-->

Tahun Ajaran Baru, Semangat Baru atau Kekhawatiran Baru?


Oleh : Dinda Kusuma W T

Mendidik anak di era modern bukanlah tugas yang mudah. Orang tua Muslim dihadapkan pada berbagai tantangan yang kompleks dalam upaya membentuk karakter dan kepribadian anak sesuai ajaran Islam. Bagaimana kita bisa membentengi anak-anak dari pengaruh negatif lingkungan yang semakin masif.

Disisi lain, ada momen bagi setiap orangtua murid dimana muncul segala kekhawatiran. Salah satunya momen ketika anak-anak akan menerima rapot atau memasuki tahun ajaran baru. Beban orangtua akan semakin terasa apalagi bagi orangtua yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan swasta. Hal ini tak lain karena ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh orangtua yakni biaya pendidikan.

Tantangan besar lainnya, adalah memilih dan mendaftarkan anak ke sekolah baru yang jenjangnya lebi tinggi. Bukan rahasia jika sistem penerimaan siswa baru di Indonesia selalu problematik. Mulai dari problem persyaratan yang berubah-ubah tiap tahunnya, hingga isu orang dalam dan suap atau jual beli kursi.

Ditambah kondisi ekonomi yang memukul masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, sangat terasa menjelang tahun ajaran baru. Orangtua berjuang mencari uang untuk biaya pendidikan anak yang jumlahnya tidak sedikit.

Bahkan datang berita dari sebuah daerah Nusa Tenggara Timur yang mayoritas orangtuanya kesulitan menyediakan perlengkapan sekolah bagi anak mereka. Banyak yang berutang dan banyak pula yang mencari seragam bekas dari murid terdahulu. ”Di tempat kami, warga berusaha saling bantu dengan seragam layak pakai. Yang punya mau memberi kepada mereka yang memintanya. Di tengah kondisi ekonomi yang sedang susah, sesama warga harus saling bantu,” kata Petrus Bere, Ketua RT 011, RW 005, Kelurahan Sikumana, Kota Kupang (kompas.id, 24/06/2026).

Sungguh sebuah ironi bagi sebuah negara yang konon tujuannya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Alih-alih menjamin hak dasar pendidikan bagi generasi, negeri ini justru berbisnis dengan rakyatnya dalam segala lini, termasuk pendidikan. Ketika jaminan pendidikan sudah tidak diberikan, maka kehancuran bangsa dan negara adalah sebuah keniscayaan.

Melihat fakta sengkarut sistem pendidikan saat ini, jelas Indonesia masih jauh dari kata maju dan makmur. Prinsip kapitalisme yang diterapkan saat ini tidak akan mampu mencetak generasi unggul. Sistem kapitalisme memandang segala sesuatu dari sudut pandang keuntungan materi. Dengan demikian pendidikan gratis sangat mungkin dianggap sebagai beban negara. Sistem pengelolaan negara ini harus diganti dengan sistem yang lebih sempurna dan berpihak pada kebaikan seluruh rakyat, yaitu sistem islam.

Pendidikan salah satu hal yang mendapat perhatian khusus dalam islam. Ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting. Islam memandang, ilmu adalah pondasi peradaban. Ilmu lah yang akan menentukan seseorang mengenal penciptanya, mampu mentaatinya, dan menyelamatkan manusia dunia dan akhirat. Sejarah telah mencatat bagaimana penghargaan islam terhadap ilmu. 

Pada masa kejayaannya, Daulah Islam menjadi pusat pendidikan seluruh dunia. Misalnya pada masa Khalifah Umar bin Khatab, selain pendidikan disediakan gratis, guru pun digaji tinggi, sekitar 15 dinar atau kurang lebih 30juta rupiah jika dikurskan dengan mata uang sekarang. Sarana prasarana pendidikan sangat diperhatikan. Salah satu universitas tertua di dunia, Al Azhar Mesir, masih menjadi tujuan utama para penuntut ilmu seluruh dunia. 

Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan budaya Islam mampu mempengaruhi peradaban dunia. Jauh berbeda dengan sistem kapitalisme, negara islam tidak akan menjadikan pendidikan sebagai lahan bisnis. Pendapatan negara diambil dari berbagai sumber kekayaan yang dikelola sendiri oleh negara, tanpa campur tangan swasta asing sedikitpun. Dengan demikian, semua hasilnya bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, salah satunya untuk biaya pendidikan. Hanya negara yang menerapkan sistem islam yang mampu mewujudkan mimpi pendidikan gratis dan berkualitas. Yang pada akhirnya mampu menciptakan kesejahteraan hakiki bagi seluruh umat manusia. Wallahu A'lam bishsawab.