Bersikap Benar Menghadapi Kenaikan Dolar
Oleh : Ida Nurchayati
Beredar di media sosial, nasehat ulama dalam menghadapai kenaikan dolar dan harga barang yang melonjak. Umat diminta tenang, sabar dan berprasangka baik pada Allah. Umat diminta mempercayai bahwa rejeki sudah diatur dan tidak mungkin tertukar. Sebuah nasehat yang menyejukkan atau justru menyesatkan umat?.
Akidah vs Syariah
Thalab atau tuntutan dalam Nash-nash Islam meliputi dua hal, tuntutan untuk meyakini dan tuntutan untuk mengamalkan. Keyakinan letaknya dihati biasa disebut keimanan sementara amal perbuatan ada dalam ranah syariah. Keduanya harus diletakkan pada tempatnya masing-masing sehingga seorang muslim bisa mengambil sikap dengan benar.
Ayat-ayat yang berkaitan dengan rejeki adalah ayat yang menuntut manusia untuk meyakini bahwa rejeki semata-mata dari Allah. Misalnya, Allah berfirman dalam Surat At Talaq ayat 3 yang artinya,
"Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya".
Keimanan ini akan menumbuhkan semangat optimisme bagi seorang mukmin untuk menjemput rejeki dengan cara yang benar, terikat dengan syariat Allah. Seorang mukmin tidak akan berani menempuh cara yang menyelisi syariat, karena setiap amal perbuatan akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah.
Pada ranah syariat, maka akal seorang mukmin akan memaksimalkan ikhtiar agar rejekinya datang sebanyak-banyaknya dengan cara yang sesuai syariat. Sebagai contoh, jika seorang pedagang, maka dia akan mengupayakan keuntungan yang berlipat. Memilih tempat yang strategis, promosi, memberi diskon, jujur dan sebagainya.
Kewajiban Muhasabah
Kenaikan dolar yang membuat kehidupan rakyat terasa sempit dan kian sulit karena paradigma tata kelola ekonomi yang salah. Ada kebijakan dzalim yang membuat rakyat kian menderita. Maka sikap sabar, menerima atas kondisi yang terjadi, tidaklah cukup. Sikap ini harus dibarengi dengan sikap menghilangkan kezaliman dengan melakukan muhasabah terhadap penguasa yang menerapkan sistem politik ekonomi kapitalisme. Kapitalisme gagal mewujudkan kesejahteraan, menciptakan jurang kemiskinan yang kian lebar, maka wajib mengingatkan penguasa agar meninggalkan sistem kapitalisme dan beralih pada sistem ekonomi warisan Baginda Nabi SAW. Sistem ekonomi Islam mampu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi semua. Muhasabah kepada penguasa bukan bentuk tidak bersyukur, juga bukan bentuk bughat atau memberontak kepada penguasa. Justru suatu kedzaliman ketika seorang mukmin mengeluarkan pernyataan yang mendukung kedzaliman penguasa, dan berdiam diri terhadap kebijakan yang dzalim.
Aktifitas muhasabah pada penguasa dzalim merupakan amalan yang utama, bahkan setara dengan panglima syuhada. Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, yang artinya,
"Penghulu (pemimpin) para syuhada adalah Hamzah, dan seseorang yang berdiri (menghadapi) penguasa yang dzalim lalu ia menyuruh dan mencegahnya, kemudian penguasa tersebut membunuhnya." (HR Ath Thabrani).
Penjajahan Terselubung Melalui Mata Uang
Sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan hampir di seluruh dunia, dipimpin oleh Negara Adidaya AS. Tariqah atau metode penerapan sistem kapitalisme adalah dengan penjajahan, salah satunya dengan hegemoni mata uang. AS memaksakan mata uangnya sebagai standar utama keuangan global berdasarkan atas kepercayaan negara lain. Maka AS akan senantiasa berupaya mempertahankan hegemoni dolar atas pasar dunia.
Penggunaan uang kertas yang tidak memiliki nilai intrinsik menciptakan kedzaliman. Dengan hegemoni dolar, AS bisa membuat hitam putih dan menghegemoni suatu negara. Biaya cetak uang dolar per lembar berkisar 4-12 sen, tidak sampai seribu rupiah, hanya sekitar Rp 725,00. Negara kita ketika berhutang dan membayar hutang, atau mengimpor barang harus menggunakan dolar. Tahun 2026, satu dolar (USD) setara dengan Rp 17.700 rupiah, 100 dolar (USD) setara dengan Rp 1,770,000.00. Padahal biaya cetak satu lembar uang dolar hampir sama dengan satu lembar uang dalam rupiah. Inilah bentuk penjajahan yang dzalim melalui mata uang.
Dominasi dolar akan senantiasa menimbulkan inflasi dengan berbagai mekanisme, seperti inflasi impor, pelemahan mata uang, kenaikan biaya produksi, dan kebijakan moneter The Fed. Maka sudah seharusnya umat Islam membangun ekonomi mandiri yang bebas inflasi.
Sistem Ekonomi Mandiri dengan Islam
Rasulullah SAW mewariskan mata uang dinar dan dirham, mata uang yang berbasis emas dan perak, dimana nilai intrinsik dan ekstrinsiknya sama. Dinar dan dirham nilainya stabil, tidak menimbulkan inflasi karena didukung nilai intrinsik sehingga tidak bisa dicetak secara berlebihan sebagaimana uang fiat yang sangat bergantung pada kebijakan bank sentral dan pemerintah. Dinar dan dirham akan membebaskan negara kita dari hegemoni mata uang asing.
Penggunaan dinar dirham mencegah kanzul mal atau penimbunan harta. Dinar dan dirhan hanya boleh difungsikan sebagai alat tukar saja, bukan sebagai komoditas. Menjadikan mata uang sebagai komoditas menyebabkan adanya praktik ribawi dan judi, yang senantiasa menimbulkan bubble economy.
Khatimah
Sistem kapitalisme melanggengkan penjajahan, termasuk hegemoni dolar. Saatnya umat Islam membangun kemandirian ekonomi dengan kembali pada dinar dan dirham. Penggunaan dinar dirham adalah bentuk ketaatan karena mengikuti petunjuk yang dibawa Baginda Nabi SAW. Namun, penggunaan dinar dirham tidak bisa berdiri sendiri. Ia merupakan bagian integral dari penerapan sistem Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Islamiyah.
Wallahu a'lam

Posting Komentar