-->

Ambisi Zionis Rebut Palestina Bisa Dicegah Hanya Dengan Islam Kaffah

Ambisi Zionis Rebut Palestina Bisa Dicegah Hanya Dengan Islam Kaffah

Oleh. Susi Ummu Musa

Kebiadaban dan kebengisan Israel telah nyata kita saksikan bersama bagaimana penyerangan demi penyerangan yang telah meluluh lantakkan Gaza hingga menjadi negeri yang lumpuh. 
Gedung-gedung sekolah, rumah sakit dan fasilitas lainnya sudah tidak berfungsi dan yang paling menyakitkan adalah nyawa manusia yang  telah hilang dengan cara sadis. 
Gencatan senjata yang dilanggar hingga penangkapan oleh sejumlah aktivis kemanusiaan dari flotila juga dilakukan Zionis. 

Tak hanya itu Rencana Israel untuk memperluas cakupan wilayah kendalinya hingga mencapai 70 persen di Jalur Gaza memicu kekhawatiran besar bagi warga Palestina yang tinggal di sekitar kawasan pembatas yang disebut garis kuning.

Mereka mengatakan bahwa penyusutan ruang aman bagi warga sipil tersebut membuat wilayah yang tersisa kini menjadi semakin tidak layak huni.

Garis kuning sendiri merupakan penanda batas yang memisahkan wilayah di bawah kendali militer Israel di Gaza timur dengan zona pergerakan bebas warga Palestina di sisi lebih barat.

Pada Kamis pekan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa militer Israel saat ini telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza dan mengungkap rencana untuk memperluas penguasaan tersebut hingga mencapai 70 persen. 

Kondisi Rakyat Semakin sulit

Tekanan terus dilakukan Zionis tentu ini semakin menyulitkan warga Gaza yang masih bertahan disekitaran wilayah tersebut, Lebih dari tujuh bulan setelah apa yang disebut “gencatan senjata” di Jalur Gaza, ribuan keluarga masih belum dapat menguburkan orang yang mereka cintai. Upaya pemulihan sangat terhambat karena Israel secara ketat membatasi masuknya alat berat, seperti ekskavator dan buldoser, ke Jalur Gaza.

Sebanyak 250 warga Palestina lainnya hilang di dekat titik distribusi bantuan, sementara lebih dari 800 ditahan di pos pemeriksaan militer ‘Israel’ selama pengungsian paksa dari utara ke selatan.

Laporan itu juga mengatakan nasib 350 orang yang menyeberang ke ‘Israel’ pada 7 Oktober masih belum diketahui.
“Ini merupakan salah satu krisis kemanusiaan yang paling kompleks dan menyakitkan akibat perang yang sedang berlangsung. 

Kelaparan yang terjadi juga tidak bisa dihindari karena tertutup nya akses disana, semua kengerian ini telah dilakukan Zionis dan duniapun hanya diam membisu. 

Nasionalisme Penghalang Persatuan Umat

Sekat inilah yang menyulitkan kita untuk menolong saudara kita di Gaza, jangan kan di Indonesia yang terpisah daratannya lihatlah negeri Arab, Mesir dan sekitarnya apakah bisa membantu menyelamatkan saudara nya? 
Perihal ikatan kebangsaan yang sudah menancap tajam hingga mampu membunuh empati meski didepan mata. 
Karena sekat kebangsaan inilah umat Islam diseluruh penjuru dunia tidak bisa bersatu. 
Sekat Nasionalisme yang lahir dari sistem Demokrasi ini adalah penghambat jalan ditegakkannya sistem Islam. 

Umat yang saat ini berjuang menegakkannya masih harus berhadapan dengan kepragmatisan orang-orang diluar sana yang masih buta akan aturan aturan islam yang sesungguhnya. 

Ketika kita menyampaikan dakwah tentang solusi di Gaza Palestina adalah jihad dan khilafah masih saja ada cuitan yang menentangnya. 
Mereka itulah para penentang penentang Allah yang sesungguhnya. 

Solusi Hanya Pada Islam

Sudah ribuan kalimat yang dikumandangkan oleh ulama ulama yang jujur para aktivis dakwah yang masih setia dalam menyampaikan amanah nya bahwa solusi satu satunya hanya dengan jihad dan khilafah. 
Ketika umat islam diseluruh penjuru dunia bersatu mengirimkan tentaranya untuk menyerang Zionis maka itulah keadilan, hanya dengan kembali kepada Islam Kaffah maka persoalan Gaza akan selesai. 

Wallahu a'lam bisawwab