-->

Indonesia Darurat Kekerasan Seksual

Oleh : Ida Nurchayati

Dunia Pendidikan kembali ternoda. Viral video dugaan pelecehan seksual yang dilakukan mahasiswa di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, terduga sementara sebanyak 16 mahasiswa. Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji
menyebut kasus tersebut pertanda situasi darurat dan alarm keras kasus kekerasan di lembaga pendidikan, yang terus meningkat dan mengkhawatirkan.

Menurut Ubaid, kekerasan di dunia pendidikan bukan lagi kasus per kasus, melainkan sudah menjadi pola yang sistemik. Dan lebih berbahaya lagi, pelakunya justru banyak berasal dari dalam lembaga pendidikan itu sendiri. Pertanda bahwa sekolah dan kampus telah gagal menjadi ruang aman. JPPI mencatat terjadi 233 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan sepanjang Januari hingga Maret 2026 (bbc.com, 15/4/2026)

Paradigma Pendidikan Sekuler

Tujuan pendidikan nasional diantaranya adalah menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Namun faktanya, dunia pendidikan kita belum mampu mencetak manusia yang bertakwa dan berakhlak mulia. Terbukti kekerasan, pelecehan seksual sering terjadi di lembaga pendidikan. 

Paradigma pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya diberi porsi dua jam pelajaran per pekan. Pendidikan hanya diberikan sekedar transfer ilmu, bukan membentuk pemahaman. Kurikulum pendidikan disusun untuk mempersiapkan peserta didik ketika lulus siap terjun ke dunia kerja. 

Sementara pembentukan kepribadian siswa kurang diperhatikan. Maka lahir individu-individu yang individualis, hedonis dan pragmatis. Individu yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan, baik bebas dalam berpendapat maupun bebas dalam berperilaku. Manusia bebas melakukan apa saja tanpa peduli halal dan haram. Standar kebahagiaan ketika mendapatkan kesenangan fisik dan materi. 

Inilah potret dunia pendidikan kita. Meski menteri dan kurikulum berulang kali diganti, namun faktanya krisis adab dan akhlak sering terjadi bahkan semakin menjadi.

Solusi Islam

Sistem pendidikan Islam mampu melahirkan individu-individu yang beradab. Pendidikan menjadi tanggung jawab keluarga. Orang tua wajib menanamkan akidah Islam yang kokoh sehingga mampu menjadi pengendali diri setiap individu. Orang tua juga berkewajiban memahamkan anak-anaknya agar senantiasa perbuatannya terikat dengan hukum syarak, bukan mengikuti hawa nafsu. Standar kebahagiaan adalah mendapatkan ridha Allah SWT.

Pendidikan dalam keluarga diperkuat adanya masyarakat Islam. Yakni sekumpulan individu-individu yang memiliki pemikiran, perasaan dan aturan sama, yakni Islam. Masyarakat yang peduli amar makruf nahi munkar. Bila ada individu yang melakukan kemaksiatan, maka masyarakat akan mencegahnya.

Islam menjadikan sistem pendidikan tegak diatas akidah Islam. Negara wajib menyelenggarakan sistem pendidikan Islam yang berasaskan akidah Islam. Tujuan pendidikan adalah untuk membentuk kepribadian Islam, yakni individu yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Kurikulum dirancang agar setiap individu memiliki akidah yang kokoh, memahami bahwa setiap perbuatannya harus terikat dengan syariat serta terampil dan menguasai ilmu-ilmu kehidupan.

Negara juga berkewajiban menjamin informasi yang beredar adalah informasi yang positif untuk menjaga keimanan, pemikiran dan akhlak. Negara wajib memblokir informasi yang destruktif.

Penjagaan negara dilengkapi dengan melaksanakan sanksi tegas bagi siapa saja yang melanggar aturan. Sanksi yang tegas akan membuat jera bagi pelaku maupun orang-orang yang melihat.

Demikianlah kesempurnaan sistem Islam, mampu mencetak individu beradab. Hal ini bisa terlaksana ketika negara meninggalkan sistem sekuler, dan menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahu a'lam