-->

Paradigma Arah Pendidikan Nasional


Oleh : Maulli Azzura 

Kalian pilih SD negeri atau SD swasta?

Sejumlah SD negeri di berbagai wilayah dikabarkan kekurangan siswa di tahun ajaran 2026/2027. Bahkan, SD Negeri 1 Wates di Kabupaten Kudus hanya memiliki satu siswa baru. Kondisi serupa juga terjadi di SD Negeri 27 Kauman Kota Solo, SD Negeri Cepoksawit Boyolali, dan sekolah dasar negeri lainnya.

Di sisi lain, saya pernah baca ada SD yang antrean calon siswa barunya sudah penuh sampai tahun ajaran 2032. SD mana, silakan kalian cari sendiri di internet. Yang jelas, bukan SD negeri, tapi SD swasta.

Sulit dimungkiri, pesona SD swasta memang bikin silau. Mereka menawarkan kurikulum plus-plus yang bikin anak terlihat lebih upgrade, lengkap dengan guru yang mumpuni dan fasilitas sekolah yang bikin orang tua merasa, “Nih anak gue kalau nggak sekolah di sini, bakal ketinggalan nih sama yang lain.” (https://mojok.co/terminal/alasan-orang-tua-pilih-sd-negeri-daripada-sd-swasta-yang-moncer/)

Tahun ajaran baru 2026 telah dimulai. Calon siswa baru, berlomba mencari tempat menempa ilmu. Orang tua mereka ikut sibuk dengan segala persiapan. Harapannya adalah anaknya bisa dapatkan tempat yang mereka favoritkan, baik negeri maupun swasta.
Kemi melihat tahun ajaran baru kali ini seperti ajang kompetisi antara sekolah berbasis negeri dengan swasta. Saling berlomba mencari quantity murid dengan memamerkan berbagai program unggulannya. Namun demikian ternyata jumlah anak didik baru berbasis negeri mengalami penurunan jumlah minat belajarnya. Akibatnya banyak sekolah negeri yang kekurangan peserta didik.
Penyebab pertama penurunan jumlah anak didik baru dikarenakan faktor demografi.

Banyak orang tua baru berpindah domisili, meninggalkan kawasan yang lama dengan berbagai faktor sebagai pemicunya (rumah baru, biaya hidup kota yang melejit atau bahkan mencari suasana anak yang lebih kondusif).

Penyebab kedua adalah semakin bertumbuhnya jumlah sekolah swasta baru yang memiliki keunggulan baik fasilitas, program kurikulum mandiri serta suasana gedung yang modern. Sehingga menarik minat daftar anak didik baru untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik.

Penyebab ketiga adalah sekolah negeri yang memiliki kurikulum berubah-ubah penuh ketidakjelasan  dalam realisasi program-programnya, tenaga didik yang semakin menurun baik kuantitas maupun segi kualitas. Serta semakin banyaknya kasus baik moral maupun material dalam beberapa kurun belakangan. Menjadikan sebab kenapa sekolah berbasis negeri mulai kurang di minati. 

Pendidikan yang notabene berbasis sekuler ini tak lain hanya mengebiri pemikiran para penerus generasi bangsa agar kesadaran berfikirnya tidak kritis, hanya dipersiapkan sebagai instrumen produksi yang serba materi. Akibatnya mutu pendidikan yang stagnan, aspek keagamaan yang buruk dan hanya bertumpu pada rutinitas kurikulum sekuler.

Harusnya negara tidak boleh melarikan diri dari tanggung jawabnya sebagai periayah rakyat dan karib dalam pelukan liberalisasi pendidikan sekuler. Karena generasi bangsa adalah mekanis penting dalam kemajuan dan identitas bangsa yang terus kerkelanjutan. Jika negeri ini terus dalam pelukan liberal, bukan tidak mungkin kedepannya kehancuran didepan mata. Penjajah menggunakan cara baru untuk terus menancapkan hegemoninya di negeri ini termasuk me-liberalisasi pendidikan agar sejalan dengan pemikiran penjajah. Sehingga umat semakin tidak tersadar bahwa mereka terus terjajah.

Pendidikan Sebagai Tazkiyah vs Pabrik Buruh Industri

Dari sudut pandang ideologis, pendidikan adalah instrumen *Penyucian Jiwa* (tazkiyah), Pembentukan Adab* (Ta'dib), dan pembebasan harkat manusia dari segala bentuk penghambaan, termasuk penghambaan kepada modal.
Negara wajib menjamin akses pendidikan sebagai bentuk pelayanan publik (riayah), bukan sebagai komoditas dagang. Namun, apa paradigma yang melandasi arah pendidikan nasional hari ini? Market-Driven Education -pendidikan yang didikte penuh oleh selera pasar bebas.

Sekolah negeri tidak lagi dicita-citakan sebagai kawah candradimuka lahirnya intelektual kritis,mencetak para  ilmuwan berintegritas, dan pemimpin berakhlak mulia. Sekolah negeri telah dikerdilkan sekadar menjadi "Pabrik Cetak Ijazah" yang melatih tenaga kerja terampil untuk disuapkan ke dalam mesin-mesin industri kapitalis. Dilihat  dengan kacamata kritis, adalah bentuk intervensi negara untuk menyediakan pembiayaan mutu pendidikan berbasis negeri hanya sebatas wacana. Hingga akhirnya minat belajar terus semakin menurun. 

Membenahi pendidikan baik kualitas dan kuantitas hanya bisa dilakukan dengan memulai mengganti sistem pendidikan berbasis sekuler liberal dengan Islam. Islam memandang menuntut ilmu sebuah kewajiban dan hadirnya negara adalah menjamin 100% bahwa kegiatan belajar mengajar sejalan dengan syariat Islam. Maka kembali lagi ke sebuah sistem (ideologi bangsa). 

Jika menginginkan mutu pendidikan dan minat belajar yang bersinar, hanya akan dapat dilakukan dengan mengganti sistem sekuler dengan sistem Islam. Pendidikan  adalah hak dasar rakyat.

Pendidikan  adalah hak dasar rakyat dan kewajiban mutlak negara. Jangan biarkan ia berubah menjadi panggung sandiwara, di mana nama "Republik" diagungkan, tetapi jiwanya dikuasai oleh oligarki dan kapitalis!
‎Wallahu a'lam Bishowab