Krisis Mental Health Gen Z, Butuh Solusi Sistemik
Oleh : Essy Rosaline Suhendi, Aktivis Muslimah Karawang
Menyambut Indonesia emas 2045, remaja saat ini menghadapi gangguan kesehatan mental yang mengancam keberlangsungan hidup masa depan. Tanpa penanganan yang tepat, masalah tersebut akan menghambat tumbuh kembang generasi bangsa. Secara global, organisasi kesehatan dunia (WHO) memprediksi satu dari tujuh anak berusia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental dan menyumbang 15% dari beban penyakit global pada kelompok usia ini. Namun, kebanyakan kondisi demikian tidak dikenali dan tidak diobati (www.kompas.com, 18/06/26).
Generasi digital atau dikenal dengan istilah Gen Zoomers (Gen Z) dijuluki generasi digital native yang artinya tumbuh bersamaan dengan reformasi digital. Era digital yang berkembang semakin pesat, salah satunya pengaruh medsos seringkali dijadikan penyebab Gen Z mengalami gangguan kesehatan mental.
Selain itu, tekanan sosial juga mendorong untuk berprilaku gaya hidup hedonis dan individualis. Belum lagi, trend remaja saat ini juga seringkali menormalisasi sebuah perilaku yang melanggar norma agama dan masyarakat. Contoh teladan yang bisa memperbaiki kepribadian pun sulit dicari, sebab yang disuguhkan di lingkungan sekitar hanyalah tentang nilai pencapaian sukses di dunia dan memandang kehidupan akhirat bukan sesuatu yang wajib dikejar.
Maka tak heran, jika gangguan kesehatan mental yang dialami bagaikan penyakit yang sulit untuk diobati. Pola pikir dan sikap remaja saat ini diibaratkan hanya mengandalkan GPS. Saat sinyal hilang, mereka kebingungan karena tidak ada yang mengarahkan.
Fenomena demikian menggejala bahkan di seluruh dunia. Faktor ekonomi juga turut memperburuk kesehatan mental Gen Z karena menyebabkan ketidakpastian karier dan masa depan serta beratnya memenuhi kebutuhan hidup yang serba mahal, sehingga Gen Z bersikap lebih skeptis.
Namun dari kondisi tersebut, jadi muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi, mereka lebih terbuka mengutarakan kegelisahan terkait kesejahteraan kesehatan mental dan lebih berpikir kritis. Sayangnya, remaja saat ini hidup dalam sistem sekuler kapitalisme. Sistem ini melahirkan beragam aturan manusia dengan cara memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan asas keuntungan sebagai tolak ukur perbuatan.
Kondisi semacam itu, membuat kehidupan manusia termasuk remaja terjangkit krisis multidimensi. Krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini menjadi pemicu utama kecemasan Gen Z. Potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekuleristik kapitalistik.
Hal di atas menjadi bukti abainya riayah negara dalam membimbing dan melindungi generasi. Alih-alih dirangkul, generasi muda justru seringkali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya. Padahal, kecemasan dan sikap kritis Gen Z bisa menjadi peluang perubahan untuk mereka bangkit menuju kondisi yang lebih ideal.
Oleh karenanya, perlu ada perubahan secara sistemik untuk memperbaiki keadaan generasi. Perubahan yang mengakar berasal dari sistem rusak yaitu sistem sekuler kapitalisme yang semestinya tidak pantas dijadikan sebagai sistem kehidupan manusia, sebab hanya menimbulkan berbagai macam kekacauan yang dapat mengancam masa depan generasi.
Maka dari itu, Islam hadir sebagai solusi atas krisis yang melanda dunia hari ini. Dalam Islam, seluruh aspek kehidupan meliputi politik, sosial, budaya, hukum, dan pendidikan harus berlandaskan akidah Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Penerapan syariat Islam secara menyeluruh, niscaya akan mendatangkan sebuah kehidupan yang rahmatan lil alaamiin, membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah al-Araf ayat 96 yang artinya, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
Oleh karenanya, hanya sistem Islam yang dijamin dapat membawa keberkahan sehingga mampu mencetak generasi cemerlang. Sebagaimana dulu pernah didirikan sebuah negara Islam di masa kekhalifahan Islam. Karakter generasi di masa kejayaan Islam sangat kuat, berkepribadian Islam dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan, contohnya Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel di usia yang sangat muda.
Saat itu, negara mau dan mampu hadir sebagai pelindung dan pelayan umat, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Negara juga turut menciptakan suasana keimanan di tengah masyarakat, menutup akses pemahaman yang dapat merusak fitrah manusia, dan mendorong masyarakat untuk berlomba dalam beramal baik juga saling menasihati dalam keburukan.
Tentunya perubahan sistemik, harus ada kelompok yang menggerakkan. Itulah tugas setiap Muslim yang mengaku beriman, menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban mabda Islam, serta peduli terhadap kondisi umat. Agar masa depan emas bukan sekadar mimpi belaka. Ibnu Abbas ra. pernah berkata, "Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah melainkan ia dipilih dari kalangan pemuda saja. Begitu juga tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu melainkan (hanya) dari kalangan pemuda.”[]

Posting Komentar