-->

Tahun Baru Hijriah, Saatnya Umat Hijrah Jadi Khairu Ummah

Oleh : Ledy Ummu Zaid

Kaum muslimin di seluruh dunia bersuka cita menyambut tahun baru Hijriah. Bulan Muharam pun menjadi titik awal perjuangan seorang muslim dalam hal spiritual. Banyak yang bercita-cita menjadi hamba-Nya yang bertakwa, tetapi melupakan berbagai persoalan yang ada di sekitarnya. Kini, kondisi kaum muslimin tengah terpuruk di semua lini kehidupan. Berbagai persoalan belum menemukan titik akhir dan semakin memprihatinkan.

Tahun Baru, Umat Masih Terpuruk

Dilansir dari laman bbc.com (23/06/2026), seorang perempuan berinisial YTR disekap dan dianiaya sang kekasih, Taufik Hidayat. Adapun pelaku melancarkan aksinya selama kurang lebih tiga tahun. Selama penyekapan, korban terus mengalami kekerasan fisik, mulai dari mata yang dicolok, bibir yang digunting hingga kaki yang lumpuh akibat dibacok.

Tak hanya itu, kerugian materiil juga dialami korban. Barang-barang berharga dan uang sebesar Rp 52 juta pun raib. Akibat penganiayaan tersebut, korban mendapat banyak luka berat dan kerusakan pada organ tubuhnya. Tanda-tanda kekerasan tersebut tentu didapat dari penganiayaan yang dilakukan Taufik Hidayat, warga Nagreg, Kabupaten Bandung. Usut punya usut, pelaku berprofesi sebagai penagih utang yang mana pekerjaannya memang terkenal kasar.

Di sisi lain, Komisi Penyelidikan Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Palestina yang Diduduki mengatakan pasukan Zionis sengaja menjadikan anak-anak sebagai target dalam operasi militer mereka, seperti yang dilansir dari laman metrotvnews.com (23/06/2026). Khususnya, wilayah Jalur Gaza dan Tepi Barat yang hingga kini masih terus diwarnai serangan brutal Israel.

Pihaknya juga menyebut tindakan tersebut jelas terkategori sebagai genosida. Miris, kejahatan kemanusiaan dan perang oleh Israel terhadap rakyat Gaza, Palestina belum dapat dihentikan hingga kini. Sejak dimulainya agresi militer besar-besaran yang dilakukan Zionis pada tahun 2023, tercatat 73.000 ribu jiwa telah melayang dan lebih dari 180.000 orang luka-luka.

Penting untuk disadari pula, persoalan LGBTQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, and queer or questioning) semakin masif di dunia. Dilansir dari laman mui.or.id (19/06/2026), terdapat 37 organisasi dari Jaringan Masyarakat Sipil yang menolak desakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar pelaku dan pengkampanye LGBTQ dipidana. 

Jaringan Masyarakat Sipil ini menganggap regulasi tersebut dapat berpotensi mengkriminalisasi individu berdasarkan identitas gender dan orientasi seksualnya. Menurut mereka, pidana yang ada juga dapat membungkam suara-suara yang memperjuangkan hak asasi manusia (HAM).

Kapitalisme Masih Mencengkeram

Berbagai persoalan ini tidak serta-merta terjadi begitu saja. Adapun sistem kapitalisme sekuler masih mencengkeram manusia hingga hari ini. Ideologi yang lahir akibat Eropa melepaskan diri dari hegemoni gereja ini telah jelas memisahkan agama dari kehidupan. Dengan menjadikan materi sebagai standarnya, kehidupan akan berjalan seperti persaingan belaka.

Lebih lagi, Amerika Serikat (AS) sebagai negara adidaya menjadi yang terdepan menganut sistem kapitalisme. AS tentu akan senantiasa berusaha menyebarkan ideologi busuk kapitalisme ini. Akhirnya, paham liberal (bebas) semakin masif bercongkol di benak masyarakat dunia hari ini. Tak terkecuali masyarakat di Indonesia yang kini mulai mendapatkan pengaruhnya. Banyak orang yang tak segan berperilaku bebas dan hanya mengikuti hawa nafsu mereka.

Meski menjadi negara mayoritas muslim terbesar di dunia, namun tidak menjadikan kaum muslimin di Indonesia selalu taat pada nilai dan norma yang berlaku. Terbukti semakin banyak muslim yang kerap melanggar hukum syarak. Tindak kriminalitas pun tinggi karena masyarakat mengindahkan perkara halal dan haram. Berbagai kalangan dari anak-anak hingga lansia sudah terbiasa melakukan dosa.

Inilah akibat penerapan sistem kapitalisme yang telah mendunia. Dari Indonesia hingga Palestina semua terkena dampaknya. Zionis Israel terus melakukan genosida kepada muslim Palestina, tetapi dunia hanya diam saja. Seolah itu hanya persoalan negara Palestina sendiri, negeri-negeri muslim pun tak mampu membebaskan tanah Baitul Maqdis tersebut. Adapun konflik di Timur Tengah yang baru-baru ini terjadi dimana Iran menyerang balik Israel-AS juga nyatanya tidak dapat menjadi solusi tuntas bagi persoalan Palestina.

Urgensi Hijrah di Tahun Baru Hijriah

Muharam merupakan bulan pembuka di tahun hijriah. Sejalan dengan ini, kaum muslimin seharusnya memiliki semangat baru untuk hijrah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kemudian, umat juga perlu menyadari bahwa segala kerusakan yang terjadi lantaran manusia telah meninggalkan aturan Allah azza wa jalla. Dengan demikian, urgensi hijrah di tahun baru hijriah ini sepantasnya dimiliki individu dan masyarakat hingga negara.

Adapun hijrah yang hakiki menjadi solusi pamungkas untuk menyelesaikan segala persoalan hidup umat hari ini. Tentu, umat harus beralih dari sistem kufur kapitalisme buatan manusia menuju sistem adil buatan Sang Pencipta, Allah subhanahu wa ta’ala. Sistem Islam yang diterapkan secara menyeluruh meniscayakan keadilan dan keteraturan hidup bagi seluruh umat manusia.

Hal pertama yang perlu diingat, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat telah mencontohkan bagaimana penerapan syariat Islam kafah, yakni daulah (negara Islam) pertama di Madinah. Demikian juga, para sahabat beliau seperti, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu, Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu juga pernah menjabat sebagai seorang khalifah atau pemimpin kaum muslimin.

Dengan demikian, umat sudah semestinya merindukan penerapan syariat kafah ini. Adapun caranya adalah dengan berjuang bersama mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyyah. Pada kenyataannya, kaum muslimin hari ini memang belum mengenal bagaimana peradaban Islam ini dapat berjalan dengan baik. Terlebih lagi, debu-debu kapitalisme dari Barat terus menyelimuti kehidupan umat. Oleh karenanya, dakwah seperti yang dilakukan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat untuk menyeru umat pada ketakwaan dan meninggalkan kemaksiatan wajib dilakukan saat ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung“. (TQS. Al-Imran: 104).

Khatimah

Kini, umat tidak bisa hanya memikirkan kebaikan pada diri mereka sendiri. Bagaimanapun kapitalisme akan selalu berdampak pada kehidupan. Dengan demikian, di tahun baru hijriah ini, sudah seharusnya umat memiliki spirit hijrah untuk menjadi khairu ummah (umat terbaik) seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an. Tentu, dakwah amar makruf nahi munkar untuk menegakkan syariat Islam kafah menjadi satu-satunya jalan yang wajib ditempuh kaum muslimin.

Sumber:
https://www.bbc.com/indonesia/articles/c621zr73093o.amp
​​https://www.metrotvnews.com/read/NxGCPDej-laporan-pbb-sebut-israel-diduga-sengaja-targetkan-anak-anak-palestina
https://mui.or.id/baca/berita/berikut-37-organisasi-yang-menolak-desakan-mui-agar-pelaku-dan-pengkampanye-lgbt-dipidana
https://almanhaj.or.id/2708-amar-maruf-nahi-mungkar-menurut-hukum-islam.html