Perjuangan Gen Z Stagnan dalam Perangkap Kapitalis
Oleh : Dewi Poncowati
Kehidupan Gen Z saat ini harus berjuang hidup karena mereka tumbuh, kembang dan bangkit ditengah sistem kapitalisme modern. Gen Z dipaksa siap bertarung dan menjadi roda penggerak ditengah laju perekonomian dunia yang rusak. Menyingkapi perekonomian negeri ini memang tidak sedang baik baik saja. Rendahnya peluang lapangan pekerjaan dan tingginya biaya hidup di kota. Fakta data saat ini angka 48% lebih Gen Z mengalami rentan ekonomi. Upah yang rendah sementara biaya hidup yang mahal akibat inflasi besar besaran. Cita cita ingin meranjak dari status sosial yang lebih baik kenyataannya sulit karena sistem perekonomian memang sengaja didesign memperkaya para pemilik modal.
Mengutip berita online dari Kompas.com mengenai kehidupan Gen Z, salah seorang sebut saja Bella usia 26 tahun setiap akhir bulan yang diharapkan hanya notifikasi rekening gaji masuk dari telepon genggamnya. Pendapatan yang rendah dipaksa harus mencukupi berbagai kebutuhan primer yang memang harus dikeluarkan seperti biaya sewa tempat tinggal, listrik dan kebutuhan lainnya. Pikiran akan kebutuhan bercabang antara self-reward ditengah budaya Fear of Missing Out target destinasi melepaskan penatnya kehidupan seperti ke bioskop, tempat ngave dan healing.
Berikutnya fakta berita https://money.kompas.com, di Indonesia terdapat kesenjangan upah minimun yang sangat jauh di Jakata sekitar Rp 5,4 Juta dan Rp 2,1 juta di Jawa Tengah. Disparitas angka yang cukup lebar walau memiliki perbedaan karakter tetapi memiliki kesamaan pada tekanan finansial. Karena kebutuhan hidup di kota kisaran Rp 7 juta per bulan belum termasuk biaya tempat tinggal. Generasi saat ini nampaknya di awal karir memiliki kemandirian finansial akan tetapi untuk dapat mengimbangi pendapatan dan kebutuhan pokok nyaris menabung menjadi pilihan yang opsional.
Kemandirian finansial di awal karier kini menjadi hal langka karena tingginya biaya hidup. Terdapat kesenjangan yang lebar antara pendapatan dan kebutuhan pokok menyebabkan pendapatan yang bisa ditabung berada di posisi terendah. Hal ini ini justru menjadi fenomena yang aneh karena pendapatan ekonomi tumbuh rata rata gaji tenaga kerja naik 5% - 6% tetapi biaya lain seperti properti naik hingga 10% - 15%.
Jika menilik lebih dalam fakta fenomena yang terjadi sistem Kapitalisme menciptakan kesenjangan pendapatan dan kebutuhan biaya pokok. Tekanan ekonomi dengan pendapatan stagnant menghimpit Gen Z, belum lagi godaan gaya hidup hedonis yang menjangkiti. Seolah Gen Z dipaksa dan tergerus menjadi pelaku konsumen kesenangan dunia demi memperkaya para pengusaha hiburan. Inilah cara kerja sistem kapitalisme, negara saat ini lepas dari tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya. Justru negara dan pengusaha hiburan berkelindan meracuni generasi melalui media sosial.
Negara lepas tanggung jawab dengan berbagai hal yang dipaparkan di media sosial. Gaya hidup bebas dan sekuler membuat generasi tidak memiliki tujuan hidup yang seharusnya. Trend self-reward, healing dan konsumtif menjadi solusi dalam menghadapi permasalahan. Akar dari permasalahannya adalah terdapat krisis eksistensi keberadaan pencipta dalam dirinya. Generasi Z kehilangan arah dalam memaknai kebahagiaan dan mensyukuri nikmat Allah SWT. Kondisi generasi saat ini dan nanti harus segera diselamatkan dengan sistem yang mampu menyelesaikan dan membawa perubahan yang nyata.
Sistem Islam adalah sistem yang mampu menyelesaikan permasalahan kesenjangan ekonomi dan masa depan generasi. Dalam dimensi Islam tugas negara adalah ri’ayatul su’unil ummah atau sebagai pengatur dan pemelihara segala urusan umat secara keseluruhan. Baik dalam hal urusan ibadah yaitu menjaga akidah umat maupun urusan dunia dalam hal kebutuhan dasar dan cabang. Dalam penerapan sistem Islam, negara berkewajiban menjaga dan mengelola sumber daya alam secara tegas dan mandiri. Negara tidak akan membiarkan terjadi praktik kecurangan ataupun korupsi di kalangan pejabat negara. Pengelolaan dan pengembangan sumber daya alam dikelola dalam skala luas secara langsung oleh negara untuk menumbuhkan industri lapangan pekerjaan tanpa ada campur tangan pihak kelompok pengusaha swasta. Sehingga tidak akan pernah dalam sistem negara Islam terdapat pengangguran.
Negara tidak akan membiarkan rakyatnya berjuang sendiri tapi negara akan mendukung pertumbuhan ekonomi negara untuk kepentingan rakyatnya. Negara harus hadir langsung dan memastikan bahwa hasil dari sumber daya alam terdistribusi untuk kebutuhan umat dalam hal pangan, sandang dan papan. Bahkan untuk pembiayaan fasilitasi pendidikan dan Kesehatan secara gratis. Dalam hal sistem perekonomian negara melarang sistem perekonomian ribawi. Kebijakan sistem Islam dalam hal penggunaan media sosial, negara harus berada digarda terdepan menutup celah celah situs kemaksiatan yang meruntuhkan akidah umat.
Negara akan memfasilitasi pesatnya keberadaan media sosial dengan melakukan globalisasi informasi secara mandiri di media sosial dalam hal pendidikan, Kesehatan, perkembangan industri teknologi dan untuk memperluas dakwah Islam. Dalam kehidupan dakwah Islam negara berkewajiban menumbuhkan paradigma Islam kaffa akan hakikat hidup sebagai hamba Allah SWT. Membangun konsep berfikir umat bahwa hidup adalah ibadah. Keterlibatan negara dalam perkara ibadah secara massif akan menumbuhkan ketakwaan individu dan masyarakat. Maka keberadaan generasi yang memiliki akidah Islam yang kokoh membuat dirinya sadar bahwa dirinya adalah bagian dari agen perubahan peradaban Islam.

Posting Komentar