-->

Refleksi Hardiknas, Pendidikan Megah, Moral Kian Terdegradasi


Oleh : Ghooziyah

Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan penuh seremoni. Pidato disampaikan, slogan digaungkan, dan harapan kembali ditanamkan. Namun di balik perayaan itu, realitas dunia pendidikan justru semakin buram dan memprihatinkan. Alih-alih melahirkan generasi beradab, pendidikan hari ini justru menjadi ladang tumbuhnya krisis moral. Maka, Hardiknas seharusnya bukan sekadar perayaan, tetapi momentum muhasabah, ada apa dengan sistem pendidikan kita?

Fakta: Potret Suram Dunia Pendidikan

Berbagai kasus yang mencuat menunjukkan bahwa dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja. Kekerasan di kalangan pelajar dan mahasiswa terus meningkat, bahkan menelan korban jiwa. Dalam beberapa bulan terakhir saja, berbagai kasus pengeroyokan, penyiraman air keras, hingga pembunuhan antar pelajar terjadi di berbagai daerah.

Tidak hanya kekerasan fisik, pelecehan seksual di lingkungan sekolah dan kampus juga semakin marak. Ruang yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi tempat yang mengancam.

Di sisi lain, integritas akademik pun kian runtuh. Kasus kecurangan dalam ujian, praktik joki dalam seleksi masuk perguruan tinggi (UTBK), hingga budaya plagiarisme terjadi secara luas. Bahkan, praktik joki bisa melibatkan bayaran hingga puluhan juta rupiah, menunjukkan bahwa kecurangan telah menjadi “industri tersendiri”.

Tak berhenti di situ, penyalahgunaan narkoba juga semakin menjangkiti pelajar dan mahasiswa. Mereka bukan hanya menjadi pengguna, tetapi juga terlibat dalam jaringan peredaran.

Yang tak kalah memprihatinkan adalah merosotnya adab terhadap guru. Kasus siswa yang menghina guru, bahkan melaporkan guru ke ranah hukum karena dianggap “melanggar”, semakin sering terjadi. Guru yang seharusnya dihormati justru kehilangan wibawanya.

Semua fakta ini menunjukkan satu hal, dunia pendidikan sedang mengalami krisis serius, bukan hanya pada aspek akademik, tetapi terutama pada aspek moral dan kepribadian.

Kritik Islam: Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalistik

Dalam perspektif Islam, kerusakan ini bukan terjadi secara kebetulan. Ia merupakan konsekuensi logis dari sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang diterapkan saat ini.

Sistem sekuler memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dalam pendidikan. Akibatnya, pendidikan tidak lagi berfungsi membentuk kepribadian yang bertakwa, tetapi hanya mencetak individu yang siap bersaing secara materi.

Orientasi pendidikan pun berubah. Kesuksesan diukur dari nilai, gelar, dan pekerjaan, bukan dari akhlak dan ketakwaan. Inilah yang melahirkan generasi pragmatis yang menghalalkan segala cara, termasuk mencontek, menggunakan joki, atau berbuat curang demi meraih tujuan.

Budaya liberal yang mengagungkan kebebasan individu juga memperparah keadaan. Pelajar merasa bebas melakukan apa saja tanpa batasan moral. Inilah yang memicu maraknya kekerasan, pelecehan, dan penyimpangan perilaku lainnya.

Negara dalam sistem kapitalisme juga gagal menjalankan perannya. Sanksi terhadap pelanggaran sering kali lemah, terutama jika pelaku masih di bawah umur. Alih-alih memberikan efek jera, sistem justru cenderung mentoleransi pelanggaran sebagai “kenakalan remaja”.

Selain itu, minimnya pendidikan agama yang benar membuat pelajar tidak memiliki landasan moral yang kuat. Tanpa akidah yang kokoh, mereka mudah terjerumus dalam perbuatan maksiat dan kejahatan.

Dengan demikian, krisis pendidikan hari ini bukan sekadar kegagalan kebijakan, tetapi kegagalan sistem yang mendasarinya.

Solusi Islam: Membangun Generasi Berilmu dan Bertakwa

Islam menawarkan solusi yang menyeluruh dalam membenahi dunia pendidikan.

Pertama, pendidikan dalam Islam berlandaskan akidah. Tujuannya bukan hanya mencetak individu cerdas, tetapi juga membentuk insan yang bertakwa. Dengan landasan ini, pelajar akan memahami bahwa setiap perbuatannya diawasi oleh Allah, sehingga tidak akan melakukan kecurangan atau kejahatan.

Kedua, pendidikan Islam menekankan pembentukan kepribadian (syakhshiyah Islamiyyah), yaitu keselarasan antara pola pikir dan pola sikap. Ilmu yang dimiliki tidak hanya dipahami, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan.

Ketiga, negara bertanggung jawab penuh dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan diberikan secara berkualitas dan merata, tanpa diskriminasi. Negara juga memastikan bahwa kurikulum tidak hanya berisi ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai Islam yang membentuk karakter.

Keempat, Islam menerapkan sistem sanksi yang tegas terhadap pelanggaran. Sanksi ini berfungsi sebagai pencegah sekaligus penebus, sehingga memberikan efek jera dan mencegah terulangnya kejahatan.

Kelima, Islam membangun lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya ketakwaan. Negara, keluarga, dan masyarakat bersinergi dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia. Media dan lingkungan sosial juga diarahkan untuk mendukung nilai-nilai kebaikan, bukan merusaknya.

Dengan sistem ini, pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang pintar, tetapi juga beradab dan bertanggung jawab.

Penutup

Peringatan Hardiknas seharusnya menjadi momen refleksi, bukan sekadar seremoni. Fakta yang ada menunjukkan bahwa dunia pendidikan sedang berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Krisis moral yang melanda pelajar dan mahasiswa adalah bukti nyata kegagalan sistem pendidikan sekuler kapitalistik. Selama sistem ini tetap dipertahankan, maka berbagai masalah akan terus berulang.

Islam menawarkan solusi yang tidak hanya memperbaiki gejala, tetapi juga menyentuh akar persoalan. Dengan menjadikan akidah sebagai dasar pendidikan, membentuk kepribadian yang utuh, dan menerapkan sistem yang adil, pendidikan dapat kembali pada fungsinya, melahirkan generasi berilmu, beradab, dan bertakwa.

Sudah saatnya kita tidak hanya merayakan pendidikan, tetapi juga memperjuangkan perubahan sistem menuju pendidikan Islam yang kaffah.

Wallahu a'lam