-->

Rakyat tercekik, Harga Pertamax Naik


Oleh : Siti Khairunnisa

Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertamax Green naik mulai Rabu (10/06). Harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Calon kelas menengah dan menengah atas bakal terbebani, kata pengamat.
Pertamina Patra Niaga mengumumkan pada Selasa (09/06) malam, harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter.
Adapun Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Dua jenis BBM ini masuk kategori nonsubsidi, alias pemerintah tidak memberi bantuan dana dari APBN guna memotong harga jual produk ini.
Sebelumnya, pengamat mengkhawatirkan, kenaikan BBM nonsubsidi bakal membuat warga menengah dan menengah atas "turun kelas".

Mereka juga khawatir, dalam waktu dekat, bakal terjadi perpindahan besar-besaran dari pembelian barang nonsubsidi ke subsidi—yang efeknya bisa memicu kelangkaan jika situasinya berkepanjangan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk mengantisipasi potensi pergeseran konsumsi ke BBM subsidi Pertalite menyusul kenaikan harga Pertamax.(bbc.com 
16/06/2026)

Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperketat pengawasan distribusi BBM subsidi melalui sistem QR Code dan pengawasan lapangan.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengakui kemungkinan terjadinya peralihan pengguna BBM nonsubsidi ke Pertalite merupakan fakta yang tidak bisa dihindari. Namun, berdasarkan pemantauan dalam dua hari terakhir, pergeseran konsumsi masih relatif terbatas.

Pertamina juga terus memantau transaksi BBM subsidi jenis Biosolar ataupun Pertalite secara rutin untuk memastikan penyaluran berjalan sesuai dengan ketentuan dan dapat diterima konsumen yang berhak. Di tingkat SPBU, pengaturan antrean melalui marshaling serta penambahan operator pelayanan turut dilakukan guna mendukung kelancaran pelayanan kepada masyarakat.

Sebelumnya, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah, mengatakan, dampak yang bisa muncul dalam kondisi saat ini antara lain, pertama, biaya transportasi semakin tinggi. Pengguna kendaraan pribadi, pelaku usaha mikro, kurir, hingga pengemudi transportasi daring akan merasakan peningkatan biaya operasional. Bagi kelompok yang mobilitasnya tinggi, kenaikan ini dapat mengurangi daya beli karena sebagian pendapatan harus dialihkan untuk membeli BBM.
(kompas.id 16/06/2026)

Melihat fakta yang terjadi sejatinya polemik pertamax naik hanya sebuah topeng yang menutupi bopeng lainnya. Pemerintah faham betul, bahwa BBM adalah sesuatu yang terpenting bagi masyarakat khususnya masyarakat menengah ke atas. Karena aktivitas diluar yang lebih banyak dengan kerjaan yang jaraknya tidak dekat dengan rumah. Untuk menengah kebawah tentu ini sangat mencekik. Poin yang sebenarnya kenaikan BBM adalah ingin mematikan usaha masyarakat dan membuat semua harga ikut naik juga sehingga semua masyarakat berfikir untuk beralih ke yang lebih murah tetapi semuanya dibuat langka. 

Uniknya, sistem ini dengan bangga unjuk gigi dengan kondisinya yang bobrok. Kita bisa lihat sistem ini ingin tampil dan di notice tapi harus dengan menyiksa masyarakat. Ingin menciptakan masyarakat yang tunduk tapi tunduk karena takut bukan tunduk karena bangga. 

Dan dengan fakta yang memang terasa tentang pertamax yang naik membuat daya beli masyarakat turun. Semua berfokus pada penghematan besar-besaran mengalokasikan yang mana lebih penting. Sehingga, ini juga berimbas kepada para petani untuk pembelian bahan makan. Inilah dia sistem kapitalis hadir untuk mengurangi kebutuhan inti bukan memenuhi. 

Sudah tertampar berbagai fakta, kenapa masih tidak sadar? 

Jika kita membahas BBM maka ini sejatinya kepemilikan umum yang pengelolaan nya harus dilakukan dengan baik dan tentu mudah didapatkan. Bukan justru dijadikan bahan komoditas utama dan dijualkan ke asing untuk dikelola. Inilah hasilnya, saat dia ada didepan kita tetapi bukan milik kita. 

Pengelolaan yang baik nyata dalam pengaturan islam karena suatu yang memang kepemilikan umum seharusnya baik dalam kelola dan didapat dengan harga semurah-murahnya. Hanya di sistem kapitalis lah suatu yang kepemilikan umum tanpa malu dijual dengan harga mahal. Jujur, memalukan. 

Islam memiliki pengelolaan baitul mal untuk memenuhi kebutuhan inti masyarakat. Sedangkan, sekarang dikembalikan pada individu. Jelas, kemiskinan merata. Sedangkan islam hadir untuk memenuhi setiap kebutuhan pendidikan gratis, kesehatan gratis. Sebagaimana:
“Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.”
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Artinya, tiga hal yang menjadi kebutuhan umum masyarakat tidak boleh dimonopoli sehingga menghalangi orang lain untuk memanfaatkannya, yaitu: 
1. Air – sumber air yang dibutuhkan bersama.
2. Padang rumput – sumber pakan atau lahan umum yang dapat dimanfaatkan bersama.
3. Api – dahulu mencakup sumber energi untuk memasak dan penerangan; dalam pemahaman modern sering dianalogikan dengan sumber energi yang menjadi kebutuhan publik.
Inilah nyata, islam hadir menjadi solusi kehidupan dengan alquran dan hadis menjadi dasar. Bahwa bumi ini tidak bisa diatur selain dari sang pemilik bumi

Wallahu a'lam bii shawab