-->

Jadikan Momentum Maulid Penguat Keimanan


Mubalighah Kota Depok, Asih Sakinah menyampaikan sekaligus mengingatkan kita agar momentum maulid seharusnya mampu menguatkan dan mengokohkan keimanan. 

“Dalam menunjukkan kecintaan kepada baginda Rasul haruslah sepanjang masa, sepanjang hari, minimal momentum ini sebagai pengingat kita untuk menguatkan lagi, mengokohkan lagi iman, takwa dan juga ketaatan kita kepada risalah yang diwahyukan Allah SWT dan juga dibawa dan dicontohkan oleh Rasullulah SAW,” ungkapnya dalam _Forum Kajian Komunitas Keluarga Sakinah: Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW, Mengembalikan Kehidupan Islam_, Ahad (21/09/2025) di Depok.

Menurutnya, yang mendasari  peringatan maulid  yang begitu getol dan gencar diadakan di mana-mana, dibandingkan dengan bulan yang lainnya karena cinta yang luar biasa, yang memuncak dari umat Islam kepada  junjungannya, suri tauladannya yaitu Nabi Muhammad SAW.

Hanya saja, tambahnya, semua perayaan itu seolah hanya bersifat seremonial, hanya formalitas saja. “Seharusnya kalau kita memiliki rasa cinta yang sangat besar kepada Baginda Rasul, maka tunjukkan. Pasalnya fitrah manusia akan cenderung cinta kepada keluarganya, harta benda, bahkan cinta kepada diri sendiri yang narsisnya luar biasa,” terangnya di hadapan puluhan peserta.

Terkait hal tersebut, ia juga membacakan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah at-Taubah ayat 24 yang artinya, “Katakanlah, jika bapak-bapak,  anak-anak, saudara-saudara, istri-istri dan keluarga kalian juga kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya, Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik.”

"Jadi kecenderungan dari manusia ini harus diarahkan, biar tidak malang, tidak salah kaprah, yang akhirnya manusia jadi terjerumus dan malah dihinakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalam Islam sudah ada tuntunannya, mana kecintaan yang harus diutamakan, mana yang harus didahulukan,” paparnya. 

Seperti halnya kondisi saat ini, ungkapnya, orang bermegah-megahan kepada dunia, sebagaimana dikatakan sebagai penyakit Wahn yakni cinta dunia takut mati. Harta dunia semuanya titipan, tidak akan dibawa mati semua harta duniawi, kecuali yang dipakai untuk berjuang di jalan Allah seperti istri Rasul yakni Khadijah, menyerahkan semua hartanya untuk Rasul dan dipakai untuk perjuangan Islam.

“Padahal Khadijah itu seorang penguasa, bisnis women (istilah hari ini). Ia wanita yang pertama masuk Islam, menyambut seruan Islam setelah Rasulullah mendapatkan wahyu dan langsung menyerahkan hartanya termasuk juga mendukung perjuangan Rasulullah SAW,” ujarnya.

Apalagi perjuangan dakwah Rasulullah SAW berat, penuh cobaan, ancaman, hambatan dan gangguan, ujarnya, karena beliau membawa ajaran yang baru, yaitu ajaran yang haq (ajaran kebenaran) dan pada masa itu semua sudah meninggalkan agama yang lurus, yang mengajarkan tauhid serta diselewengkan dengan menyembah berhala yang dikenal sebagai kondisi jahiliyah.

“Pada masa jahiliyah itu, mereka menyembah berhala, minum khamr, berzina, membunuh anak perempuan hidup-hidup, suka menipu. Tidakkah sama kondisinya dengan sekarang ini, bahkan lebih parah. Makanya kita kenal sebagai jahiliyah modern. Karena teknologinya makin berkembang, prostitusi sudah bisa dengan cara online, begitu juga judi, riba dimana-mana, kriminalitas, pembunuhan terjadi setiap hari, nyawa manusia tidak ada harganya,” bebernya.

“Mengapa semua bisa terjadi?” tanyanya.

“Jelasnya, akar dari semua masalah tersebut adalah tidak tunduk kepada aturan Allah SWT, contoh dari Baginda Rasul. Padahal sudah ada tuntunannya, petunjuknya, syari'at-Nya. Meskipun Rasullullah sudah tidak ada bersama kita, tapi Rasulullah sudah meninggalkan dua pegangan, yakni Al-Quran dan As-Sunnah (Al-Hadits),” jawabnya.

Padahal, menurutnya Al-Qur’an dan As-Sunnah harusnya dipegang erat-erat, setiap saat dipelajari, dipahami, diamalkan dan disebarkan. Bersama diamalkan, disebarkan di tengah-tengah kehidupan, sebagai aturan kehidupan, cara pandang, cara mengatur kehidupan.

"Maka dari itu semuanya perlu ilmu, untuk itu teruslah Istiqamah, terus belajar Islam dengan sangat dalam seluas-luasnya. Kita kaji dinul Islam untuk kemudian kita berkeinginan menerapkan syari'at Islam hingga kita dapat mengembalikan kehidupan Islam,” pungkasnya. []Sari Liswantini