Harmonisasi Penguasa dan Rakyat Hanya Ada Dalam Islam
By: Hasna Hanan
Maraknya aksi demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil bermunculan selama dua hari terakhir. Setelah demo di Jakarta dan kota-kota lain pada Jumat (12/06), ratusan massa yang tergabung dalam gerakan Aliansi Rakyat Memanggil menggelar aksi di pertigaan Jalan Gejayan, Yogyakarta, pada Sabtu (13/06) sore.
Dalam aksi tersebut, massa mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap Presiden Prabowo Subianto atas sejumlah kebijakan dan kondisi yang dialami rakyat Indonesia, termasuk ketimpangan ekonomi, korupsi, pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga persoalan pajak yang membebani pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).(BBC news Indonesia)
Jubir Aliansi Masyarakat Memanggil Marsinah mengatakan ada 10 tuntutan yang mereka ajukan pada pemerintah untuk memenuhinya diantaranya:
Hentikan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap rawan korupsi dan minim pengawasan. Tolak Koperasi Desa Merah Putih;
Cabut revisi UU TNI, UU Polri, UU Kejaksaan dan UU Peradilan Militer;
Wujudkan Pendidikan Gratis;
Wujudkan layanan kesehatan gratis;
Pulihkan kesejahteraan dan ekonomi rakyat;
Lindungi hak-hak pekerja;
Lindungi dan berikan hak-hak pekerja ojek online;
Bebaskan seluruh tahanan politik;
Jaminan hak rakyat atas tanah dan ruang hidup yang layak.
Turunnya masyarakat ke jalan melakukan tuntutan kepada penguasa menunjukkan bahwa rakyat butuh solusi terhadap banyaknya penderitaan yang mereka hadapi, dari mulai ekonomi, pendidikan, keamanan dan kebutuhan pokok setiap harinya yang sulit dicari dengan naiknya BBM, yang secara otomatis akan menaikkan harga- harga barang juga.
Hal ini semakin diperparah dengan penguasa yang secara fakta juga melakukan kedzaliman korupsi tanpa henti, disetiap program pembangunan ataupun kebijakan tidak pernah terlepas dari pelaku-pelaku korupsi yang nilainya fantastis mencapai milyaran hingga triliunan, mulai dari pejabat tingginya hingga pegawai yang berada di jajaran bawahnya.
Sungguh ironi hubungan rakyat dan penguasa dalam sistem kapitalis demokrasi tidak sesuai dengan visi misi diterapkannya ideologi tersebut, dimana slogan dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat, ternyata sebaliknya justru rakyat hanya sebagai objek penderita yang harus melayani tuannya para penguasa gila harta dunia. Oleh karenanya wajar rakyat kemudian melawan dengan menuntut pelayanan publik serta kebijakan yang merugikan dan menyengsarakan mereka dengan aksi demonstrasi.
Demokrasi Ilusi Tanpa Solusi
Kekecewaan rakyat terhadap pengusaha inilah yang menjadi problem utamanya. Pesta rakyat pemilihan presiden beserta wakil rakyat yang duduk didalam lembaga pemerintahan selama lima tahun periode pengangkatannya ternyata tidak sesuai dengan harapan rakyat, keadilan dan kesejahteraan sepertinya memang jauh panggang daripada api tidak pernah bertemu.
Di alam demokrasi menjadikan mereka para pejabat membuat aturan untuk menjalankannya masuk dalam lembaga trias politika ada eksekutif, yudikatif dan legislatif, namun manusia sejatinya memiliki sifat lemah untuk dijadikan sandaran dalam pembuatan hukum. Ada perbedaan tingkat berpikir antara satu dan yang lain, termasuk kemampuan mengindra fakta dan akar permasalahannya. Belum lagi terdapat berbagai kepentingan yang berbeda. Semua ini menyebabkan aturan manusia di satu tempat bisa jadi tidak sesuai dan tidak memuaskan manusia di tempat yang lain.
Contoh, UU Minerba dibuat untuk menguntungkan pengusaha. UU Cipta Kerja menuai kontroversi di tengah masyarakat karena aturan-aturannya dibuat sesuai hawa nafsu dan kepentingan mereka. Standar pembuatan aturan pun menjadi tidak pasti, belum lagi kebijakan MBG lahan basah korupsi.
Sementara penguasa juga dipandang “telah dibayar mahal” oleh negara. Gaji pokok dan berbagai tunjangan yang menyertainya bahkan mencapai ratusan juta per bulan. Belum lagi bonus-bonus tertentu yang nilainya bisa mencapai angka miliaran! Hal ini sangat kontras dengan kondisi rakyat yang tengah sulit mendapatkan lapangan pekerjaan, melambungnya harga-harga bahan pokok, dan tuntutan pajak yang kian memberatkan. Akibatnya, rakyat sering kali harus menempuh jalan berdemo dalam penyampaian aspirasi, bahkan kadang rakyat sampai menuntut penguasa untuk mundur.
Pandangan Islam
Dalam sistem Islam, penguasa dipilih rakyat untuk menjalankan aturan Allah Taala. Islam mewajibkan umatnya—rakyat maupun penguasa—untuk menerapkan seluruh aturan tersebut.
Allah ﷻ firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kafah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208).
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 36).
Dari ayat-ayat di atas, penguasa dituntut bertanggung jawab menerapkan semua aturan Islam terkait jalannya pemerintahan atau pengaturan urusan rakyat. Penguasa akan senantiasa takut pada Allah jika ia memanfaatkan harta milik rakyat untuk dirinya. Ada kisah Umar bin Khaththab ra. saat beliau menjadi khalifah, ketika beliau diberi susu dari onta milik rakyat oleh pembantunya, berkatalah Umar ra., “Celaka engkau! Engkau memberiku minum dari api neraka.” (Riwayat hasan, diriwayatkan Ibnu Zanjawiyyah di Al-Amwaal dan Ibnu Syabbah di Taariikh al-Madiinah).
Umar bin Khaththab ra. merupakan satu contoh penguasa yang adil dan bertanggung jawab terhadap urusan rakyatnya, serta rasa takutnya pada Allah begitu mendalam. Contohnya ketika beliau tidak segan mengangkut sendiri sekarung gandum untuk seorang ibu dan anaknya yang kelaparan.
Demikianlah indahnya hubungan antara penguasa (yang taat pada Allah) dan rakyatnya. Ini karena ketaatan pada aturan Allah senantiasa membawa kebaikan bagi siapa pun.
Di sisi lain, Islam mewajibkan rakyat taat pada penguasa. Firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An Nisa’: 59).
Demikian pula sabda Rasulullah ﷺ. Dari sahabat Nabi ﷺ, Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Barang siapa yang menaati aku, sungguh ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang durhaka padaku, sungguh ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang taat pada pemimpin, sungguh ia telah taat padaku. Dan barang siapa yang durhaka pada pemimpin, sungguh ia telah durhaka padaku.” (HR Muslim).
Jadi, selama kebijakan penguasa sejalan dengan syariat Islam, selama itu pula rakyat tetap harus menaatinya, suka atau tidak, senang atau tidak. Namun, jika tampak penyimpangan terhadap syariat, kewajiban utama rakyat adalah muhasabah atau mengoreksi penguasa.
Bahkan, muhasabah terhadap penguasa dikatakan sebagai bentuk amar makruf nahi mungkar terbesar, yakni mengoreksi kezaliman yang mereka lakukan terhadap rakyat. Begitu mulianya amal muhasabah ini sehingga Nabi ﷺ menyebutnya sebagai jihad yang paling utama.
Beliau ﷺ bersabda,
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah menyatakan keadilan di hadapan penguasa zalim.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ad-Dailami).
Oleh karenanya, gambaran hubungan serasi penguasa dan rakyat akan membawa umat Islam pada predikat umat terbaik.
Firman-Nya,
كُنتُمْ خَيرَ أُمَّةٍ أُخرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوْفِ وَتَنهَوْنَ عَنِ ٱلمُنْكَرِ وَتُؤمِنُوْنَ بِٱللَّهِ
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar makruf nahi mungkar, dan mengimani Allah.” (QS Ali Imran [3]: 110).
Akhirnya, semua orang hendaknya dapat belajar dari fakta kehidupan kapitalisme yang menyengsarakan rakyat dengan membandingkannya dengan kehidupan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Kembali pada kehidupan Islam seyogianya menjadi tekad setiap muslim. Inilah satu-satunya jalan untuk mewujudkan predikat khairu ummah ‘umat terbaik’ yang telah Allah Janjikan. Wallahualam bissawab.

Posting Komentar