Israel Raya' di Depan Mata, Dimana Persatuan Dunia Islam?
Oleh : Isna
Krisis kemanusiaan dan geopolitik yang melanda Palestina terus menjadi luka mendalam bagi dunia internasional, khususnya umat Islam. Dinamika di lapangan menunjukkan bahwa peningkatan intensitas konflik yang terjadi bukan sekadar benturan militer biasa, melainkan bagian dari desain jangka panjang yang terstuktur untuk mengubah peta demografi dan geografi wilayah Palestina secara permanen demi mewujudkan ambisi "Israel Raya". Kondisi nyata di tanah Palestina saat ini memperlihatkan agresi yang tidak kunjung surut, di mana entitas zionis terus menggempur Gaza tanpa memedulikan desakan gencatan senjata. Berdasarkan laporan, terdapat skenario terstruktur yang memicu kekhawatiran besar warga Palestina mengenai rencana Israel untuk menguasai hingga 70 persen wilayah Gaza secara bertahap melalui pembentukan zona penyangga. (metronews.com 14/06/26)
Sejalan dengan itu, pencaplokan tanah di Tepi Barat terus dipacu secara agresif guna merampas ruang hidup warga lokal demi memperluas wilayah kekuasaan mereka hingga mencapai angka 70 persen. Otoritas terkait secara konsisten mengecam pembangunan ribuan unit permukiman baru Yahudi seperti proyek masif 2.162 unit rumah baru yang secara de facto merobek kedaulatan wilayah, mengisolasi kota-kota Palestina, dan menjadi strategi nyata untuk merebut tanah milik warga lokal. (antaranews.com 14/6/26)
Sementara itu di wilayah Yerusalem, tindakan provokatif berupa pengibaran bendera Israel di kompleks Al-Aqsa semakin sering terjadi, menjadi simbol nyata upaya penguasaan fisik dan kultural oleh entitas zionis sekaligus bentuk penundukan terhadap marwah umat Islam.
Apabila dianalisa lebih dalam, kehancuran total di Gaza, perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat, hingga tindakan genosida yang terjadi merupakan langkah konkret zionis untuk merealisasikan visi politik mereka. Apa yang dipertontonkan di hadapan mata dunia hari ini adalah sebuah bentuk kebiadaban, kekejaman, dan kejahatan kemanusiaan luar biasa yang menjadi potret kerusakan terbesar di muka bumi pada era modern. Sayangnya, respons institusi global dan negara-negara Muslim cenderung mandul karena Amerika Serikat secara konsisten bertindak sebagai penyokong utama di balik layar, baik melalui suplai persenjataan militer maupun proteksi diplomatik di forum internasional.
AS bahkan aktif menggiring para penguasa negeri-negeri Muslim untuk berkompromi dan bersekongkol melalui narasi "Solusi Dua Negara". Diplomasi semacam ini pada hakikatnya justru melegitimasi eksistensi penjajah dan mengabaikan hak-hak esensial rakyat Palestina. Penderitaan panjang ini terus berlanjut tanpa ujung karena tidak adanya persatuan sejati, serta adanya pengkhianatan dari para pemimpin dunia Islam saat ini yang terjebak dalam kepentingan politik pragmatis nasionalisme.
Menghadapi kebuntuan politik yang telah berlangsung puluhan tahun, umat Islam tidak bisa lagi bergantung pada hukum internasional atau kecaman retoris yang selalu diabaikan oleh kekuatan zionis. Ambisi imperialistik ini wajib dilawan dengan kekuatan politik dan militer yang sepadan. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan wadah persatuan umat Islam dalam wujud nyata yang institusional, yaitu sistem Khilafah Islamiyah.
Menegakkan kembali sistem Khilafah harus menjadi prioritas utama perjuangan umat Islam di seluruh dunia saat ini, karena sistem inilah satu-satunya wujud kesatuan umat yang hakiki dan kokoh. Melalui institusi global ini, sekat-sekat nasionalisme modern yang selama ini mengotak-ngotakkan potensi militer dan kekayaan negeri-negeri Muslim akan dilebur, sekaligus menghentikan sikap abai para penguasa Muslim. Di bawah komando seorang Khalifah, dunia Islam akan membebaskan tanah Palestina, dan memerangi entitas zionis secara total demi mengembalikan kedamaian dan kemerdekaan yang sejati.
Wallahu a'lam.

Posting Komentar