Hidayah Karunia Illahi Rabbi
Oleh : Tjandra Sarie Astoeti Sutisno, M. Pd., Aktivis Muslimah
Hidayah sering kali digambarkan bagai embun pagi yang jatuh menyejukkan dedaunan kering, atau secercah cahaya yang tiba-tiba membelah pekatnya malam. Ia adalah Hidayah Karunia Illahi Robbi, sebuah hadiah paling eksklusif dan mahal yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Namun, apakah hidayah itu sekadar kebetulan yang datang tanpa diundang.
Secara bahasa, hidayah berarti petunjuk atau bimbingan. Dalam konteks spiritual, ia adalah taufik, yakni sebuah keselarasan antara keinginan hati manusia dengan rida Allah SWT. Saat seseorang mendapatkan hidayah, hal-hal yang dulu terasa berat (seperti bangun sebelum subuh atau memaafkan kesalahan orang lain) tiba-tiba terasa ringan dan indah.
Tentunya, pemberi petunjuk itu tiada lainnya hanyalah Allah SWT.
Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah al-Qashash ayat 56 yang artinya, "Bukanlah engkau (Muhammad) yang memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki..."
Allah Rabbul 'Alamin tidak meninggalkan manusia dalam kekosongan, Sang Pencipta mengucurkan hidayah-Nya melalui cara yang tak di duga. Hidayah Itu Dijemput, Bukan Ditunggu.
Sering kita mendengar ucapan, "Saya belum tobat karena belum dapat hidayah." Kalimat ini sekilas terdengar pasrah, namun sebenarnya keliru. Hidayah Illahi adalah takdir yang berjalan beriringan dengan ikhtiar.
Ibarat hujan yang turun dari langit, airnya merata ke seluruh bumi. Namun, air itu hanya akan menampung di wadah yang terbuka. Jika kita menutup rapat hati kita dengan kesombongan, prasangka buruk, dan kemaksiatan, maka "hujan" hidayah itu akan mengalir sia-sia tanpa menyerap ke dalam jiwa.
Misalnya melangkah menuju kebaikan, menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur'an, dan berkumpul dengan orang-orang saleh. Berdoa dengan tulus: Memohon ketetapan hati, karena penentu akhir dari hidayah adalah Allah.
Mendapatkan hidayah adalah satu hal, namun menjaganya (istiqamah) adalah perjuangan seumur hidup. Hati manusia bersifat fluktuatif (yatalattaf), mudah berubah-ubah. Hari ini membara dalam iman, esok bisa saja meredup karena urusan duniawi.
Oleh karena itu, ketika ketukan hidayah itu datang, sekecil apa pun bentuknya, mungkin berupa rasa bersalah setelah berbuat dosa, atau getaran halus saat mendengar ayat suci, jangan ditunda. Ambil, dekap, dan rawat ia dengan amal saleh yang konsisten, meski sedikit. Sebab, hidayah karunia Illahi Robbi adalah modal utama kita untuk pulang dengan wajah berseri dan jiwa yang tenang (nafsul muthma'innah).
Muslim Hakiki
Jika hidayah adalah karunia tertinggi dari Allah SWT, maka Muslim hakiki adalah sosok yang tahu persis bagaimana cara menyikapi karunia tersebut. Menjadi Muslim hakiki (sejati) bukan sekadar menyandang status di kartu identitas, melainkan sebuah proses spiritual yang mendalam dalam menjemput, merawat, dan memancarkan hidayah di setiap helaan napasnya.
Menyadari bahwa hidayah adalah kebutuhan mutlak, maksudnya seorang Muslim hakiki tidak pernah merasa "aman" atau sombong dengan keimanannya saat ini. Ia sadar hati manusia sangat rapuh dan mudah terbolak-balik. Oleh karena itu, ia memosisikan hidayah sebagai kebutuhan yang lebih utama daripada makan dan minum.
Kesadaran inilah yang membuat kita mengulang permohonan hidayah minimal 17 kali sehari dalam salat melalui untaian ayat, “Ihdinas-shiraathal mustaqiim” (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus). (QS. Al-Fatihah: 6).
Ayat ini bukan sekadar bacaan ritual, melainkan rintihan rindu seorang hamba yang selalu butuh bimbingan Allah agar tidak tersesat di tengah badai duniawi.
Merespons hidayah ketika menyapa, baik melalui nasihat, musibah, maupun ayat yang didengar dengan sami'na wa atha'na (kami mendengar dan kami taat), tidak ada penundaan (tashwif) dalam berbuat baik. Ketika tahu itu adalah kebenaran, ia langsung melangkah. Kepekaan hati (qalbun salim) seperti hatinya bergetar saat nama Allah disebut, dan imannya bertambah saat ayat-ayat-Nya dibacakan (QS. Al-Anfal: 2). Ia sensitif terhadap dosa, sekecil apa pun kesalahan, ia merasakannya bagai gunung yang siap runtuh menimpanya.
Hidayah yang masuk ke dalam hati tidak mandek, melainkan mewujud dalam akhlak mulia. Ia menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sekitarnya, jujur, amanah, dan penuh kasih sayang. Konsistensi (istiqamah) dalam menjaga cahaya, karena mendapatkan hidayah itu berat. Namun mempertahankannya jauh lebih menantang dengan memahami bahwa hidayah bisa redup atau bahkan hilang jika tidak dirawat.
Cara menjaga sebagai contoh, taubat dan istigfar sebagai pembersihkan noda di hati. Atau amal saleh konsisten, dengan mengisi energi iman. Lingkungan yang baik, bentuk kita proteksi bisa benteng dari pengaruh buruk.
Kita menjadikan hidayah sebagai kompas hidup. Mereka tidak menunggu hidayah datang melubangi atap rumah mereka, melainkan mereka berlari mengejarnya melalui ilmu, amal, dan ruku' yang panjang. Pada akhirnya, tanda paling nyata dari seorang Muslim yang telah menyatu dengan hidayah Illahi adalah lahirnya kedamaian di dalam jiwanya (sakinah), sehingga ia mampu memancarkan kedamaian itu pula kepada alam semesta (rahmatan lil 'alamin).[]

Posting Komentar