Stop normalisasi trend Freestyle yang membahayakan keselamatan penerus bangsa
Oleh : Hakimah Izzah S. Pd
Aktivis Muslimah
Dunia pendidikan sedang tidak baik saja, pasal nya kini tengah booming sebuah tren yang tidak berfaedah pastinya yaitu trend Freestyle.
Tren ini terinspirasi dari game online yang di gandrungi mulai anak-anak sampai remaja seperti Free Fire dimana menampilkan gerakan ekstrem yang membuat cedera bahkan sampai patah tulang leher.
Seorang bocah bernama Hamad Izan Wadi berusia 8 tahun di Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Bisa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia diduga setelah melakukan aksi freestyle yang terinspirasi dari game online. Bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu mengalami cedera parah di bagian leher, dan di pastikan tulang lehernya patah. Ini bukan lah kejadian yg remeh ya karna tren ini sangat membahayakan bagi anak anak yang masih mencari jati diri. (Kumparan.com)
Jika di telusuri aksi freestyle ini terinspirasi dari game online yang sangat di sukai anak anak di era zaman modern saat ini. Seperti di game online Free Fire yang menampilkan gerakan ekstrem, otomatis anak anak akan meniru gerakan tersebut agar terlihat keren dan wah hebat sekali bisa nirukan gerakan di game online. Mereka pastinya tidak akan memikirkan efek akibat yang akan di dapatkan kedepannya.
Banyak para elemen masyarakat mulai dari pihak kepolisian, sekolah, Dinas Pendidikan, Psikolog hingga KPAI memberi himbauan untuk para orang tua agar menjaga anak nya, memantau penggunaan HP serta media sosial tontonan anak anak. Jangan di anggap anak sudah aman jika dirumah saja dengan bermain gadget lebih bahaya lagi bermain main di dunia sosial media ketimbang dunia nyata. Karna apa di dunia nyata orang tua tidak bisa mengontrol apa yang anak-anak tonton dan game apa saja yang mereka mainkan.
Anak anak yang memasuki usia pra remaja hakikatnya belum sempurna nalar yang mereka gunakan dan memungkinkan mereka hanya sekedar "mengikuti yang viral saja". Dianggap menarik game online yang mereka ikuti.
Fenomena ini terjadi akibat dari kurangnya pendampingan orang tua terhadap anak, orang tua menganggap anak sudah aman jika dirumah saja. Dan tak sedikit orang tua yang bekerja diluar rumah demi masa depan sang anak , tetapi anak dalam keadaan tidak baik baik saja dengan bermain media sosial dan game online. Alhasil anak dengan mudah mendapatkan akses informasi yang berpotensi merusak dan berbahaya bagi anak.
Selain dari lalainya orang tua, lingkungan juga seharusnya turut andil dalam pengawasan terhadap anak anak yang sedang melakukan adegan berbahaya, bukan malah membiarkan dan masa bodo dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Karna apa dengan ke tidak pedulian lingkungan sekitar akan menghasilkan generasi yang merusak perlahan demi perlahan tidak ada yang mau mengingatkan bahwa trend seperti itu adalah hal kesia sia an apalagi sampai menyakiti diri sendiri.
Tak cukup disitu, ada peran yang lebih penting yang harus turut andil dalam pola pendidikan anak saat ini yaitu siapa? Tak lain dan tak bukan adalah peran negara , hanya negara yang bisa mengontrol konten online. Negara yang mampu mensortir tontonan yang layak , game yang baik untuk penerus bangsa ini. Individu saja tidak cukup dan tidak mampu untuk menghentikan ataupun memblokir situs situs yang merusak anak.
Trend freestyle memang bukanlah perbuatan berdosa tetapi dengan membahayakan diri sendiri bisa mengarahkan ke perbuatan yang berdosa, karena Allah memerintahkan untuk melakukan hal hal yang berfaedah menjauhi perbuatan yang haram dan mengurangi perbuatan yang mubah. Di dalam Islam bagi anak anak yang belum baligh tidak dikenakan beban taklif hukum karena akalnya belum sempurna , tetapi perlu pendampingan dari orang tua untuk mengarahkan anak nya pada kegiatan kegiatan yang lebih bermanfaat dan bernilai pahala.
Orang tua atau wali punya tanggung jawab utama yaitu apa mendidik dengan pondasi agama yang kuat dan mengasuh serta melindungi dari segala bentuk bahaya karna anak adalah sebuah amanah besar yang wajib untuk di jaga dengan sebaik baiknya.
Islam mengajarkan dalan pola pendidikan anak harus ada 3 pilar yang harus bersinergis satu dengan lainnya. Pilar tersebut adalah yang *Pertama* : peran utama orang tua yang harus mendidik dan menjaga amanah anak yang sudah di berikan. *Kedua* : lingkungan. Peran lingkungan yang kondusif akan membuat pertumbuhan anak baik, saling mengingatkan jika ada kesalahan. Beramar ma'ruf nahi Munkar yang utama. *Ketiga* : Negara, pilar yang paling penting dan bisa membuat semuanya berjalan dengan baik adanya peran negara yang mengkondusifkan. Sehingga terwujudlah ekosistem yang saling bersinggungan untuk tumbuh kembang anak secara optimal.
Hanya negara yang mampu membatasi ketat informasi yang tidak bermanfaat di media sosial dan bahkan memperbanyak konten edukasi yang bisa membuat anak cerdas bukan hanya melakukan hal hal mubah bahkan cenderung menjerumuskan mereka ke kegiatan yang membahayakan. Dengan begitu akan mudah melahirkan generasi cemerlang dalam naungan Islam secara kaffah.
Wallahu alam bissawab

Posting Komentar