Hardiknas dan Potret Pendidikan Masa Kini
Oleh Ummu Ghoza
Peringatan Hari Pendidikan Nasional telah berlalu. Namun, dunia pendidikan masih dalam kondisi buram. Makin banyak pelajar dan mahasiswa terkena kasus kekerasan dan pelecehan seksual. Sungguh memprihatinkan, sekolah dan kampus tak terjamin keamanannya.
Dua pelaku kasus penganiayaan pelajar di Bantul berhasil ditangkap aparat kepolisian setelah melalui serangkaian penyelidikan. Korban, Ilham Dwi Saputra (16), meninggal dunia usai mengalami pengeroyokan brutal yang terjadi pada 14 April 2026 di wilayah Pandak. (tvOnenews.com, 22/4/2026)
Di hari sebelumnya juga ada kasus serupa. Ditetapkan enam tersangka dalam penganiayaan yang berujung tewasnya seorang siswa pelajar SMA Negeri 5 Bandung. Enam tersangka juga berstatus dari SMA berbeda dengan korban.
Selain kasus tersebut, juga ada praktik perjokian. Panitia SNPMB 2026 menemukan adanya peserta yang membawa alat bantu. Salah satunya penggunaan alat bantu dengar. (tempo.co.id, 21/4/2026).
Maraknya joki UTBK, budaya plagiat terjadi merata di semua lembaga pendidikan, serta kecurangan dalam ujian. Juga bertambah banyak siswa dan mahasiswa pelaku dan pengedar narkoba. Makin beraninya siswa menghina guru atau memenjarakan guru karena dimarahi atau dihukum dan banyak kasus memprihatinkan lainnya.
Momen hardiknas menjadi alarm keras bagi pendidikan hari ini untuk memperbaiki kondisi yang ada. Saat ini pelajar yang krisis kepribadiannya, sekuler, liberal, dan pragmatis,nir adab disebabkan oleh gagalnya peta jalan pendidikan Indonesia.
Sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini melahirkan pendidikan sekuler. Di sekolah, hanya sedikit nilai-nilai agama yang yang diberikan. Liberalisasi pendidikan semakin merusak moral dan kepribadian.
Mirisnya ada juga yang terjebak pada tindak kejahatan dan kemaksiatan. Banyak orang-orang ingin sukses instan tanpa mau berusaha juga demi cuan, orang-orang menghalalkan segala cara. Kriminalitas ditoleransi sebagai kenakalan anak semata. Didukung dengan sanksi negara yang tidak tegas bagi pelaku pelajar yang dikategorikan anak di bawah umur.
Memprihatinkannya keadaan bertambah parah dengan perkembangan teknologi digital tanpa kendali . Di jaman digital saat ini, demi meraih popularitas instan, banyak pencari perhatian perhatian dengan tindakan kontroversial .
Demi validasi di dunia maya, tega mengejek guru nir adab dan etika yang tercela. Tentu saja dengan kondisi ini di hadapan peserta didik, posisi guru melemah. Karena khawatir dianggap melakukan kekerasan, banyak pendidik merasa tidak leluasa dalam mendisiplinkan siswa. Selain itu, tidak ada perlindungan terhadap martabat guru. Sehingga dunia pendidikan semakin buram dan memprihatinkan.
Dalam Islam, negara wajib menjamin pendidikan. Sistem pendidikan Islam yang berasaskan akidah Islam, akan melahirkan manusia cerdas dan bertakwa sehingga demi meraih kesuksesan tidak melakukan kecurangan. Sistem ini juga akan membentuk pola pikir dan pola sikap yang islami.
Sistem pemerintahan Islam juga menerapkan syariat Islam kaffah. Warga dan seluruh pemimpin bertakwa serta senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Sekolah, keluarga, dan lingkungan bersinergi amal ma'ruf nahi munkar. Bagi para pelaku kejahatan termasuk pelajar, mendapatkan sanksi yang tegas.
Selain sanksi yang tegas, dalam negara Islam ditanam benteng kesadaran bahwa Allah maha mengawasi. Sebagaimana firman Allah Swt.
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19).
Alangkah memprihatinkan bila kondisi buram pendidikan terus berlanjut. Saatnya Hardiknas tahun ini kita kembali ke pendidikan Islam yang melahirkan manusia yang cerdas dan bertakwa. Waallahu'alam bisshoab. []


Posting Komentar