-->

Ironi Intelektual, Hilangnya Moral Mahasiswa


Oleh : Dinda Kusuma W T

Mahasiswa merupakan akademisi yang dianggap memiliki intelektualitas tinggi di tengah masyarakat. Pasalnya, tidak semua orang bisa beruntung dan mampu memasuki dunia perguruan tinggi. Mahasiswa dipandang sebagai orang-orang cerdas dan seringkali menjadi corong bagi suara rakyat. 

Namun sayang, fakta akhir-akhir ini benar-benar mencoreng martabat bangsa. Alih-alih menjadi pelopor perbaikan generasi, justru mereka menunjukkan perilaku amoral berdalih candaan. Beberapa waktu yang lalu tangkapan layar percakapan grup digital mahasiswa IPB University yang diduga mengandung konten pelecehan seksual viral di media sosial.

Percakapan itu diduga berisi pembahasan tentang sejumlah perempuan yang dijadikan objek seksual. Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi (FTT) IPB University, Prof Slamet Budijanto, menyatakan pihaknya telah menjatuhkan sanksi untuk pelaku kekerasan seksual. "Berdasarkan hasil pemeriksaan tim, terdapat 16 mahasiswa yang teridentifikasi terlibat dalam pelanggaran tata tertib kehidupan kampus dan tindakan pelecehan seksual terhadap mahasiswi. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2024 dan secara resmi baru dilaporkan kepada institusi pada 14 April 2026," jelas Prof Slamet Budijanto (bbc.com, 20/04/2026).

Kasus ini seolah memberi gambaran bagaimana dunia kampus sebenarnya. Kehidupan liberal yang meliputi mereka nyatanya menjadikan manusia meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan. Kecerdasan tidak mampu membawa seseorang pada kebaikan jika tidak dibarengi dengan rasa takut kepada penciptanya.

Artinya, kehidupan sekuler yang memisahkan hidup ini dari aturan agama jelas adalah sumber kehancuran. Ironinya, manusia modern berharap makin maju dengan meninggalkan nilai agama, khususnya agama islam. Padahal nilai inilah yang bisa menjaga umat manusia dari kerusakan. Menjalani kehidupan sekuler dan liberal, berharap makin sejahtera tanpa ikatan aturan agama, adalah pemikiran dangkal yang salah kaprah.

Untuk menciptakan generasi emas yang bermoral tinggi, kunci utamanya adalah meninggalkan sekulerisme dan kapitalisme, kembali kepada sistem Islam. Islam menawarkan solusi yang komprehensif untuk semua aspek kehidupan. Dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh), masyarakat dapat hidup dalam lingkungan yang mendukung kebaikan dan menjauhkan dari keburukan.

Kasus pelecehan verbal di Universitas Indonesia ini hanyalah salah satu kasus yang muncul dipermukaan. Kasus serupa yang menunjukkan rendahnya moralitas mahasiswa sangatlah banyak. Seperti menjadi rahasia umum, bahwa sebagian besar mahasiswa adalah pelaku seks bebas, kumpul kebo bahkan banyak mahasiswi hamil diluar nikah kemudian nekat melakukan aborsi.

Islam Solusi Tuntas

Selaras dengan pemikiran manusia yang bijaksana, islam sangat menentang pergaulan bebas, penyimpangan seksual, dan semua perilaku yang mengarahkan manusia kepada perilaku hewani. Islam dan segala peraturannya sangat memuliakan manusia. Jika syariat islam ditegakkan, maka orang tua tidak perlu terlalu khawatir dalam mendidik anak-anak seperti sekarang. Tidak khawatir bahwa anak akan terjerumus pada pergaulan bebas, karena dalam islam, negara pasti akan melarang tegas berkembangnya perilaku tersebut. Regulasi negara akan menjamin laki-laki dan perempuan berinteraksi sesuai syariat. Dan masih banyak kebaikan-kebaikan lainnya yang ada pada islam.

Sistem islam, adalah sistem yang mampu mengatur kehidupan manusia sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. Islam bukan hanya agama ritual belaka. Melainkan sebuah ideologi yang melahirkan berbagai peraturan lengkap dan menyeluruh bagi manusia. Mampu memberikan perlindungan dan pengaturan yang adil bukan hanya bagi umat Islam, tapi juga bagi seluruh umat manusia apapun agamanya. Apabila hanya sistem islam yang kita terapkan, niscaya keberkahan akan senantiasa dilimpahkan oleh Allah SWT, sebagaimana firmanNya dalam surat Al A'raf ayat 96,
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan" (TQS. Al A'raf : 96).