Dolar Menguat dan Kedelai Melejit Perajin Tempe Terhimpit Butuh Solusi Islam
Oleh : Dewi Poncowati
Aktivis Muslimah Peduli Generasi
Fenomena nilai rupiah melemah karena terdepresi harga dolar Amerika Serikat, banyak yang menganggap dolar naik dengan harga saat ini di bulan April 2026 sebesar Rp. 16.000 adalah sesuatu yang biasa. Bahkan sebagian orang berpendapat dolar hanya digunakan oleh masyarakat tertentu saja. Perkiraan pakar ekonomi bulan Mei nilai dolar menjadi Rp. 17.850 dan bulan Juni genap menjadi Rp. 18.000 ini nilai yang fantastis. Kenaikan harga dolar ternyata mempengaruhi harga semua sektor, salah satunya produk tempe yang berbahan dasar kedelai. Kenaikan harga kedelai membuat para perajin tempe mensiasati produk tempe dengan bebagai cara.
Survey dari berita online kumparan.com yang berhasil diliput pada hari Sabtu, 23 Mei 2026, menurut pengakuan salah seorang perajin tempe bernama Rizky di Pasar Senen harga tempe masih tetap stabil. Mengingat tempe adalah salah satu olahan makanan yang digemari masyarakat. Walaupun kenaikan harga kedelai perkwintal semula Rp. 950.000 kini menjadi Rp. 1.100.000 hal ini membuat perajin tempe tetap memproduksi tempe dengan berbagai upaya mulai dengan pengurangan produksi dan merubah ukuran tempe lebih kecil. Saat ini banyak perajin tempe beralih pada kemasan daun pisang ini disebabkan kenaikan harga plastik.
Tempe kemasan plastik masih tetap berkisar Rp. 10.000 perpapan hanya saja ukuran diperkecil. Para perajin tempe tetap berharap harga kedelai kembali normal. Fakta lain berita online dari Kompas Malang Surabaya menambahkan terkait kenaikan harga impor kedelai, pengakuan seorang perajin tempe di Kampung Sanan bernama Taryono usia 60 tahun pada hari Rabu, 20 Mei 2026. Memproduksi tempe kemasan plastik menuturkan, saat ini harga kedelai impor dari Amerika tembus Rp 10.500 per kilogram (kg). Harga sebelumnya masih dalam kisaran Rp 9.000 per kg. Adapun harga plastik yang semula Rp 35.000 per kemasan juga naik menjadi Rp 51.000.
Dalam sehari membutuhkan 450Kg kedelai. Penjualan tempe lebih banyak disasar oleh Pedagang, untuk dijual kembali dan 20 persen dipasok untuk program Makan Bergizi Gratis. Ini mempengaruhi pengurangan keuntungan 20 persen. Kondisi harga pangan kedelai Indonesia masih bergantung pada impor kedelai dan harga plastik yang naik drastis karena kondisi geopolitik global. Fakta dari berita online cnbcIndonesia menyatakan impor kedelai dan bahan dasar pembuatan mie yaitu terigu bernilai triliunan ini disebabkan tempe dan mie adalah makanan yang diminati terbesar di Indonesia.
Indonesia adalah negara agraris dengan beriklim tropis dan tanah yang subur. Seharusnya cocok dengan pengembangan perekonomian pada sektor pertanian. Kenyataannya saat ini negara Indonesia masih kesulitan dalam hal pemenuhan pangan negerinya. Paradigma kapitalisme secara global menyebabkan ketergantungan pada negara lain yang memonopoli bahan baku pangan pada akhirnya terjadi kesenjangan perkembangan perekonomian di beberapa negara lemah. Sebagai contoh perekonomian domestik suatu negara yang tidak stabil saat ini rentan dengan fluktuasi nilai dolar Amerika Serikat. Rupiah terdepresi menyebabkan bahan baku melambung tinggi. Sistem kapitalisme dengan memonopoli harga kedelai melahirkan ketegantungan abadi pada negara Amerika Serikat dan Brazil.
Pemenuhan kebutuhan kedelai negara Indonesia 90 persen dari importir, ini menunjukan lemahnya peran negara. Kedelai dan plastik adalah kebutuhan yang mendasar bagi perajin tempe, kenaikan harga tersebut menyulitkan pengusaha kecil dalam mengembangkan usahanya demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Sejatinya jika menelusuri sejarah dari Historia.id mengenai perdagangan kedelai sejak jaman Hindia Belanda pada tahun 1920 melakukan import terbesar di Dunia. Praktik penjajahan Belanda atas Indonesia menghargai kedelai dari petani lokal dengan harga yang rendah akhirnya beberapa petani enggan menanam kedelai sedangkan kebutuhan kedelai untuk bahan pangan dan produksi pembuatan tempe terus meningkat.
Monopoli perdagangan kedelai oleh Belanda dan diekspansi oleh negara negara penjajah lain dengan sistem Kapitalisme dibelahan dunia ini terus terjadi hingga saat ini menyisahkan Keterpurukan dibelahan dunia manapun. Semua ini membutuhkan penyelesain dengan sistem yang mampu menyelesaikan hingga akarnya. Islam memandang kebutuhan pangan rakyat merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh negara. Buruknya sistem kapitalisme global memberikan dampak ketidakstabilan harga pangan dunia karena bergantung pada nilai mata uang dunia. Inilah pentingnya keberadaan negara dalam menjaga kestabilitasan harga. Islam memposisikan pemimpin dalam sebuah negara sebagai Ri’ayatul ummah atau mengurus rakyat dalam berbagai aspek kehidupan.
Negara daulah khilafah menerapkan sistem perekonomian Islam yang memiliki kestabilan dalam menilai suatu barang dan menjaga kedaulatan dengan berstandarkan mata uang emas dan perak yang akan mencegah terjadinya inflasi. Negara juga melarang aktivitas yang diharamkan, misalnya praktek muamalah ribawi, gharar/spekulasi dan perjudian serta melarang penimbunan barang. Dalam hal mencukupi kebutuhan pangan dan pengadaan lahan negara akan menyediakan swasembada pangan tanpa bergantung pada negara lain. Negara khilafah dalam kebijakan pertanahan, negara akan menghidupkan tanah yang mati dalam arti tanah selama tiga tahun tidak produktif akan diberikan kepada petani yang mau menggarap.
Bukan hanya dalam hal pertanahan saja namun untuk kepengurusaan bibit unggul, perawatan tanaman hingga masa panen tiba negara membantu pemasaran dan pendistribusian hasil bagi rakyat yang membutuhkan. Semua bantuan bersumber dari Baitul mal dan APBN Baitul mal diperoleh dari harta kepemilikan umum, yaitu sumber daya alam meliputi air, api dan padang rumput. Negara wajib menerapkan aturan pelarangan perorang atau kelompok menguasai ketiga unsur tersebut, dikelola dan diambil manfaatnya untuk kepentingan perorang atau kelompok. Rasulullah SAW bersabda dalam hadist riwayat Abu Dawud dan Ahmad yang artinya adalah“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api.”
Negara daulah khilafah mengurus harta kepemilikan umum dengan cara mengolah unsur terkandung didalamnya seperti minyak bumi, gas, sumber mineral dan barang tambang lainnya dengan mandiri. Pengelolaan, pendistribusian dan pengembangan perekonomian hasil sumber daya alam dan produksi pertanian diperluas dengan cara negara menciptakan lapangan pekerjaan untuk rakyatnya sehingga setiap kepala keluarga akan mampu menafkahi anggota keluarganya. Sedangkan dalam hal pendidikan, Kesehatan dan keamanan secara menyeluruh negara yang menjamin atas rakyatnya. Hanya dengan solusi sistem Islam yang dapat menyolusi semua permasalahan yang ada di dunia ini. Sistem Islam hanya dapat diterapkan dalam naungan negara daulah khilafah.

Posting Komentar