Keberkahan Lahir Batin
Oleh : Tjandra Sari Sutisno, M. Pd., Aktivis Muslimah
Kata "berkah" sering kali kita ucapkan, namun maknanya jauh lebih dalam dari sekadar kata sifat. Berkah atau barakah artinya adalah bertambahnya kebaikan (ziyadatul khair). Keberkahan yang sejati tidaklah timpang; ia mencakup dua dimensi besar dalam hidup manusia: lahir (fisik/material) dan batin (jiwa/spiritual).
Ketika seseorang mendapatkan keberkahan lahir dan batin, hidupnya akan terasa genap, tenang, dan bermakna. Kecukupan yang mengalirkan kebaikan, banyak orang salah kaprah dengan menganggap keberkahan lahir berarti kekayaan yang melimpah ruah. Padahal, berkah secara lahiriah fokus pada kualitas dan manfaat, bukan sekadar jumlah.
Harta yang berkah, sedikitnya mencukupi, banyaknya bisa digunakan untuk berbagi. Harta yang berkah tidak membuat pemiliknya diperbudak dunia, melainkan menjadi jembatan untuk berbuat baik. Kesehatan fisik, tubuh yang sehat dan bertenaga digunakan untuk melangkah ke tempat-tempat baik, bekerja mencari nafkah yang halal, dan membantu sesama.
Keluarga dan lingkungan, rumah tangga yang harmonis, anak-anak yang santun, dan dikelilingi sahabat yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Apa yang kasat mata dan kita miliki di dunia ini tidak mendatangkan celaka atau kesombongan, melainkan mempermudah urusan hidup dan mendatangkan manfaat bagi orang lain.
Keberkahan batin, samudra kedamaian di dalam hati. Jika keberkahan lahir bisa dilihat oleh mata orang lain, maka keberkahan batin hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri dan Sang Pencipta. Ini adalah wilayah rasa, jiwa, dan spiritual. Hati yang qana’ah, merasa cukup dengan apa yang ada dan selalu bersyukur. Orang yang berkah batinnya tidak akan pernah merasa "miskin", karena kekayaan sejatinya ada di dalam hati.
Ketenangan jiwa (sakinah), tidak mudah goyah oleh badai ujian kehidupan. Ketika diterpa masalah, hatinya tetap tenang karena percaya ada hikmah dan pertolongan di balik setiap takdir. Merasakan kelezatan dalam beribadah, memiliki rasa empati yang tinggi, dan terhindar dari penyakit hati seperti iri, dengki, dan takabur.
Mengejar keberkahan lahir tanpa batin akan melahirkan ketamakan dan kehampaan. Sebaliknya, fokus pada batin tanpa memedulikan lahiriah bisa membuat kita abai pada tanggung jawab duniawi. Kunci dari keberkahan lahir batin adalah keseimbangan. Niat yang lurus, memastikan setiap aktivitas sehari-hari (bekerja, belajar, mengurus keluarga) diniatkan sebagai ibadah.
Mencari yang halal, menjaga apa yang masuk ke dalam tubuh dan apa yang dibawa pulang ke rumah berasal dari sumber yang bersih. Gemar berbagi (saodaqah), Sadar bahwa dalam setiap rezeki lahir yang kita terima, ada hak orang lain yang harus disalurkan agar batin menjadi bersih. Banyak dzikir, jembatan utama menuju keberkahan lahir batin. Dzikir juga kunci utama sekaligus pengikatnya. Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Dalam esensinya, dzikir adalah aktivitas hati dan lisan untuk selalu terhubung dengan Sang Pencipta.
Dzikir bukan sekadar untaian kata yang dibaca setelah salat, melainkan sebuah metode komprehensif untuk menyelaraskan dimensi lahir dan batin manusia. Batin adalah hulu dari segala tindakan. Jika batinnya tenang, maka seluruh hidup akan terasa lapang. Dzikir bekerja langsung menyembuhkan dan menutrisi bagian batin.
Menghilangkan kegelisahan, stres, dan kecemasan hidup. "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." Dzikir secara konsisten perlahan akan mengikis penyakit batin seperti egois, iri hati, dengki, dan kesombongan, lalu menggantinya dengan rasa rendah hati dan ikhlas. Orang yang rajin berdzikir akan selalu merasa dekat dengan Sumber Segala Rezeki. Alhasil, muncul rasa cukup dan syukur.
Esensi dari bertambahnya kebaikan (ziyadatul khair) adalah bagaimana setiap respons, informasi, dan interaksi yang saya berikan bisa benar-benar membawa manfaat, mencerahkan, atau meringankan beban pikiran orang yang sedang berinteraksi dengan saya, seperti Anda saat ini.
Menjemput keberkahan lahiriah adalah ikhtiar yang sangat mulia. Dalam sudut pandang spiritual, menjemput rezeki, menjaga kesehatan, dan mengurus keluarga dengan cara yang benar bukanlah bentuk pengejaran duniawi yang sia-sia, melainkan bagian dari ibadah itu sendiri.
Ketika fokus Anda saat ini adalah menyelaraskan urusan lahiriah agar bernilai berkah, ada beberapa pilar utama yang bisa dijadikan jangkar dalam melangkah. Seperti contoh, menjaga kesucian sumber penghasilan. Pintu pertama dari keberkahan lahiriah adalah kehalalan. Berkah tidak diukur dari seberapa besar nominal yang masuk, melainkan dari bagaimana cara ia didapatkan.
Kejelasan proses, memastikan setiap rupiah dari pekerjaan atau bisnis didapat tanpa merugikan orang lain, tanpa manipulasi, dan sesuai kesepakatan. Karena yang dilihat bukan hanya hasil, namun bagaimana jalan dari pendapatan tersebut. Mengapa demikian, ini akan ada dampak finansial itu, misalnya harta yang dijemput dengan cara yang halal, sekecil apa pun, akan membawa ketenangan di dalam rumah. Sebaliknya, harta yang tidak berkah sering kali habis untuk urusan-urusan yang mendatangkan musibah atau penyakit.
Berikutnya mengubah rutinitas menjadi spiritualitas (the mindset), agar urusan lahiriah tidak melelahkan jiwa, ubah mindset saat menjalaninya. Bekerja bukan sekadar mencari uang untuk bertahan hidup, melainkan bentuk tanggung jawab (amanah) dan sarana memberi manfaat bagi orang banyak. Ketika lelahnya fisik dalam bekerja diniatkan untuk menafkahi keluarga atau menjaga kehormatan diri agar tidak meminta-minta, maka setiap tetes keringatnya berpotensi menggugurkan dosa.
Magnet keberkahan lahiriah itu istighfar dan sedekah, Dua amalan ini adalah "pemicu" datangnya keberkahan duniawi yang polanya sering kali di luar logika manusia. Istighfar (dzikir pembersih) secara spiritual, hambatan rezeki atau rumitnya urusan lahiriah sering kali disebabkan oleh sekat-sekat dosa kita sendiri. Istighfar berfungsi membuka sumbatan tersebut. Sedekah (dzikir praktis) tidak pernah mengurangi harta; ia justru membersihkan dan menumbuhkan. Mengeluarkan sebagian rezeki untuk orang lain adalah cara paling efektif untuk mengundang "tangan-tangan tak terlihat" ikut melancarkan urusan kita.
Saat Anda melangkah keluar rumah untuk urusan lahiriah dengan formula di atas, Anda tidak sedang berjalan sendirian. Ada ketenangan yang menemani prosesnya, dan ada kepuasan apa pun hasil akhirnya. Semoga setiap ikhtiar lahiriah yang sedang Anda usahakan saat ini, baik itu pekerjaan, bisnis, maupun urusan keluarga dibukakan jalannya, dimudahkan prosesnya, dan dilimpahi keberkahan yang meluas.
Keberkahan lahir batin bukanlah tentang hidup yang sempurna tanpa masalah. Ia adalah tentang bagaimana kita merespons hidup. Dengan keberkahan lahir, fasilitas hidup kita tercukupi dan bermanfaat. Dengan keberkahan batin, hati kita lapang menerima bagaimanapun jalannya takdir. Ketika keduanya menyatu, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya, sebuah surga kecil yang sudah bisa kita rasakan sebelum surga yang abadi.[]

Posting Komentar