DEPRESINYA GEN Z MENUJU RESISTENSI
Oleh : Ummu Qithath
(Ibu Peduli Umat)
Generasi Z, yang sering dijuluki Gen Z (www.detik.com, Selasa 21 Mei 2024) (1), merupakan generasi penerus harapan bangsa yang kini banyak disorot. Berbagai survey menyebutkan Gen Z yang kelahiran 1995 – 2009, berkisar usia 17 – 31 tahun di Indonesia, paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental (www.kompas.com, Kamis 18 Juni 2026) (2). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi satu dari tujuh atau 14,3 persen anak berusia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental dan menyumbang 15 persen dari beban penyakit global pada kelompok usia ini. Namun, sebagian besar kondisi tersebut tidak dikenali dan tidak diobati.
Faktor pemicunya bermacam-macam. Pengaruh medsos, tekanan sosial, dan lain-lain. Fenomena ini terjadi di seluruh dunia, dengan ketidakpastian karir, kondisi global, stabilitas ekonomi, dan ketidakpastian masa depan membuat Gen Z bersikap lebih skeptis (www.goodstats.id, 8 April 2026) (3). Kecemasan mereka sangat dimaklumi, karena 262 juta Gen Z menganggur (www.kompas.id, 27 Februari 2026) (4). Akhirnya muncullah sarkasme generasi cemas, bukan generasi emas. Dari kondisi ini muncullah gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini.
Krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini jadi pemicu utama kecemasan Gen Z. Potensi mereka sebagai pemuda dengan segala pola pikir kritis, energi berlebih dan semangat menyala-nyala; dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekuleristik kapitalistik. Agama tidak lagi dipakai sebagai standar, hanya sebatas ritual; rakyat pun berlomba memprioritaskan kenikmatan materi. Dampaknya terlihat pada abainya riayah (pelayanan dan pengurusan) negara terhadap generasi muda ini. Tidak dirangkul, tapi Gen Z justru seringkali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya. Dijuluki generasi strawberry, yang lembek alias mudah menyerah seperti buah strawberry yang mudah membusuk. Dianggap baperan (mudah terbawa perasaan) dan tidak punya semangat juang alias mudah menyerah. Tapi ingat. Dibalik generasi seperti ini, ada para orang tuanya yang mendidik mereka menjadi seperti itu. Seringkali orang tuanya yang salah didik, cenderung memanjakan mereka, karena merasa mereka dulu hidup sengsara maka jangan sampai anak mereka saat ini hidup sengsara seperti mereka dulu. Akhirnya pola didikannya malah berlebihan dalam menfasilitasi anaknya, sehingga anaknya tak punya daya juang alias mental tempe.
Di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Gen Z ini justru bisa menjadi peluang perubahan kebangkitan menuju kondisi yang lebih ideal. Terdapat paradoks menarik dalam kondisi ini. Di satu sisi, Gen Z disebut sebagai generasi yang paling rentan dalam sistem ekonomi formal. Namun di sisi lain, mereka juga dinilai sebagai generasi yang paling tangguh secara emosional. Kemampuan untuk mengenali, menerima, dan mencari solusi atas masalah; mental menjadi kekuatan baru yang membedakan mereka dari generasi sebelumnya.
Penting melihat solusi Islam sebagai sebuah sistem yang solutif, karena berasal dari Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui aturan yang terbaik untuk hamba-Nya. Persatuan umat Islam di bawah payung Khilafah itu penting, sesuai ajaran Nabi Muhammad saat beliau hijrah ke Madinah mendirikan Daulah (negara) Islam sebagai pemersatu umat, yang berfungsi melindungi Islam dan kaum Muslimin. Tanpa Khilafah, aturan Islam tak dapat diterapkan secara sempurna sesuai tuntutan keimanan; sesuai petunjuk dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 208 : “Wahai orang-orang beriman, masuklah Islam secara keseluruhan dan jangan ikuti langkah-langkah setan. Karena ia musuh nyata bagimu..”
Islam adalah solusi dari krisis yang melanda dunia hari ini. Penerapan Islam secara menyeluruh akan mendatangkan Rahmatan lil Alamin, membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia, termasuk bagi para pemuda dengan segala letupan energinya. Terbukti saat Rasulullah mendakwahkan Islam, para pemudalah yang banyak menyambutnya. Daya berpikirnya yang kritis, anti kemapanan dan ingin perubahan, energi yang berlimpah, merupakan potensi para pemuda yang luar biasa. Semua potensi ini, mendapatkan saluran yang sahih melalui Islam.
Karakter generasi di masa kejayaan Islam sangat kuat. Berkepribadian Islam dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan. Pada awal dakwah Islam, Rasulullah membidik para pemuda sebagai obyek dakwah prioritasnya. Mereka dibina oleh Rasulullah dengan pola pikir dan pola sikap yang Islami, sehingga membentuk kepribadian Islam yang utuh dan siap memimpin perubahan di tengah-tengah masyarakat dengan perjuangan dakwah Islam. Tercatat nama-nama sahabat yang dari kalangan pemuda seperti Sa’id bin Zaid berusia 20 tahun, Sa’ad bin Abi Waqash berusia 17 tahun, Ja’far bin Abin Thalib berusia 18 tahun, Mushab bin Umair berusia 24 tahun, Abdullah bin Jahsy berusia 25 tahun, Umar bin Khaththab berusia 26 tahun, Abu Ubaidah bin Jarrah berusia 27 tahun, dan masih banyak lagi. Maka dengan peran para pemuda sahabat dari kalangan muda ini, melajulah dengan kencang gerbong dakwah yang dipimpin Rasulullah melakukan dakwah di tengah masyarakat, sampai mengantarkan pada momen hijrah ke Madinah untuk menegakkan Daulah Islam sebagai momen penegakan Islam dan perlindungan pada kaum muslimin untuk memberikan jaminan keamanan dalam menunaikan syariat.
Khilafah pun berhasil mencetak generasi emas pengisi peradaban gemilang, seperti Imam Syafi’i yang berhasil menghafal dan mengajarkan Al-Qur’an saat berusia 7 tahun, Muhammad Al-Fatih seorang Khalifah sekaligus panglima perang pemberani yang berhasil menundukkan Konstantinopel dan membawa Khilafah semakin berjaya, dan masih banyak lagi. Khilafah dengan penerapan Islam secara menyeluruh sebagai sistem kehidupannya, telah berhasil mencetak generasi unggulan, umat terbaik dengan julukan “Khairu Ummah”. Ini membuktikan kebenaran seruan Allah dalam firman-Nya :
“Kalian umat yang terbaik , yang hadir di tengah-tengah umat, yang melakukan amar maruf nahi mungkar (berdakwah), dan mereka orang-orang yang beruntung” (Terjemah Al-Quran surat Ali Imran : 110).
Kehadiran negara Khilafah sebagai pelindung dan pelayan umat, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Seperti yang diteladankan Rasulullah, berhijrahnya ke Madinah untuk mendirikan Daulah Islam yang kini dinamakan Khilafah, merupakan puncak perjuangan dakwah yang dijadikan fokus prioritas bagi para pemuda. Karena Khilafah merupakan “Tajrul Furud” atau mahkota kewajiban, di mana syariat tidak akan tegak sempurna tanpa keberadaannya. Maka penting menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban mabda Islam, serta peduli terhadap kondisi umat. Agar masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan. Akan nyata menghasilkan generasi emas, buka generasi emas ala kapitalisme seperti saat ini. Seperti dulu Khilafah terbukti selama 13 abad menjadi mercusuar dunia dan berhasil dengan gemilang menorehkan tinta emas peradaban mulia dengan cakupan luas wilayah mencapai sepertiga peta dunia lama, semua juga karena kontribusi besar para pemuda muslim dengan kepribadian Islam mereka yang kokoh buah didikan Khilafah dengan pendidikan berdasar akidah Islam.
Catatan Kaki :
(1) https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7349623/7-macam-nama-generasi-dan-tahunnya-serta-perbedaan-karakteristiknya?utm_source=copy_url&utm_campaign=detikcomsocmed&utm_medium=btn&utm_content=edu
(2) https://www.kompas.id/artikel/di-ambang-krisis-kesehatan-mental-remaja
(3) https://data.goodstats.id/statistic/60-gen-z-di-indonesia-cemas-akan-masa-depan-84aBq
(4) https://www.kompas.id/artikel/ratusan-juta-gen-z-di-dunia-menganggur

Posting Komentar