-->

Belajar dari Gaza, Bercermin untuk Indonesia

Oleh Fatiha Shidqy

Penamabda.com-Pada pertengahan tahun, seperti lazimnya, para peserta didik berlomba-lomba membuka lembaran baru. Para guru di sekolah sibuk menyiapkan materi pembelajaran, menyusun strategi mengajar yang lebih menarik, serta mempersiapkan diri menyambut para murid. Demikian pula para orang tua yang berusaha memotivasi anak-anaknya agar semangat belajar sembari mendaftarkan mereka ke sekolah terbaik.

Betapa banyak hal yang dapat diupayakan, mulai dari kesiapan mental, fisik, hingga dukungan keluarga. Namun, mengapa masih banyak anak Indonesia yang belum mampu mencapai potensi terbaiknya? Ternyata, persoalan pendidikan di negeri ini jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan.

Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, sekitar 70 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun belum mencapai tingkat kompetensi minimum dalam membaca, matematika, dan sains. (ykpindonesia.org, 7/5/2025). Angka tersebut baru mencerminkan data yang berhasil dihimpun. Di luar itu, masih banyak persoalan pendidikan yang belum sepenuhnya terpotret.

Kondisi ekonomi sebagian masyarakat yang masih sulit serta belum meratanya fasilitas pendidikan turut memengaruhi keberlangsungan belajar anak-anak. Selain itu, angka putus sekolah masih menjadi persoalan serius. Dikutip dari Kemendikdasmen, sekitar 3,9 juta anak usia sekolah dasar hingga menengah tidak melanjutkan pendidikan. (detik.com, 7/7/2026). Sebagian di antaranya terkendala biaya, sementara sebagian lainnya memilih menikah atau menghadapi persoalan sosial lainnya. Berbagai persoalan tersebut semestinya tidak menjadi beban generasi penerus bangsa. 

Sejak awal, ilmu yang kita kejar bukanlah ketenaran ataupun jabatan, melainkan bekal untuk membangun peradaban yang lebih baik. Jika kesempatan memperoleh pendidikan terus hilang akibat berbagai persoalan yang belum terselesaikan, bagaimana bangsa ini dapat melahirkan generasi unggul?

Di sisi lain, saudara-saudara kita di Palestina masih hidup di tengah gempuran perang. Di bawah serangan zionis Israel, mereka kehilangan rumah, keluarga, bahkan rasa aman. Luka yang ditimbulkan tidak hanya membekas pada tubuh, tetapi juga mengguncang hati masyarakat dunia yang masih memiliki nurani. Namun, di tengah segala keterbatasan itu, semangat mereka untuk menuntut ilmu tidak ikut runtuh.

Salah satunya adalah Amira Al-Khatib (24), yang baru tiba di Belanda untuk memulai program magisternya di Universitas Radboud. Ia merupakan lulusan Teknik Sistem Komputer Universitas Al-Azhar Gaza pada 2025. Selama dua tahun terakhir masa kuliahnya, ia harus berjuang dengan jaringan internet yang tidak menentu. Menurutnya, satu-satunya tempat untuk mendapatkan sinyal adalah atap rumah (voxweb.nl, 11/6/2026).

"Saya menyelesaikan proyek kelulusan dengan drone terbang di atas kepala. Setiap beberapa menit saya meletakkan tangan di dada, berharap bisa bertahan hidup cukup lama untuk menyelesaikannya."

Kini, Al-Khatib melanjutkan studi di bidang sains data dan kecerdasan buatan. Kisahnya menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak selalu memadamkan tekad seseorang untuk belajar. Ketika ancaman kehilangan nyawa setiap saat tidak mampu menghentikan langkah mereka, pantaskah kita menyerah hanya karena rasa malas, tugas yang menumpuk, atau nilai yang belum memuaskan?

Islam memandang pendidikan sebagai hak setiap individu sekaligus kebutuhan mendasar yang wajib dijamin oleh negara. Karena itu, pemimpin berkewajiban mengurus urusan rakyat, menyediakan layanan pendidikan yang berkualitas, serta memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat mengaksesnya tanpa diskriminasi. Negara juga berkewajiban membentuk generasi yang berkepribadian Islam, berilmu, berakhlak mulia, serta mampu memberikan kontribusi terbaik bagi umat.

Allah Swt. berfirman,

"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Konsep tersebut hanya dapat diwujudkan secara menyeluruh melalui penerapan syariat Islam dalam institusi negara. Dengan sistem pemerintahan Islam, yaitu Khilafah, seluruh kebijakan akan diarahkan untuk mengurus kepentingan rakyat berdasarkan hukum Allah, termasuk dalam bidang pendidikan. Sistem inilah yang diyakini mampu melahirkan generasi yang kuat akidahnya, tinggi semangat belajarnya, serta siap membangun peradaban Islam.

Semangat seperti itulah yang tampak pada warga Gaza. Di tengah kondisi yang jauh lebih sulit dan penuh ketidakpastian, mereka tetap berusaha menempuh pendidikan. Sementara itu, kita masih dapat menghirup udara yang bersih, menikmati akses internet, berkumpul bersama keluarga, dan memperoleh pendidikan dengan jauh lebih mudah. Jangan sampai berbagai kemudahan tersebut justru membuat kita enggan menghadapi tantangan.

Sudah saatnya kita mensyukuri kesempatan belajar dengan sungguh-sungguh. Ilmu bukan hanya bekal untuk memperbaiki masa depan diri sendiri, tetapi juga jalan untuk membangun peradaban Islam. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk meneladani semangat warga Gaza yang terus berjuang di tengah berbagai ujian. Semoga pula kita menjadi bagian dari perjuangan menegakkan Khilafah Rasyidah agar syariat Islam dapat diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahu a'lam bishawab. []