-->

Sekolah Terintegrasi di Banyumas, Antara Harapan dan Arah Pendidikan


Oleh : Khansa Alma

Upaya memperluas akses pendidikan kembali menjadi perhatian pemerintah daerah. Di Kabupaten Banyumas, muncul usulan pembangunan sekolah terintegrasi yang menggabungkan jenjang pendidikan dasar hingga menengah dalam satu kawasan. Gagasan ini diarahkan untuk menjawab persoalan klasik yang selama ini dihadapi masyarakat, khususnya di wilayah selatan yang masih terbatas fasilitas pendidikannya.

Sebagaimana diberitakan oleh Antara News, program ini diharapkan mampu mengatasi kendala jarak serta mengurangi ketimpangan antara wilayah utara dan selatan Banyumas. Dengan adanya sekolah terintegrasi, peserta didik tidak perlu lagi berpindah tempat ketika melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu, kawasan yang dipilih dinilai strategis untuk menjangkau wilayah dengan kondisi geografis yang menantang.

Jika dilihat secara kasat mata, kebijakan ini tampak sebagai langkah solutif. Pemerintah menunjukkan kesadaran bahwa akses pendidikan masih belum merata, dan mencoba menghadirkan solusi melalui pembangunan infrastruktur yang lebih terintegrasi.
Namun, fakta ini sekaligus mengungkap bahwa persoalan pendidikan di daerah masih berkutat pada aspek mendasar, yaitu akses dan fasilitas. Pertanyaannya, apakah persoalan pendidikan memang hanya berhenti di sana?

Perlu Perhatian Arah Pendidikan

Jika ditelaah lebih dalam, persoalan pendidikan sejatinya tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sekolah atau kemudahan akses. Selama ini, pembangunan pendidikan sering kali berfokus pada aspek fisik, sementara arah dan tujuan pendidikan itu sendiri kurang mendapat perhatian yang memadai.

Dalam sistem yang berlaku hari ini, pendidikan cenderung diarahkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Ia diposisikan sebagai sarana mencetak sumber daya manusia yang siap bersaing di dunia kerja. Kurikulum disusun untuk meningkatkan produktivitas, sementara keberhasilan diukur dari capaian akademik dan kemampuan kompetitif.

Akibatnya, pendidikan kehilangan peran utamanya sebagai proses pembentukan manusia yang utuh. Tidak sedikit generasi muda yang berhasil secara akademik, namun mengalami kebingungan arah hidup. Fenomena krisis moral, lemahnya ketahanan mental, hingga minimnya kepedulian terhadap persoalan sosial menjadi gambaran nyata dari problem ini.

Dalam konteks tersebut, pembangunan sekolah terintegrasi memang dapat menjawab persoalan akses, tetapi belum tentu menyentuh akar persoalan pendidikan. Tanpa pembenahan paradigma, pembangunan fisik berpotensi hanya menjadi solusi jangka pendek.
Lebih jauh lagi, sistem pendidikan yang berbasis sekularisme memisahkan ilmu dari nilai-nilai agama. Ilmu dipelajari tanpa dikaitkan dengan tujuan hidup manusia, sehingga melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual namun tidak selalu memiliki landasan nilai yang kuat. Inilah yang membuat pendidikan sering kali gagal melahirkan manusia yang mampu memberikan solusi bagi problem kehidupan.

Dengan demikian, persoalan pendidikan bukan hanya soal “di mana belajar”, tetapi juga “untuk apa belajar”. Jika arah ini tidak dibenahi, maka perluasan akses tidak akan membawa perubahan yang signifikan.

Pendidikan Dalam Kacamata Islam

Dalam Islam, pendidikan memiliki tujuan yang jauh lebih mendasar, yaitu membentuk kepribadian Islam yang menjadikan akidah sebagai landasan berpikir dan bertindak. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai proses pembentukan manusia yang memahami tujuan hidupnya.
Dengan paradigma ini, ilmu tidak dipisahkan dari nilai. Setiap pengetahuan yang dipelajari diarahkan untuk membangun kesadaran akan peran manusia sebagai hamba Allah sekaligus sebagai bagian dari masyarakat. Pendidikan tidak hanya mencetak individu yang cakap, tetapi juga yang memiliki tanggung jawab moral dan visi peradaban.

Negara dalam Islam juga memiliki peran sentral dalam menjamin terselenggaranya pendidikan yang merata dan berkualitas. Pendidikan bukanlah komoditas, melainkan hak dasar yang wajib dipenuhi tanpa membebani masyarakat. Oleh karena itu, penyediaan fasilitas harus diiringi dengan kurikulum yang benar serta sistem yang mampu membentuk generasi yang berdaya dan berintegritas.

Dengan demikian, usulan pembangunan sekolah terintegrasi di Banyumas dapat menjadi langkah awal yang baik dalam memperluas akses pendidikan. Namun, langkah ini harus diiringi dengan perubahan yang lebih mendasar, terutama dalam hal arah dan tujuan pendidikan.
Karena pada akhirnya, persoalan pendidikan bukan sekadar tentang tersedianya sekolah, tetapi tentang generasi seperti apa yang ingin dibentuk. Apakah pendidikan hanya akan melahirkan tenaga kerja, ataukah generasi yang mampu memimpin dan memperbaiki peradaban?

Dalam Islam, tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak manusia cerdas, tetapi mencetak insan yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah islâmiyyah), yakni membentuk pola pikir (‘aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) yang didasarkan pada akidah Islam.

Tujuan pendidikan ini terangkum, antara lain, dalam firman Allah SWT saat menjelaskan tujuan pengutusan Rasulullah saw.:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ  

Dilah (Allah) yang mengutus di tengah-tengah kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka. Dia (bertugas) membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa/diri) mereka, serta mengajari mereka al-Quran dan hikmah; sementara mereka sebelumnya benar-benar ada dalam kesesatan yang nyata (TQS al-Jum’ah [62]: 2).

Di sinilah pentingnya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya luas aksesnya, tetapi juga benar arah dan tujuannya. Hal ini menjadi PR bersama khususnya menjadi pembahasan pokok bagi pemerintah untuk merealisasikan output pendidikan yang berkualitas bersyakhsiyah Islam dan SDM yang memberi kebaikan bagi kehidupan.

Wallahu A’lam.

Link berita : (https://jateng.harianjogja.com/read/2026/04/03/656/1251322/wilayah-selatan-banyumas-disiapkan-sekolah-satu-atap-sd-hingga-sma)