi Z - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas) (1), 48% dari mereka menyatakan tidak merasa aman secara finansial (1). Tapi ironisnya, di tengah tekanan ekonomi; alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan.
Jadi saat tanggal gajian tiba, notifikasi transfer masuk ke telepon genggam para Gen Z. Sebagian langsung membuka aplikasi mobile banking untuk membayar tagihan-tagihan yang wajib ditunasikan; seperti sewa tempat tinggal, tagihan listrik, atau kebutuhan bulanan lain yang tak bisa ditunda. Setelah kewajiban semua tagihan tertunaikan, sebagian membuka keranjang belanja daring dan membeli barang-barang yang diinginkan beberapa hari yang lalu. Ada yang membeli lipstik dan parfum baru, pernak-pernik baru, baju baru, memesan kopi atau matcha, memperpanjang langganan layanan musik digital, mencoba restoran yang sedang ramai diperbincangkan, menonton film di bioskop, sampai berburu tiket konser (www.money.kompas.com, Rabu 12 Agustus 2026) (2).
Fenomena ini muncul karena beberapa faktor; yaitu kondisi ekonomi yang berubah, kesiapan individu dalam mengelola keuangan, serta relasi keluarga yang memang memiliki karakter tersendiri, terutama di konteks Asia. Di Amerika Serikat, lebih dari 50% kelompok usia 18–34 tahun belum sepenuhnya mandiri secara finansial. Hanya sebagian kecil yang mandiri penuh. Proporsi Gen Z yang masih tinggal bersama orang tua juga meningkat dan sempat mencapai titik tertinggi sejak masa Great Depression (www.money.kompas.com, 3 Mei 2026) (3).
Kapitalisme memberikan tekanan ekonomi bagi Gen Z, di mana biaya hidup terus naik sedangkan gaji tetap. Negara tidak menjalankan kewajibannya menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda berjuang sendiri. Gaya hidup ala Sekuler kapitalistik yang hedonistic; lebih menekankan pentingnya memanjakan diri; menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai "solusi" pelarian. Media sosial juga terus membanjiri beranda akun para generasi muda dengan tren popular yang memicu FOMO (Fear of Missing Out, takut ketinggalan tren) dan budaya belanja impulsif.
Para kapitalis, yaitu produsen semua barang komoditas yang berkaitan dengan gaya hidup, selalu mendapatkan prioritas oleh negara; sedangkan masyarakat terutama generasi muda menjadi korban komersialisasi atau obyek pemasaran. Ini diperparah dengan adanya krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Dampaknya kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari rida Allah dan kemuliaan Islam. Sekulerisme sebagai azas dari kapitalisme sebagai paradigma saat ini, membuat masyarakat semakin jauh dari agama; semakin jauh dari Islam. Sehingga kehidupan mereka kering dari siraman ruhani, hanya mengejar kenikmatan duniawi.
Penting melihat solusi Islam sebagai sebuah sistem yang solutif, karena berasal dari Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui aturan yang terbaik untuk hamba-Nya. Persatuan umat Islam di bawah payung Khilafah itu penting, sesuai ajaran Nabi Muhammad saat beliau hijrah ke Madinah mendirikan Daulah (negara) Islam sebagai pemersatu umat, yang berfungsi melindungi Islam dan kaum Muslimin. Tanpa Khilafah, aturan Islam tak dapat diterapkan secara sempurna sesuai tuntutan keimanan; mengacu pada petunjuk dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 208 :
“Wahai orang-orang beriman, masuklah Islam secara keseluruhan dan jangan ikuti langkah-langkah setan. Karena ia musuh nyata bagimu..”
Negara Khilafah menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam, seperti kekayaan bahan tambang emas, perak, minyak, nikel, batubara, dan lain-lain). Dengan demikian, melalui salah satu sumber pendapatan Baitul Mal ini saja, Khilafah akan mencukupi semua kebutuhan dasar rakyat; mencakup : sandang, pangan, papan, Pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Ini karena SDA statusnya dalam Islam adalah milik umum dan hanya boleh diolah oleh negara, serta hasilnya sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Ini berdasarkan hadis :
“Kaum Muslimin atas tiga hal : air, tanah, dan api (Sumbner energi)” (Hadis Riwayat Abu =Dawud dan Ibnu Majah).
Dengan pembiayaan dari Baitul Mal ini, maka rakyat tidak akan cemas memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya. Cukup fokus untuk memperbanyak amal shalih dan memperbanyak belajar ilmu Islam. Sehingga termasuk para gen Z pun akan mampu memberdayakan dan mengaktualisasi diri secara maksimal sebagai agen pembentuk peradaban Islam yang cemerlang.
Khilafah juga memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki; sehingga rakyat, termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri.
Islam menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi masyarakat, termasuk Gen Z, dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Media apa pun (baik media sosial, media televisi, radio, dan media cetak) dalam Khilafah akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat. Ini didukung dengan edukasi massif oleh Khilafah dalam bentuk penerapan kurikulum berbasis akidah Islam, baik di sekolah formal maupun non formal. Ini akan membentuk kepribadian Islam (syakhsiyah Islam) yang utuh di tubuh umat, di mana pola pikir dan pola sikapnya sama-sama Islaminya. Sehingga terbentuklah masyarakat Islami, yang akan berperan sebagai control sosial yang efektif dengan melakukan aktivitas dakwah (amar maruf nahi mungkar) di tengah-tengah masyarakat.
Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yiatu untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56). Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam. Islam menempatkan secara efektif edukasi akidah Islam pada tiga pilar : individu yang bertakwa, masyarakat Islami yang selalu berdakwah, dan negara Khilafah sebagai institusi penerap Islam secara sempurna di tengah-tengah masyarakat. Ini akan memperkuat sosok-sosok tangguh para Gen Z yang fokus menatap kehidu[an akhirat dan tak akan lagi cemas akan beban ekonomi.
Wallahualam Bisawab
Catatan Kaki :
(1) Generasi Z - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(2) https://money.kompas.com/read/2026/08/12/124653526/gaji-gen-z-dan-self-reward-menikmati-hidup-healing-atau-menabung
(3) https://money.kompas.com/read/2026/05/03/130719626/gen-z-dalam-persimpangan-tekanan-ekonomi-kedewasaan-finansial-dan-kehadiran
(4) https://samarinda.beritaenergi.id/amp/1585412/survei-deloitte-ungkap-optimisme-genz-dan-milenial-hadapi-tantangan-biaya-hidup

Posting Komentar