Ustad AI Bukan Pengganti Ulama
Oleh Ummu Ghoza
Penamabda.com-Di era saat ini, gawai sudah menjadi kawan sehari-hari. Segala pertanyaan, termasuk yang menyangkut urusan agama, sering kali cukup dicarikan jawabannya lewat pencarian daring.
Kini hadir layanan pintar yang disebut "Ustazah AI". Berbagai pertanyaan soal tafsir, fikih, hingga petunjuk hukum bisa dijawabnya dalam sekejap mata. Karena terasa praktis, cepat, dan tanpa biaya, layanan ini pun disambut gembira oleh banyak anak muda.
Meski begitu, Kementerian Agama mengingatkan, kemudahan ini tak boleh menyesatkan. AI hanyalah alat bantu, bukan sumber rujukan utama, apalagi pengganti kedudukan ulama. Apa yang disampaikan mesin tetap harus diperiksa kembali, sebab agama bukan sekadar teks yang disusun rapi, melainkan juga soal makna, situasi, dan kebijaksanaan penerapannya. Hal senada juga disampaikan para pakar teknologi, yang menegaskan bahwa kekeliruan masih mungkin terjadi pada jawaban yang diberikan mesin.(republika.co.id, Rabu, 4/7/2026).
Kesalahan Menempatkan Teknologi Sebagai Guru Agama
Perlu disadari, AI menyusun jawaban dari beragam informasi yang ada di internet. Padahal, tidak semua yang tersebar di dunia maya itu benar. Ada pandangan yang menyimpang, ada pendapat yang merusak persaudaraan, semuanya tercampur menjadi satu. Mesin tak punya kebenaran yang utuh.
Sanggupkah kita menjadikan campuran itu sebagai patokan untuk menentukan halal dan haram? Belum lagi, sistem kapitalisme saat ini kebijakannya jauh dari ilahi. Bisa saja informasi yang ditampilkan sudah disesuaikan dengan kepentingan tertentu, bukan murni menurut ajaran sang pencipta dan sang pengatur kehidupan.
Petunjuk Ilahi Tak Boleh Disaring Lewat Kode Buatan Manusia
Dalam Islam, hukum agama tidak boleh diucapkan sembarangan. Sumbernya jelas, yaitu Al-Qur'an, Sunnah, ijmak sahabat, dan qiyas. Mengambil hukum bukan sekadar menyalin ayat, melainkan menggali makna dan menyesuaikannya dengan kondisi nyata. Inilah yang hanya bisa dilakukan oleh ulama yang berilmu dan takut kepada Allah. Fatwa butuh hati dan ilmu, bukan sekadar data.
Firman Allah SWT yang artinya,
"Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43).
Perintah ini ditujukan kepada manusia yang berilmu, bukan kepada benda mati. Sebab, ulama memahami alasan hukum, menyesuaikan jawaban dengan si penanya, dan bertanggung jawab di hadapan Allah. Mesin tidak memiliki hati, tidak memiliki rasa takut, dan tidak bisa merasakan apa yang dirasakan orang yang bertanya.
Jika kita terlalu bergantung pada mesin, perlahan kita akan menjauh dari ulama—pewaris ilmu nabi. Kita pun bisa bingung karena jawaban yang berubah-ubah, dan takutnya pemahaman agama kita dibentuk oleh kepentingan orang lain, bukan oleh wahyu Allah.
Menyikapi Teknologi dengan Bijak
Bukan berarti AI dilarang. Ia boleh dipakai untuk membantu mencari ayat, memahami arti kata, atau merangkum materi. Namun hasilnya tetap harus dikonfirmasi kepada guru kita.
Untuk urusan hukum, nasihat hidup, dan pemahaman mendalam, tempat rujukan kita tetaplah para ulama. Ilmu agama adalah warisan yang disampaikan dari hati ke hati, dari dada ke dada, bukan sekadar dibaca di layar.
Mesin bisa menjadi asisten yang berguna, namun takkan pernah sanggup menggantikan ulama. Surga takkan bisa diunduh, dan pertanggungjawaban di akhirat takkan bisa dihindari lewat algoritma. Waallahu'alam bisshoab. []


Posting Komentar