BENARKAH RAKYAT DESA NGGAK PAKAI DOLAR?
Oleh : Ummu Qithath
(Ibu Peduli Umat)
Komentar kontroversial muncul dari pihak pemerintah, “rakyat desa nggak pakai dolar” (www.nasional.kompas.com, Sabtu 16 Mei 2026 (1). Presiden RI Prabowo Subianto menanggapi santai kekhawatiran sejumlah pihak terkait kondisi ekonomi nasional dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Dalam pidato peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo menilai masyarakat kecil, terutama di desa, tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak kurs dollar. “Rakyat di desa enggak pakai dollar kok,” ujar Prabowo dikutip dari tayangan YouTube Setpres, Sabtu. Langsung komentar ini viral dan menuai kemarahan publik.
Ironis sekali, bahwa memandang apa yang dialami masyarakat masih dalam kondisi aman. Padahal faktanya depresiasi (melemahnya) rupiah terhadap dolar membuat kondisi perekonomian di Indonesia semakin mengkhawatirkan, karena berdampak meroketnya harga-harga kebutuhan rakyat sehingga melemahnya daya belinya (www.bbc.com, Sabtu 16 Mei 2026) (2). Rupiah ambruk mencapai level Rp 17.600 per dolar AS. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Asuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Faktor lain adalah arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed (www.tempo.co, Sabtu 16 Mei 2026) (3). Ini berdampak pada naiknya harga-harga bahan baku dan juga energi. Rakyat semakin terhimpit, kesulitan memenuhi kebutuhan hidup hingga berujung pada jeratan pinjol. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan oleh industri pinjaman online alias pinjol mencapai Rp98,54 triliun per Januari 2026 (www.finansial.bisnis.com, Selasa 3 Maret 2026) (4), dan lain-lain. Nelayan pun terancam tak bisa melaut, karena BBM naik 4x lipat (www.rri.co.id, Sabtu 16 Mei 2026) (5). Akhirnya mereka pun merasa terzalimi dan kompak melakukan aksi di kantor bupati Pati; karena kenaikan BBM sangat parah, kenaikannya mencapai 4 kali lipat (www.detik.com, Senin 4 Mei 2026) (6).
Konstelasi politik Internasional (perang AS-Iran) mempengaruhi aktivitas pasar global sehingga memicu pelemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Ini menyebabkan pasokan minyak semakin sulit sehingga menyebabkan dolar semakin tinggi, maka rupiah pun melemah, berdampak harga kebutuhan rakyat meroket harganya. Ini karena hampir 70% barang kebutuhan rakyat kita masih bergantung pada impor, termasuk 20% bahan baku yang dibutuhkan para pengusaha. Ketergantungan pada impor ini membuat negara tidak berdaulat, sehingga jika gangguan konstelasi politik internasional pasti akan berdampak buruk; seperti saat ini. Ini karena pengaruh paradigma sekuler kapitalistik yang menjadikan pelayanan pada rakyat yang dilakukan negara berorientasi keuntungan, semua dijadikan proyek, sehingga negara malas mengupayakan berbagai hal yang bisa membuat negara berdaulat dalam pasokan pangan dan energi.
Pola komunikasi pemerintah saat ini membuat rakyat menjadi geram. Komentar Presiden kita bahwa “orang desa nggak pakai dolar” sungguh melecehkan rakyat dan menutup mata terhadap fakta yang ada. Komentar ini sungguh menyakitkan hati rakyat sudah, karena faktanya rakyat menderita karena dolar naik. Seharusnya penguasa jujur saja dan berkomentar : “Bahwa memang kondisi saat ini menyebabkan dolar melemah dan ekonomi semakin sulit, maka mari bersama kita mengatasi hal ini, kami sudah mengupayakan untuk mengatasi masalah ini, maka bantu kami.” Bukankah komentar ini lebih menyejukkan rakyat yang sudah terpuruk ini?
Ketidakpekaan pemerintah terhadap realitas kondisi masyarakat ini, berujung pada kekeliruan penyelesaian masalah ekonomi ini; berakar dari paradigma sekuler kapitalistik yang menempatkan negara sebatas regulator (penyedia aturan), bukan pelayan rakyat. Masyarakat pada akhirnya menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problem tersebut. Kebijakan yang dibuat justru semakin memperburuk keadaan (jumlah utang semakin melambung).
Penting melihat solusi Islam sebagai sebuah sistem yang solutif, karena berasal dari Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui aturan yang terbaik untuk hamba-Nya. Islam selain sebagai agama, dia juga sebuah sistem kehidupan yang sempurna (kamilan) dan menyeluruh (syamilan). . Ini sesuai dengan firman-Nya :
"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam..." (Terjemah Al-Qur’an surat Ali Imran : 19)
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka..." (Terjemah Al-Qur’an surat Al-Ahzab : 36)
Islam akan terasa maksimal keberkahannya manakala diterapkan secara kafah (menyeluruh dan sempurna), yang hanya bisa diterapkan oleh Khilafah. Khilafah sebagai negara akan bertanggungjawab untuk menjaga, melayani dan mengurus kebutuhan umat Islam; juga untuk menjaga Islam dan kehormatan umat Islam. Ini mengacu pada sabda Nabi saw :
“Kepala Negara adalah Raa’in (pengurus rakyat) dan dia akan bertanggungjawab atas rakyat yang dia urus” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
Maka jika Islam dijadikan system untuk mengatur kehidupan manusia, manusia akan terhindarkan dari berbagai kezaliman, termasuk kezaliman ekonomi dampak dari system sekuler kapitalistik saat ini.
Sistem ekonomi Islam yang diterapkan Khilafah akan menerapkan sistem uang yang lebih stabil, yakni dengan dinar dan dirham, yang memakai standar emas dan perak. Ini sesuai dengan sabda Nabi saw :
“Jual-belilah kalian emas dengan perak, perak dengan emas, sesuka kalian.” (Hadis Riwayat Bukhari).
Syekh Taqyuddin An-Nabhany, seorang ulama mujtahid mutlak dalam kitabnya : Sistem Ekonomi dalam Islam (Nizham Iqtishady fil Islam), menyampaikan bahwa : “Sistem mata uang dinar dirham memiliki keunggulan, dikarenakan emas memiliki kekuatan fisik yang tinggi dan daya tahan yang luar biasa”. Ini karena emas memiliki nilai intrinsik (nilai kandungannya/kadarnya) dan nilai nominal (nilai ekstrinsik/nilai yang tercetak di mata uang) itu setara. Dinar dirham juga tahan terhadap inflasi. Khilafah sebagai pihak negara tidak akan mudah mencetak uang kertas, selama tidak ada stok emas yang setara nilainya. Sehingga jumlah uang mudah dikontrol, tidak mudah dimanipulasi dan dikendalikan oleh pemerintah; atau entitas lain yang mudah mempengaruhi jumlah uang yang beredar. Dengan memakai dinar dirham, roda ekonomi rakyat pun lebih stabil.
Perdagangan luar negeri pun diatur oleh Islam, karena akan berpengaruh terhadap ekonomi dan ketahanan negara. Maka dalam Islam, negara yang bertanggung jawab mengatur ekspor-impor komoditas strategis seperti pangan dan energi seperti BBM dan Batubara. Maka Khilafah akan mengelola semua SDA (Sumber Daya Alam) termasuk Batubara dan BBM, yang hasilnya semuanya untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Pihak swasta tidak diperbolehkan mengelolanya, dan negara diharamkan menyerahkan pengelolaannya pada swasta; karena negara hanya punya hak kelola, bukan hak serah-terima. Maka dengan demikian rakyat akan tercukupi kebutuhannya tanpa khawatir fluktuatif harga karena ketergantungan impor, karena Khilafah telah berhasil swasembada pangan dan energi.
Negara akan menjaga stabilitas harga-harga dengan mekanisme tertentu yang ditetapkan syariat; maka Khilafah akan menetapkan aturan seperti larangan riba, jaminan distribusi, pengaturan kepemilikan dan lain-lain. Kesejahteraan masyarakat menjadi tanggung jawab pemimpin, karena ia adalah ra'in (pelayan dan pengurus) dan sekaligus junnah (pelindung, perisai) yang wajib melindungi masyarakat dari kesengsaraan hidup; dan hanya Khilafah yang bisa mewujudkan dengan penerapan syariah secara sempurna.
Wallahuaalam Bisawab
Catatan Kaki :
(1) https://nasional.kompas.com/read/2026/05/16/13533411/prabowo-soal-nilai-tukar-rupiah-rendah-rakyat-di-desa-enggak-pakai-dollar
(2) https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5y9eexrq9zo
(3) https://www.tempo.co/ekonomi/rupiah-ambruk-ke-level-17-600-per-dolar-as-2136123
(4) https://finansial.bisnis.com/read/20260303/563/1957370/total-pinjaman-pinjol-warga-ri-capai-rp9854-triliun-naik-25-per-januari-2026
(5) https://rri.co.id/semarang/regional/2417162/hasil-tangkapan-anjlok-dan-solar-subsidi-langka-nelayan-pantura-terancam-tak-melaut
(6) https://www.detik.com/jateng/berita/d-8473141/massa-nelayan-aksi-di-kantor-bupati-pati-menjerit-harga-bbm-naik-4-kali-lipat

Posting Komentar