-->

PELAJARAN PENTING PERANG AS - IRAN, KESATUAN NEGERI-NEGERI ISLAM MAMPU MENGALAHKAN HEGEMONI GLOBAL

Oleh : A. Salsabila Sauma

Iran mengumumkan klaim kemenangan dengan menyebutkan “kekalahan bersejarah dan telak” bagi Amerika Serikat dan zionis Israel setelah 40 hari perang. Perang yang dimulai dengan pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei dan para komandan berpangkt tinggi pada 28 Februari lalu. Kemenagan ini juga diumumkan setelah Amerika Serikat mengumumkan terpaksa menerima proposal 10 poin dari Iran. (vivanews)

Di lain sisi, Presiden Trump juga mengatakan hal yang serupa. Amerika Serita menyatakan klaim kemenangan seratus persen terhadap Iran karena merasa berhasil mendesak Iran untuk kembali membuka Selat Hormuz. Amerika Serikat juga mengklaim bahwa kekuatan militer merekalah yang membuat Iran terpaksa setuju mengirimkan negosiasi penghentian perang dengan 10 poin proposal. (kompas)

GANJALAN DALAM KESEPAKATAN AS – IRAN

Baik dari sisi Amerika Serikat ataupun Iran, keduanya memiliki ketegasan sendiri dalam merilis poin-poin proposal negosiasi. Amerika Serikat mengaku datang dengan proposal sederhana dan fleksibel. Sedangkan Iran menilai proposal yang diajukan Amerika Serikat sangat berlebihan dan justru melanggar hukum. Iran meminta hak dan kepentingan yang sah namun Amerika Serikat terus menolak. Di antara topik pembahasan, yang paling menjadi sorotan adalah perihal Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan penghential total perang di Iran. (mediaindonesia)

Selat Hormuz telah menjadi sorotan dunia selama perang AS – Iran. Apalagi setelah keputusan Iran untuk menutup jalur dagang tersebut kepada kapal-kapal Amerika dan sekutunya, serta tidak segan menyerang kapal yang nekat menerobos melewati selat tersebut. Iran menegaskan kedaulatan Taheran terhadap jalur dagang di Selat Hormuz sehingga kebijakan akan diatur sendiri oleh Iran. Sedangkan Amerika Serikat menilai kebijakan Iran dalam melakukan pekerjaan ini amat buruk dan ingin segera seluruh kapal dagangnya diizinkan lewat.

Kemudian topik nuklir menjadi sumber terbesar perselisihan AS – Iran. Uranium, yang menjadi bahan utama nuklir, merupakan bahan yang diproduksi aktif oleh Iran. Bahkan tercatat stok uranium diperkaya 60% yang cukup untuk membuat lebih dari sembilan bom nuklir. Amerika Serikat melarang keras dan tidak pernah membolehkan Iran untuk membuat nuklir. Iran membantah bahwa pengayaan uranium bukan untuk pembuatan nuklir melainkan tujuan sipil saja.

Hal-hal tersebut itulah yang menjadi alasan negosiasi berjalan alot dan gagal mencapai kesepakatan. Iran menolak tunduk pada tuntutan Amerika Serikat, begitupun sebaliknya. Namun dari kejadian ini pun dunia menjadi sadar kembali bahwa cerita bahwa Amerika adalah negeri adidaya mulai diragukan. Ternyata kekuatan militer dan diplomasi mereka tidak mampu mengalahkan atau sekadar memojokan Iran, negara yang selama ini mereka kucilkan.

DIBUTUHKAN KESATUAN SELURUH NEGERI MUSLIM

Perang AS – Iran, genosida Gaza, penyerangan Lebanon, hingga penistaan Baitul Maqdis kembali mengingtakan umat muslim sabda Rasulullah SAW. tentang keadaan saat ini, “…. Tidak. Bahkan pada hari itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah menghilangkan rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Allah menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kalian. ….”. (H.R. Abu Dawud)

Jumlah umat muslim saat ini lebih dari dua miliyar jiwa namun dalam kondisi lemah. Umat diliputi penyakit wahn: cinta dunia dan takut mati, terutama para pemimpin negeri muslim. Ketakutan kehilangan kekuasaan membuat para pemimpin itu menjadi pengecut dan tunduk di hadapan kafir imperialis. Keadaan ini seharusnya membuat sadar bahwa umat muslim sudah mesti berhenti berharap solusi pada pihak-pihak di luar Islam. Hanya persatuan umat Muslim yang bisa membeirkan perlindungan dan solusi hakiki terhadap saudara muslim lain.

Letak negeri-negeri musli secara geopolitik amat strategis. Negeri muslim memiliki Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Selat Malaka. Kalau ketiga wilayah ini bisa dipergunakan dengan maksimal, umat Muslim bisa menciptakan kekuatan besar untuk menekan dunia agar bisa tunduk dan tidak semena-mena terhadap urusan manusia.

Hanya saja persatuan umat sulit terwujud tanpa adanya Khilafah Islamiyah. Institusi khilafah yang bisa menyatukan seluruh wilayah Islam di dunia. Dengan kebijakan syar’i, khilafah akan sanggup melindungi seluruh negeri muslim. Dan diperlukan kesadaran umat untuk bisa mencapai persatuan Islamiyah ini. Namun, kesadaran akan sulit dijangkau kalau umat Muslim masih jauh terhadap agamanya. Oleh karena itu, langkah awal yang bisa dilakukan individu adalah belajar kembali Islam dengan benar. Kembali mencari jawaban pasti dan benar tentang tujuan manusia diciptakan Allah SWT.  untuk apa.

Wallahu’alam bi showab