Sistem Pendidikan Islam Adalah Role Model Terbaik
Oleh : Asri
Melalui laman KOMPAS.com diberitakan– Satpol PP Kota Bengkulu mengamankan sejumlah pelajar perempuan yang nekat menyamar menjadi laki-laki untuk membolos sekolah. Mereka kedapatan sedang nongkrong dan merokok di warung saat jam pelajaran berlangsung, Jumat (13/3/2026). Kepala Satpol PP Kota Bengkulu, Sahat M Situmorang, menjelaskan bahwa penangkapan tersebut bermula saat petugas melakukan razia rutin terhadap pelajar yang berkeliaran di luar sekolah pada jam belajar.Jadi, kami bersama personel melakukan razia pelajar yang bolos, nongkrong-nongkrong di warung-warung saat jam belajar,” kata Sahat saat diwawancarai, Jumat.
Saat dilakukan pemeriksaan, petugas sempat terkecoh karena penampilan para pelajar tersebut tampak seperti laki-laki. Namun, kecurigaan petugas terbukti saat melakukan pemeriksaan barang bawaan di dalam tas milik para siswi tersebut. Mereka mengenakan tutup kepala dan bergaya pria. Kami cek di tasnya, ternyata mereka menyimpan jilbab. Jadi dari rumah pamit sekolah berdandan layaknya perempuan, namun saat bolos, mereka nongkrong dan merokok dengan mengganti dandanan seperti pria,” jelas Sahat. Menurut Sahat, para siswi tersebut diduga mengubah penampilan agar dapat membolos bersama pelajar laki-laki dengan lebih leluasa tanpa menimbulkan kecurigaan dari masyarakat sekitar.
Bagaimana Islam memberikan peranan serta arahan bagi para keluarga, khususnya di bidang sains mengingat saat ini banyak even-even internasional di bidang sains yang dimenangkan oleh tim dari Indonesia, tetapi ironisnya, hampir sebagian besar, didominasi oleh kalangan nonmuslim?
Di semua peradaban yang masih sederhana, keluarga selalu jadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Maka, kualitas orang tua sangat berpengaruh pada kualitas anak-anak tersebut. Mereka yang hidup dengan berburu, pasti mengajari anak-anaknya bagaimana hidup di hutan, mencari hewan buruan, menjebak, atau menjinakkannya.
Mereka yang hidup dengan bertani, pasti mengajari anak-anaknya bagaimana bercocok tanam, menemukan tanah yang sesuai tanamannya, kapan saat yang tepat untuk memupuk, menyingkirkan gulma, hingga memanen. Mereka yang hidup dengan berdagang, pasti sejak dini mengajak anak-anaknya mengenal bisnis.
Pendidikan seperti itu tetap diteruskan pada zaman Nabi. Namun, Nabi menambahkannya dengan dua hal.
Pertama, menambahkan bahwa manusia diberi peran lebih oleh Allah, yaitu untuk beribadah dan untuk menyebarkan rahmat ke seluruh alam. Ini suatu misi manusia di dunia yang tidak begitu saja muncul secara naluriah, dan harus diajarkan. Maka, generasi sahabat mulai menanamkan kesadaran misi Islam itu pada anak-anaknya.
Kedua, menanamkan bahwa umat Islam harus menjadi umat terbaik di tengah manusia. Maka, mereka harus menjadi manusia-manusia pembelajar. Oleh karena itu, Rasul juga membuka dunia belajar seluas-luasnya, meminta tawanan Perang Badar mengajar anak-anak muslim tulis baca, menyuruh beberapa sahabat belajar bahasa asing, bahkan mengirimkannya ke Barat dan ke Timur hingga sampai ke Cina.
Orang-orang tua pada masa itu berusaha keras mengikuti pendidikan cara Nabi tersebut. Mereka yang menyadari dirinya memiliki keterbatasan, menitipkan anak-anaknya ke para sahabat yang terdekat dengan Nabi, atau bahkan ke Nabi sendiri. Seperti misalnya terjadi pada Anas bin Malik yang dititipkan orang tuanya agar mengabdi pada Nabi, sekaligus belajar banyak hal tentang kehidupan.
Hal ini berlanjut terus pada masa Khilafah selanjutnya. Orang-orang tua yang sangat peduli pendidikan, membawa anaknya untuk nyantri di kalangan para ulama dan ilmuwan. Ada yang diserahkan pada Imam Malik, dan akhirnya juga menjadi imam seperti Imam Syafi’i. Ada yang menjadi santri dari astronom Yahya bin Abi Mansur, seperti tiga anak yatim dari Musa bin Syakir. Tiga anak yatim yang dikenal dengan Banu Musa ini kemudian menjadi ilmuwan-ilmuwan hebat di bidang astronomi, matematika, dan mekanika.
Oleh orang tuanya, anak-anak cemerlang itu dibiasakan sejak kecil hidup dalam suasana saleh, jujur, selalu memilih yang halal, juga gemar bekerja keras, dan menghargai ilmu. Syafi’i kecil atau Ibnu Sina, dan ribuan ulama dan ilmuwan lainnya, sudah hafal Al-Qur’an sebelum usia 10 tahun.
Didikan orang tua itu menambah efektif suasana lingkungan yang dibentuk oleh Khilafah. Negara bertanggung jawab agar noise atau gangguan yang muncul di luar rumah ada di titik minimum.
Tidak ada perzinaan atau pornografi, tidak ada miras dan narkoba, juga tidak ada aktivitas-aktivitas sia-sia lainnya. Lingkungan yang ada adalah suasana ilmu, kerja keras, dakwah, dan jihad.
Di rumah tentu saja orang tua menghadapi tantangan bahwa mereka harus jadi contoh yang baik, terutama masalah integritas. Umar bin Khaththab pernah tersentuh ketika mendengar seorang anak gadis yang tidak mau mengikuti perintah ibunya untuk mencampur susu dengan air. Ibunya, sang penjual susu mengatakan, toh khalifah tidak tahu.
Penanaman adab pada anak merupakan hal penting dalam Islam. Mengapa? Ini karena adab merupakan bagian dari hukum syarak dan akhlak Islam. Rasulullah saw. memerintahkan agar setiap muslim menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah, bermuamalah dengan orang lain, maupun dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun.
Sebaliknya, syariat melarang kaum muslim berakhlak tercela. Abdullah bin Umar ra. berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (Mutaffaq ‘alaih).
Lebih dari itu, Islam memerintahkan orang tua untuk menanamkan adab kepada anak sejak dini. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Apabila anak telah mencapai usia enam tahun, hendaklah ia diajarkan adab dan sopan santun.” (HR Ibnu Hibban).
“Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu.” (HR Bukhari-Muslim). “Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaikilah adab mereka.” (HR Ibnu Majah).
Ibnu Sunni meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa nabi Muhammad saw. pernah melihat seseorang bersama anaknya. Kemudian, Nabi saw. bertanya kepada anak tersebut, “Siapa ini?” Ia menjawab, “Ayahku.” Kemudian, Nabi bersabda, “Kamu jangan berjalan di depannya, jangan melakukan perbuatan yang dapat membuatnya mengumpatmu karena marah, dan jangan duduk sebelum ia duduk, dan jangan memanggil dengan menggunakan namanya.”
Cara Menanamkan Adab pada Anak
Perhatian besar terhadap adab memang merupakan suatu keharusan. Dengan demikian akan memunculkan akal pikiran yang efektif pada anak-anak kita. Selanjutnya dari akal pikiran yang efektif akan lahir kebiasaan, perangai, dan perilaku yang baik. Akhirnya akan melahirkan amal saleh, lalu dari amal saleh ini akan diperoleh rida Allah Taala.
Berikut kiat-kiat yang harus dilakukan.
Pertama, tanamkan akidah yang kuat dan kukuh pada anak. Dengan demikian akan tertanam keyakinan bahwa sebagai hamba Allah, kita wajib tunduk dan patuh pada ketetapan Allah. Ini karena hanya Allah yang patut diimani dan ditaati.
Melalui pendekatan ini, akan tertanam sikap keikhlasan dalam diri seseorang untuk berlaku sopan dan menghiasi diri dengan adab yang baik tersebut. Semua dilakukannya hanya karena Allah Taala. Sikap ini juga akan memberi pijakan mendasar manakala ia terancam oleh lingkungan yang kurang baik.
Kedua, tanamkan bahwa adab merupakan bagian dari akhlak terpuji dan bagian dari hukum syarak. Dengan demikian, akan tertanam dalam diri anak, bahwa jika ia menghiasi diri dengan adab yang baik, maka perilakunya akan bernilai pahala dan amal saleh sehingga ia akan memperoleh keridaan Allah Taala.
Ketiga, ajarkan keteladanan Rasulullah saw. dalam memelihara adab baik dan sopan santun, baik terhadap dirinya, seperti makan dengan tangan kanan dan tidak berdiri, cara berpakaian, dan sebagainya. Demikian pula adab terhadap orang lain, seperti berkata-kata baik dan lemah lembut, tidak kasar, tidak menyela atau memotong pembicaraan orang lain, menghormati orang tua bisa dan orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, mendahulukan yang lebih tua, dan sebagainya.
Keempat, orang tua dan orang-orang yang terdekat dengan anak harus memberi keteladanan. Upaya menanamkan sikap sopan santun hendaknya dimulai dari orang tua dengan menjadi contoh yang baik bagi anaknya.
Apabila Anda kerap bersikap tidak sopan terhadap anak atau orang lain, anak pun tidak akan pernah memahami nilai-nilai sopan santun tersebut. Anak akan meniru kebiasaan berbicara di lingkungannya.
Oleh karena itu, sebaiknya orang tua dan seluruh penghuni rumah menjaga sikap dan lisannya. Keteladanan juga akan memberikan lingkungan yang baik bagi anak sehingga anak akan lebih mudah menemukan pola kebiasaan berperilaku dan berbicara yang baik.
Kelima, biasakan mengucapkan kalimat tayibah. Dengan kebiasaan ini, anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan kata-kata kotor dan sia-sia.
Di antara kalimat tayibah yang bisa diajarkan, misalnya, “bismillah” untuk memulai setiap perbuatan baik, “astagfirullah” apabila anak melakukan kesalahan, “masyaallah” jika mendapatkan sesuatu yang menakjubkan, “innalillahi …” jika mendapatkan musibah, dan sebagainya.
Selain kalimat tayibah, biasakanlah anak sejak kecil untuk mengungkapkan kata-kata sopan dalam berinteraksi. Orang tua bisa memberi contoh yang baik, misalnya menggunakan kata “tolong” saat meminta bantuan anak, “terima kasih” atau mendoakan “jazaakallah/killah” saat ia sudah membantu kita, atau “maaf” saat kita berbuat salah kepadanya, dan sebagainya.
Keenam, jauhkan anak dari lingkungan yang tidak baik. Tidak diterapkannya sistem Islam memang memaksa keluarga muslim untuk ekstra hati-hati menjaga buah hatinya. Meski di rumah sudah terbentuk adab yang baik, tetapi di luar rumah belum tentu, padahal anak-anak secara alami juga membutuhkan “dunia luar” untuk belajar dan bersosialisasi.
Oleh karenanya, orang tua harus bisa mengarahkan teman bermain anaknya. Jauhkan anak dari berteman dekat dengan anak-anak yang mempunyai kebiasaan berperilaku dan berbicara buruk. Berikanlah penjelasan bijak kepada anak sehingga ia tidak protes ketika harus memilih teman.
Ketujuh, orang tua juga harus selektif memilihkan program tayangan media. Jangan biarkan anak menonton adegan kekerasan dan bersikap tidak sopan atau kasar, serta sering melontarkan kata-kata kasar.
Sebaliknya, berikan tontonan edukatif yang merangsang anak melakukan kebiasaan baik. Jika ternyata si anak kedapatan mendengar kata-kata kotor atau melihat adegan kekerasan dari media, tugas orang tua adalah menjelaskan hakikat perilaku dan kata-kata kotor tersebut dan mengajaknya untuk menjauhinya.
Kedelapan, bijak dalam memberi peringatan atau nasihat. Bila anak berperilaku atau mengatakan sesuatu yang tidak sesuai syariat, orang tua wajib menasihatinya dan memberi penjelasan dengan tepat, terutama bagi anak yang sudah mulai besar.
Ini penting untuk memunculkan sikap bersalah karena sudah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Diharapkan anak tidak mengulanginya pada lain waktu.
Kesembilan, menciptakan lingkungan di sekitar rumah yang selalu menjaga sikap dan perilakunya. Di antaranya adalah dengan tidak membiarkan anak berinteraksi dengan anak tetangga yang mempunyai kebiasaan buruk hingga mereka meninggalkan kebiasaannya.
Amar makruf nahi mungkar kepada tetangga tentu menjadi kewajiban kita. Hanya saja harus dicari metode yang baik agar tidak menyulut konflik antartetangga. Inilah
yang dimaksud kontrol sosial yang harus ada untuk menjaga pelaksanaan syariat Islam.
Pada intinya, syariat Islam harus diterapkan secara kafah. Dengan demikian, berbagai masalah dapat diselesaikan dan kehidupan masyarakat juga dapat diperbaiki. Inilah sesungguhnya yang menjadi kewajiban dan tangung jawab umat Islam. Penerapan syariat Islam secara kafah harus segera diwujudkan di tengah kehidupan.
Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah Swt. berfirman, menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya, serta membenarkan Rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syariat, melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan sesuai kemampuan mereka.” (Tafsir Ibn Katsir, 1/335). Wallahualam

Posting Komentar