Degradasi Akhlak Akibat Sistem Yang Rusak
Oleh : Safa Karima
(Pelajar SMA Surabaya)
Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah sempat menembus Rp 17.960 per dolar AS pada perdagangan terbaru hari Kamis siang (11/6/2026). Secara tahun kalender berjalan, rupiah terhadap dolar AS melemah sebesar 7,34 persen (Kompas.id). Depresiasi mata uang terjadi cepat pada pemerintahan dengan masa yang masih terhitung baru. Lemahnya nilai tukar mata uang kita membuat harga bensin pun naik. Karena seluruh transaksi pembelian minyak mentah, bahan bakar jadi, maupun aditif menggunakan mata uang dollar AS. Sehingga tidak sedikit yang memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami krisis ekonomi tahun depan.
Disisi lain, negeri ini juga mengalami krisis lain yang tak kalah ngerinya selain krisis ekonomi, yaitu krisis akhlak dan nilai moral sosial. Terdapat data bahwa penurunan akhlak pada tiap lapisan masyarakat sebagaimana yang di sampaikan oleh MUI. Sekjen MUI, Buya Amirsyah Tambunan menyampaikan bahwa nilai akhlak moral masyarakat saat ini mengalami degradasi yang sangat signifikan. Menurutnya, hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah dampak negatif dari kemajuan teknologi (Mui.or.id).
Dalam upaya memperbaiki sebuah kehidupan bernegara, kestabilan ekonomi tentu sangat berpengaruh pada kualitas hidup masyarakat. Tanpa kesejahteraan, tentunya sulit untuk hidup tenang dan layak. Namun, ekonomi bukanlah satu-satunya hal penting yang menentukan berkualitas atau tidaknya sebuah negara. Banyak bukti negarayang maju secara ekonomi ternyata menguak fakta kehidupan yang tidak bahagia. Lalu faktor lain apakah yang menentukan kebahagiaan sebuah masyarakat?
Menurut Prof. Juntika, terdapat krisis moral dan akhlak yang terjadi di negeri ini. Terutama krisis nilai moral dan akhlak yang terjadi pada para pendidik. Para pendidik di negeri ini memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Peradaban sebenarnya merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan kemajuan moral, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni suatu bangsa. Pendidik yang berakhlak mulia akan menunjukkan pribadi yang dengan penuh kesabaran, penuh kasih sayang, sopan, tidak takabur, bersahabat, menyantuni, membimbing, kerja keras, berani dan adil akan menjadi inspirasi bagi peserta didik dan masyarakat di sekitarnya untuk menampilkan kepribadian yang baik sebagaimana yang dia contohkan. (Berita.upi.edu)
Namun jika kita telaah kembali, sangat sulit untuk membentuk kepribadian mulia dan akhlak yang mulia saat ini. Mengapa? Karena akhlak merupakan perilaku individu. Individu sangat tergantung dari lingkungan dimana dia tinggal. Lingkungan terbentuk dari sistem kehidupan yang sedang berlangsung. Sistem kehidupan dalam skala besar seperti negara, sistem yang mengatur ekonomi, perpolitikan, sosial dsb. Sedangkan sistem kehidupan yang berlangsung saat ini adalah sistem kehidupan kapitalisme dengan sistem ekonomi kapitalistik. Sistem kehidupan ini terbukti gagal membentuk manusia yang berkepribadian mulia dengan segala nilai-nilai kebaikannya. Bukti kegagalannya adalah seluruh persoalan kemanusiaan yang kita lihat saat ini.
Apalagi kapitalisme yang berjalan dalam sistem pemerintahan demokrasi semakin menunjukkan kerusakannya sebagai sistem kehidupan. Bagaimana tidak, dalam sistem ini untuk bisa mendapatkan udara terbanyak, pihak yang ingin berkuasa membeli suara rakyat dengan uang. Dan dengan kebijakannya yang semena-mena, mereka yang berhasil meraih kekuasaan, meraup keuntungan dan mengakibatkan tertekannya rakyat dibawah kekuasaan mereka. Hidup menjadi sulit pekerjaan susah didapat, sandang, pangan, papan sebagai kebutuhan dasar juga sulit terpenuhi, ekonomi hancur dengan terjadinya depresasi mata uang. Hal ini membuktikan sistem kehidupan yang digunakan untuk mengatur masyarakat adalah sistem yang gagal.
Sistem gagal ini juga menghasilkan orang-orang yang tidak peduli satu dengan yang lain (individualisme) karena hidupnya sendiri sudah susah palagi memikirkan kehidupan orang lain. Melahirkan manusia-manusia yang nir-akhlak.
Maka sistemlah yang membentuk akhlak masyarakatnya. Sebagaimana Sistem Islam, sistem yang menghasilkan bukan hanya cendekiawan hebat dengan ilmu pada masa gemilangnya, namun cendekiawan yang berakhlak mulia. Sistem Islam membuktikan adanya pemerintahan yang tidak menginginkan keuntungan dirinya, namun pemerintahan yang memperhatikan penerapan syariat islam dan pengurus rakyat.
Terbentuknya orang-orang dengan akhlak yang baik dan cendekiawan hebat seperti Al Khawarizmi yang menyumbang ilmu dalam pengembangan matematika dan komputer, Ibnu Sina yang berkontribusi dalam pengembangan ilmu kedokteran dan Ibnu Al Haytami sebagai penemu prinsip kamera sebagai cikal bakal fotografi modern, adalah bukti tak terbantahkan keberhasilan sistem Islam. Cendekiawan tersebut terbukti menginspirasi perkembangan teknologi hingga saat ini. Pembuktian ini bukan untuk menyatakan bahwa kita hidup dalam masa lalu, namun hal ini sebagai bukti keberhasilan sistem yang menghargai ilmu, mementingkan rakyat, pentingnya ridha Allah, dan sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.

Posting Komentar