Narkoba di Kalangan Pelajar, Bukti Kegagalan Sistem
Oleh : Ummu Ayya
Narkoba sering dianggap sebagai cara cepat untuk meraih kesenangan. Saat ini, dengan perkembangan pesat dalam dunia digital, kegiatan fisik semakin terbatas, dan ruang untuk bersosialisasi semakin menyusut, sehingga peluang untuk mencoba hal-hal baru menjadi lebih besar. Terutama bagi remaja, karena mereka berada dalam masa perkembangan emosional yang tidak stabil dan sangat ingin tahu. Remaja, sebagai kelompok yang paling rentan, telah terlibat dalam jaringan bisnis narkoba dan bahkan berperan sebagai pengedar.
Seorang siswa di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, ditangkap oleh polisi ketika hendak mengedarkan sabu yang terbukti disimpan di dalam tanah di samping rumahnya. (Detik. com, 02-04-2026).
Di sisi lain, di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, tim dari Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari menangkap seorang pelajar berinisial HS (19). Mereka menemukan banyak paket sabu-sabu yang tersebar di beberapa lokasi, diduga akan diedarkan ke masyarakat.
Kabar ini menambah daftar kenyataan pahit tentang kerusakan generasi muda. Masalah narkoba semakin memprihatinkan. Mengingat siswa memiliki peran penting dalam menentukan masa depan negara. Apa yang mereka lakukan saat ini mencerminkan kualitas para pemimpin di masa depan. Bagaimana jika siswa yang diharapkan menjadi penerus peradaban justru menunjukkan kelemahan akibat terpengaruh zat adiktif? Masihkah kita dapat berharap kepada mereka untuk memimpin masa depan, sementara banyak masalah yang membelenggu mereka?
Dampak Penerapan Sistem Sekuler
Selain narkoba, kasus kekerasan hingga pembunuhan juga sangat umum. Tidak ketinggalan masalah pergaulan bebas di kalangan pelajar yang sering kali berujung pada putus sekolah akibat kehamilan di luar nikah.
Semua masalah ini adalah akibat dari penerapan sistem sekuler. Dalam sistem ini, agama dipisahkan dari norma-norma kehidupan masyarakat dan menghasilkan budaya kapitalisme. Nilai-nilai agama terlupakan, dan akumulasi keuntungan material lebih diutamakan. Keberhasilan hanya dilihat dari seberapa banyak harta yang dimiliki seseorang. Ini membuat narkoba dianggap sebagai barang yang menguntungkan dengan nilai ekonomi yang tinggi. Ditambah lagi dengan kondisi hidup yang semakin sulit, mendorong tekanan ekonomi yang berat di masyarakat.
Standar hidup yang mengutamakan materi ini juga menjadi acuan dalam sistem pendidikan saat ini. Proses belajar di sekolah lebih menekankan pada nilai akademis, tanpa adanya pengajaran agama yang memadai. Akibatnya, para siswa tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Mereka seolah-olah dipaksa untuk siap bekerja tanpa dasar agama yang kuat. Situasi ini juga membuat remaja lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental.
Selain karena beban ekonomi yang berat, standar sosial pun semakin tidak realistis. Banyak yang mencari jalan pintas tanpa memikirkan benar atau salah. Keinginan untuk mencari kesenangan sesaat justru menjerumuskan mereka ke dalam ketergantungan narkoba. Bahkan, mereka dengan mudah terlibat dalam bisnis narkoba karena motivasi uang.
Kondisi ini juga terjadi di masyarakat secara umum. Dengan tingginya permintaan terhadap narkoba, bisnis ini semakin berkembang. Meskipun upaya pemberantasan dilakukan secara gencar, pemerintah belum mencapai keberhasilan. Narkoba masih beredar luas. Beberapa hukuman yang diberikan tidak mampu memberikan efek jera bagi para pelanggar. Terutama bagi remaja yang sering kali dianggap belum sepenuhnya terikat hukum, sehingga mereka merasa lebih berani melakukan tindakan kriminal. Jika ini dibiarkan terus-menerus, kita akan membawa generasi mendatang menuju kehancuran.
Diperlukan Perubahan yang Terstruktur
Satu-satunya solusi yang bisa diharapkan adalah melakukan perubahan yang terstruktur. Tentu saja dengan cara mengembalikan aturan kehidupan sesuai dengan ketentuan Sang Pencipta. Perubahan yang dimaksud adalah penerapan sistem Islam.
Berbeda dengan sistem kapitalis, dalam konsep Islam, setiap individu diwajibkan untuk mengejar ilmu agama. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadis: “Menuntut ilmu adalah tanggung jawab setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah).
Utamanya bagi generasi muda, mereka akan menerima sistem pendidikan yang didasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Dengan demikian, akan terbentuk rasa takwa dan kontrol diri sebelum melakukan tindakan tertentu. Mereka akan terhindar dari berbagai bentuk kemaksiatan, termasuk penyalahgunaan obat terlarang.
Peran orang tua juga akan diperkuat dalam lingkungan keluarga. Anak-anak perlu dibimbing sejak usia dini dan diberi contoh yang baik. Selanjutnya, masyarakat harus memiliki suasana yang positif dengan membangun rasa peduli satu sama lain. Dengan cara ini, kebiasaan saling memberi nasihat akan terus ada. Yang tidak kalah penting adalah peran pemerintah. Kebijakan yang mereka tetapkan seharusnya sesuai dengan aturan Islam.
Selain itu, dalam konteks penegakan hukum, negara akan menerapkan sanksi dengan tegas untuk mencegah orang lain dari melakukan pelanggaran. Islam pun menegaskan adanya hukuman berat bagi para produsen dan pengedar narkoba. Terlebih lagi jika dampak kerusakannya sangat besar, hukuman mati bisa saja dikenakan. Tanpa adanya perubahan yang terstruktur, negara ini akan terus kesulitan dalam memberantas peredaran narkoba.
Ketentuan yang ditetapkan oleh Allah Swt. pastinya sempurna dan mencakup segala aspek kehidupan. Penerapan aturan Islam secara menyeluruh akan menyelamatkan generasi muda, sehingga mereka dapat menjadi individu yang gemilang dan siap membawa peradaban di masa mendatang.

Posting Komentar