Ketika Kampus Menjadi Pabrik Industri, Potret Buram Pendidikan Sekuler
Oleh : Henise
Pendidikan sejatinya bertujuan membentuk manusia berilmu, beradab, dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan. Namun hari ini, arah pendidikan semakin bergeser. Kampus tidak lagi dipandang sebagai pusat pembentukan peradaban, melainkan sebagai pemasok tenaga kerja bagi industri. Akibatnya, nilai pendidikan diukur bukan dari kualitas manusia yang dihasilkan, tetapi dari sejauh mana lulusan mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja.
Fakta: Kampus Diarahkan Tunduk pada Kebutuhan Industri
Pemerintah Indonesia melemparkan wacana penghapusan jurusan perkuliahan yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan masa depan dan target pertumbuhan ekonomi. Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek menyatakan bahwa jurusan kuliah sebaiknya menyesuaikan kebutuhan dunia industri dan perkembangan pasar kerja.
Wacana ini memicu respons beragam dari kalangan akademisi. Sejumlah rektor menolak jika kampus hanya dijadikan “pabrik pekerja”. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Islam Malang menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh semata-mata tunduk pada pasar. Ada pula kampus yang memilih menyesuaikan kurikulum tanpa menutup program studi, sementara beberapa perguruan tinggi lain mengaku terbuka melakukan merger atau penutupan jurusan berdasarkan evaluasi kebutuhan.
Perdebatan ini menunjukkan adanya perubahan orientasi besar dalam dunia pendidikan tinggi. Program studi dinilai bukan lagi berdasarkan kontribusinya terhadap pengembangan ilmu dan peradaban, tetapi berdasarkan relevansinya terhadap kebutuhan industri dan peluang ekonomi.
Akibatnya, jurusan-jurusan yang dianggap kurang “menguntungkan pasar” berpotensi tersingkir, meskipun sebenarnya memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Kritik Islam: Pendidikan Sekuler Menjadikan Manusia Alat Industri
Dalam perspektif Islam, fenomena ini merupakan konsekuensi logis dari penerapan sistem sekuler liberal dalam pendidikan.
Sekularisme memisahkan pendidikan dari tujuan hakiki kehidupan. Pendidikan tidak lagi diarahkan untuk membentuk manusia bertakwa dan berkepribadian mulia, tetapi hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan industri.
Sementara itu, liberalisme menjadikan pasar sebagai penentu utama arah kebijakan. Akibatnya, perguruan tinggi dipaksa menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri agar dianggap relevan dan “bernilai”.
Dalam sistem kapitalisme, manusia dipandang sebagai sumber daya ekonomi. Kampus pun diarahkan untuk mencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar, bukan membentuk manusia yang memiliki visi peradaban.
Inilah yang menyebabkan negara lepas tangan terhadap tanggung jawab pendidikan. Negara tidak lagi memetakan kebutuhan sumber daya manusia berdasarkan kebutuhan rakyat, tetapi hanya bereaksi terhadap tuntutan industri dan persaingan ekonomi global.
Akibatnya, arah pendidikan menjadi tidak stabil dan mudah berubah sesuai kepentingan pasar. Hari ini suatu jurusan dianggap penting, besok bisa dianggap tidak relevan hanya karena tidak menghasilkan keuntungan ekonomi besar.
Lebih jauh lagi, sistem ini melahirkan generasi pragmatis yang memandang pendidikan hanya sebagai alat mencari pekerjaan dan uang. Ilmu kehilangan kemuliaannya, sementara kampus kehilangan ruhnya sebagai pusat peradaban.
Solusi Islam: Pendidikan untuk Melayani Umat, Bukan Pasar
Islam memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang pendidikan. Dalam Islam, pendidikan adalah tanggung jawab langsung negara dan merupakan kebutuhan mendasar umat.
Negara dalam sistem Islam bertugas menyiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk melayani urusan rakyat dan membangun peradaban. Karena itu, negara akan menentukan kebutuhan tenaga ahli berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat, bukan tekanan industri atau kepentingan pasar global.
Jika umat membutuhkan ahli pertanian, dokter, insinyur, guru, ulama, atau ilmuwan, maka negara akan menyiapkan pendidikan untuk melahirkan para ahli tersebut secara serius dan terencana.
Dalam Islam, visi dan misi pendidikan dibangun di atas akidah Islam. Tujuannya bukan hanya menghasilkan manusia terampil, tetapi membentuk kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyyah) yang memiliki pola pikir dan pola sikap sesuai syariat.
Kurikulum juga dirancang untuk membentuk manusia yang seimbang antara ilmu, iman, dan amal. Ilmu tidak diarahkan semata untuk kepentingan industri, tetapi untuk kemaslahatan umat dan mendekatkan diri kepada Allah.
Selain itu, negara dalam Islam bertanggung jawab penuh terhadap pembiayaan pendidikan, termasuk kesejahteraan tenaga pendidik dan penyediaan sarana prasarana. Pendidikan tidak boleh tunduk pada kepentingan pemilik modal atau tekanan asing.
Negara Islam juga mandiri dalam menentukan arah pendidikan karena seluruh kebijakan berpijak pada syariat, bukan kepentingan ekonomi kapitalistik.
Dengan sistem ini, perguruan tinggi tidak akan berubah menjadi “pabrik pekerja”, tetapi menjadi pusat lahirnya ilmuwan, pemikir, dan pemimpin yang membangun peradaban mulia.
Penutup
Wacana penutupan jurusan yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri menunjukkan bagaimana pendidikan hari ini semakin tunduk pada logika pasar. Kampus dipaksa menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri, sementara tujuan hakiki pendidikan perlahan dilupakan.
Inilah dampak dari sistem sekuler kapitalistik yang memandang manusia hanya sebagai alat produksi ekonomi. Pendidikan kehilangan arah, ilmu kehilangan kemuliaan, dan kampus kehilangan perannya sebagai pusat pembentukan peradaban.
Islam menawarkan sistem pendidikan yang berbeda secara mendasar. Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk manusia bertakwa, berilmu, dan mampu melayani umat, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pasar kerja.
Karena itu, solusi terhadap problem pendidikan hari ini tidak cukup dengan revisi kurikulum atau penyesuaian jurusan. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistem pendidikan secara menyeluruh agar kembali berpijak pada akidah dan syariat Islam secara kaffah.
Wallahu a'lam

Posting Komentar