Perang Iran-AS, Akankah Gaza Merdeka?
Oleh : Ida Nurchayati
Perang AS-Israel dengan Iran berlangsung hampir satu setengah bulan. Ambisi AS menguasai Iran dalam empat hari gagal. Bahkan AS yang memulai perang, meminta gencatan senjata, Iran ternyata lebih unggul. Akankah perang ini membawa kebangkitan Islam atau sekedar mempertahankan posisi geopolitis?
Perang yang seharusnya membuka mata kaum muslim atas sikap ambigu Barat. Sebuah pelajaran berharga bagi Umat Islam bahwa tidak layak meletakkan loyalitasnya pada Barat.
Menyingkap Topeng AS
Perang ini menelanjangi Amerika Serikat (AS) yang selama ini memposisikan diri sebagai negara penegak HAM dan demokrasi.
Faktanya tidak sama dengan propagandanya. Ketika invasi ke Iran, AS menyerang sekolah anak putri di Minab, menyebabkan korban tewas lebih dari 165 jiwa. Lebih dari itu AS adalah pendukung utama rezim brutal Zionis Israel yang melakukan genosida di Gaza, tapi tidak ada sanksi apapun. HAM tidak berlaku bila korbannya adalah muslim.
Sebelumnya, AS juga menginvasi dan melakukan agresi ke Afghanistan, Irak, Libya, Yaman yang menelan korban jutaan jiwa. AS justru banyak melanggar HAM yang selama ini ia dengungkan. Sejatinya HAM dan demokrasi adalah senjata AS agar tetap bisa menancapkan hegemoninya di negara-negara lain.
AS selama ini juga mempropagandakan diri sebagai pelindung negara-negara berkembang, diantaranya dengan membuat pangkalan militer dinegeri-negeri muslim. Faktanya, ketika Iran menyerang pangkalan militernya di Arab Saudi, Bahrain, UEA, di mana mereka telah membayar atau menanggung biaya pangkalan militer AS, namun merasa tidak mendapatkan perlindungan yang setara.
Opini yang didengungkan bahwa kekuatan militer AS terkuat dan tak tertandingi disegala medan. Faktanya, menghadapi negara Iran yang telah diembargo selama kurang lebih 40 tahun. AS gagal melumpuhkan program nuklir Iran, bertahannya rezim, dan kerugian personel serta aset militer. Iran dinilai unggul secara geopolitik karena mampu membalas dengan serangan drone, mengganggu jalur minyak di Selat Hormuz, dan menggempur pangkalan AS di Kuwait/Qatar. Teknologi drone Iran yang relatif sederhana dan murah dalam melumpuhkan aset udara canggih milik Amerika Serikat dan sekutunya.
Gaza Masih Merana
Perang Iran- Amerika mereda, namun darah terus mengalir di Gaza. Ternyata tidak semua yang berteriak membela Palestina, benar-benar menjadikan hal utama.
Iran selama ini membangun citra sebagai pembela utama Gaza. Narasi yang dibangun ketika meluncurkan rudal dan manuver militer regional adalah melawan penjajahan Zionis-Yahudi. Namun fakta politik kadang menelanjangi retorika, membongkar apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh Iran.
Sepuluh kesepakatan antara Iran dan AS telah disusun, diantaranya, penghentian eskalasi militer, pengaturan ulang keamanan kawasan, pembahasan sanksi, pembatasan gerak kekuatan asing, bahkan perhatian eksplisit terhadap situasi Lebanon. Namun Gaza atau Palestina tidak disebutkan sama sekali, padahal selama ini Gaza selalu dijadikan simbol perlawanan. Gaza kembali ditinggalkan. Gaza paling banyak diangkat sebatas slogan, dan sering dikibarkan ketika demonstrasi. Namun ketika pasal-pasal perjanjian dituangkan, Gaza tidak masuk dalam perhitungan, miris. Sikap Iran tidak berbeda nyata dengan negara- negara dikawasan teluk lainnya, hanya berorientasi pada kepentingan bangsanya sendiri.
Padahal darah anak-anak Gaza, setiap nyawa yang melayang, kehormatan yang terkoyak, tidak butuh retorika dan slogan. Rakyat Gaza butuh pembelaan dari kekuasaan politik yang tegak diatas akidah Islam, bukan yang lahir dari kepentingan nasionalisme sempit.
Khilafah Harapan Nyata
Khilafah merupakan kewajiban sekaligus urgen menyangkut hidup matinya Umat Islam. Rasulullah saw bersabda yang artinya,
"Sesungguhnya Imam (Khalifah adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengan dirinya" (HR al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjelaskan sekaligus menegaskan bahwa khalifahlah pelindung sejati umat Islam. Perisai yang akan melindungi darah, jiwa, harta, kehormatan dan setiap jengkal tanah Kaum Muslim. Selama Umat Islam masih terkotak-kotak dalam _nation state,_ garis imajiner peninggalan penjajah, maka Umat Islam akan menjadi santapan orang-orang kafir. Masing-masing negeri berjuang untuk mempertahankan kepentingan negara masing-masing. Bukan untuk melindungi dan membebaskan Gaza dari cengkeraman dan penjajahan Zionis-Israel.
Maka, disinilah urgensi hadirnya institusi politik global berdasarkan mabda Islam. Institusi politik yang akan menyatukan seluruh potensi yang dimiliki Kaum Muslim. Negara adidaya yang akan mengimbangi kekuatan AS, yang selama ini melindungi penjajah Israel. Apabila Iran saja mampu membuat AS kewalahan, terlebih jika seluruh negeri-negeri muslim bersatu, akan menjadi kekuatan tak terkalahkan. Hanya khilafah yang menjadikan darah kaum muslim bernilai strategis, terjaga kehormatannya, dan dibela tanpa syarat.
Selama institusi khilafah belum tegak, Gaza akan senantiasa disebut dalam retorika, namun darah akan terus mengalir. Tentu kita tidak ingin, saudara seakidah kita mengalami kezaliman terus menerus.
Wallahu a'lam

Posting Komentar