-->

Pasca Lebaran Banyaknya Keluarga yang Terlilit Utang, Sistem Islam Solusinya


Oleh : Khusnul. H

Lebaran, kata dia, seharusnya menjadi musim pulang kampung, musim berbagi, dan musim pemulihan batin. Namun pada 2026, banyak keluarga justru merasa seperti memasuki lorong sempit yang gelap. Inflasi tahunan pada Februari 2026 saja, tercatat 4,76 persen. Jauh di atas sasaran inflasi Bank Indonesia (BI). Harga pangan naik, ongkos mudik tetap berat, kata dia, THR terasa menyusut karena potongan pajak, bansos masih bocor, dan kelas menengah semakin bergantung pada utang jangka pendek. (Inilah. com, 14/03/2026) 

Bahkan dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan lonjakan tajam pinjaman online (pinjol) dan paylater menjelang Lebaran 2026, didorong kebutuhan konsumsi tinggi seperti baju baru, hampers, dan mudik. Sebanyak 87% responden mengaku pengeluaran meningkat, seringkali memaksa keluarga berutang akibat tekanan sosial dan kenaikan harga. Tren ini meningkatkan risiko kredit macet setelah hari raya. (Instagram) 

Terjadinya kenaikan utang keluarga menjelang lebaran karena daya tahan ekonomi sebagian rumah tangga Indonesia lemah, sementara harga barang naik, ongkos mobilitas bertambah, tekanan kurs, dan jaring pengaman sosial yang belum sepenuhnya tepat sasaran. Sehingga masyarakat banyak yang memilih utang untuk memenuhi kebutuhan lebaran, ada yang benar-benar berhutang untuk mencukupi kebutuhan. Ada juga yang berhutang hanya sekedar memenuhi gengsi saat lebaran serta gaya hidup, namun keduanya sama-sama membuat masyarakat terjerat hutang yang berkepanjangan. 

Dalam lingkungan sistem kapitalis Momen Ramadan menjadi ajang untuk dikapitalisasi dan lebaran melahirkan tekanan sosial dan beban ekonomi bagi keluarga. Karena masyarakat melakukan hutang dengan berbagai macam tujuan. Sedangkan dalam sistem kapitalis setiap momen adalah peluang yang besar untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Padahal tuntutan hidup dan penghasilan masyarakat terkadang tidak mampu untuk memenuhi harapan saat lebaran datang. Tapi bagi sistem kapitalis ini adalah kesempatan emas untuk meraup keuntungan yang besar dari masyarakat. Dengan menamawarkan diskon besar berbagai macam prodak akhirnya mampu menjaring keuntungan besar yang membuat masyarakat membeli saat jelang lebaran. 

Di tengah rapuhnya daya beli keluarga, era digitalisasi memberikan alternatif solusi utang yang makin membahayakan ekonomi keluarga. Untuk mendapatkan pencairan dana pun cukup mudah, hanya bermodal fotocopy KTP dana sudah bisa cair. Dalam sistem kapitalis perputaran ekonomi rakyat justru difasilitasi utang di tengah menurunnya pertumbuhan upah. Sistem kapitalis tidak memikirkan benan besar yang akan ditanggung oleh masyarakat yang penting bagi mereka adalah keuntungan yang besar. Kondisi ini akan makin menjadikan keluarga bergantung pada utang ribawi untuk memenuhi kebutuhan rutin dan semirutin. Dan hal ini yang akhirnya akan menambah beban masyarakat pasca lebaran. Dimana yang seharusnya pasca lebaran adalah waktu untuk menjadi lebih baik bukan malah menambah beban hidup yang tak terkendali. Terkadang fenomena hutang juga menjadi sebuah penyakit yang sulit dilepaskan oleh masyarakat, tanpa mereka melihat kemampuan diri untuk melunasinya dibelakang hari. 

Dalam kondisi keuangan yang seperti ini, keluarga butuh sistem ekonomi yang mampu menyejahterakan, bukan sekadar memberikan narasi ekonomi inklusif. Dimana sistem ekonomi tersebut mampu membangun keseimbangan distribusi ekonomi yang merata diseluruh keluarga bukan hanya bagi pemilik kapital. Dengan distribusi yang tidak merata, maka hal ini memaksa masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dengan berhutang yang akhirnya menjerat mereka. Terkadang masyarakat sendiri juga yang menyandarkan pemenuhan kebutuhan pada hutang tanpa mau berusaha sungguh-sungguh. 

Maka sebenarnya kita butuh sistem ekonomi stabil baik dari nilai mata uang maupun harga barang. Dan ini hanya kita temukan dalam sistem ekonomi islam, dimana dalam islam sistem ekonomi dibuat sedemikian rupa supaya mampu memenuhi kebutuhan seluruh rakyat tanpa memandang siapa dia. Ekonomi ditopang sektor riil yang membuat distribusi barang dan jasa berjalan lancar tanpa ada monopoli. Selain itu negara memiliki peran penuh untuk menjamin rakyat mampu membeli barang dan jasa untuk mencukupi kebutuhannya. Negara juga menggunakan sistem mata uang emas dan perak yang keduanya memiliki nilai yang stabil apapun kondisinya. Dalam sistem ekonomi islam semua dijalankan secara riil dan tidak bertumpu pada sektor non riil apapun kondisinya. Selain itu dalam sistem ekonomi islam bukan hanya bertujuan untuk mencari keuntungan saja, tapi setiap transaksi yang terjadi harus berada dalam koridor hukum syara', tidak boleh berlaku curang, melakukan penipuan, memonopoli, ataupu menipu hanya untuk meraup keuntungan. Bahkan negara ada kewajiban untuk memastikan fakir-miskin bisa bertahan hidup dan bisa makan. Sehingga meskipun menjalankan ekonomi tetap akan dijunjung ketinggian moral dengan menjadikan sifat-sifat terpuji sebagai dasar dalam interaksi dan transaksinya. Dan masyarakat melakukan itu semua karena adanya kesadaran hubungan dengan Allah yang akhirnya menjadi pengendali interaksi-interaksi mereka dalam rangka meraih ridho Allah. 

Selain itu juga sangat di butuh sistem ekonomi yang mampu menyediakan lapangan kerja yang layak bukan memfasilitasi utang. Karena dalam sistem kapitalis tidak akan kita temukan bantuan yang tulus agar masyarakat mampu memilki pekerjaan ynag layak yang mampu mereka andalkan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Alih-alih mendapat bantuan ynag ada justru mematikan daya juang masyarakat sehingga mereka berpangku tangan dengan adanya bantuan tersebut dan tidak mampu mandiri. Berati disini kita harus mencari sistem yang lebih baik dari sistem ekonomi kapitalis. Maka hal itu hanya akan didapatkan dari sistem ekonomi Islam. Karena dalam sistem ekonomi islam, negara akan meniamin setiap orang yang sudah dewasa mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Dan bagi yang tidak memiliki ketrampilan negara ada kewajiban mengajarkan ketrampilan kepada mereka. Bagi yang tidak memiliki modal, negara akan memberikan modal kepada mereka secara cuma-cuma agar mereka bisa memiliki pekerjaan yang mampu menopang kehidupan mereka tanpa harus berpangku tangan atau menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup. 

Selain itu dalam menjalankan sistem ekonomi Islam harus juga harus sepakat dengan sistem politik Islam. Karena sistem ekonomi butuh kekuatan politik untuk melepaskan ketergantungan negara dari pengaruh globalisasi dan liberalisasi perdagangan sehingga negara mampu menerapkan Sistem ekonomi Islam untuk membangun kesejahteraan bagi keluarga. Tanpa politik islam negara tersebut akan menjadi sasaranndari arus globalisasi dan liberalisasi, karena sangat pentingnya politik islam maka harus disinergikan dengan sistem ekonomi islam. Dan sistem politik islam ini juga harus dijalankan dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara karena ini adalah kinci keberlangsungan kehidupan sistem islam. Selain itu dengan menerapkan politik islam akan menjaga tatanan negara yang stabil dengan dibarengi kesadaran masyarakat akan pentingnya islam. Termasuk juga dalam sistem Islam akan mengembalikan momentum Ramadan dan Idulfitri sesuai pandangan syariat, yaitu untuk mewujudkan ketakwaan bukan hanya pada tataran individu namun juga sistem negara. Bukan seperti gambaran ynag dipaksakan dalam siatem kapitalis ynag hnay untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Sehingga tidak akan adalagi lebaran melakukan aktivitas ekonomi hanya untuk mengejar gaya hidup atau demi gengsi. Yang ada masyarakat melakukan lebaran tanpa ada beban hutang, tapi untuk mewudkan ketakwaan individu dan semakin meningkatkan keimanan. Tidak perlu lagi konsumtif berlebihan, tidak pelu lagi gengsi dengan keluarga atau saudara saat lebaran, tak perlu lagi berhutang untuk lebaran. Semoga dengan penerapan siatem islam dalam segala aspek kehidupan benar-benar masyarakat jadi lebih baik kehidupannya dari pada hidup dalam sistem kapitalis. Aamiin.