-->

Kesatuan Umat Islam Mampu Mengalahkan Hegemoni Global


Oleh : Maryam Jannatu

Konflik bersenjata antara AS dan Iran memberikan banyak pelajaran penting bagi seluruh dunia, terutama bagi negara-negara muslim. Perang ini tidak hanya merupakan pertarungan militer, tapi juga mengungkapkan peta kekuatan global yang sebenarnya. Ini mencakup juga loyalitas politik dan potensi besar yang selama ini belum dieksplorasi oleh umat muslim.

Sampai minggu ketujuh setelah perang dimulai pada 28 Februari 2026, Iran masih bertahan teguh. Dalam konteks ini, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara jelas mengklaim kemenangan negaranya dalam persaingan geopolitik melawan AS dan Israel. Ia, yang merupakan putra Ayatullah Ali Khamenei, menegaskan bahwa di tengah tekanan internasional, ketahanan Iran menjadikan Teheran sebagai sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa lainnya. Mojtaba menekankan bahwa strategi "perlawanan" yang diterapkan Iran telah berhasil meruntuhkan dominasi Barat dan sekutunya, serta memperkuat posisi Iran di kancah global.

Hal serupa juga dinyatakan oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan bahwa Iran berhasil menggagalkan rencana perang kilat yang dicanangkan oleh AS dan Israel. Ia menyebutkan bahwa lawan awalnya bertujuan untuk melumpuhkan Iran secara cepat, termasuk upaya pembunuhan terhadap Pemimpin Tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei. Namun, hingga hari ke-40, Iran berhasil menanggapi serangan tersebut. Ini membuktikan bahwa kekuatan negara besar yang selama ini dianggap tak terkalahkan mulai menunjukkan tanda-tanda kelemahan.

Di tengah konflik, upaya untuk bernegosiasi pun terhambat. Iran mampu menyampaikan beberapa syarat untuk melakukan gencatan senjata. Ini menunjukkan bahwa keberanian dan keteguhan suatu negara dapat memperkuat posisi tawarnya, bahkan saat berhadapan dengan kekuatan besar sekalipun.

Sementara itu, Amerika Serikat juga tidak sepenuhnya berhasil dalam memaksakan negara-negara sekutunya untuk berperan langsung dalam konflik terbuka melawan Iran. Ini menunjukkan bahwa dalam politik global, tidak ada teman atau musuh yang bersifat permanen. Hubungan dibangun berdasarkan kepentingan masing-masing negara. Kekuatan AS yang selama ini dianggap tidak terkalahkan mulai menunjukkan tanda-tanda melemah seiring dengan berkurangnya dukungan dari para sekutunya.

Selama berlangsungnya konflik, kondisi menyedihkan justru muncul dari sebagian pemimpin negara-negara Muslim. Ketika banyak negara menjauh dari Amerika, pemimpin-pemimpin Muslim tetap setia padanya. Alih-alih memperkuat persatuan umat Islam, tindakan ini malah melemahkan posisi komunitas Muslim di seluruh dunia. Perpecahan internal menjadi salah satu penyebab utama yang menghalangi potensi besar umat tercapai.

Separatisme dalam tubuh umat Islam memang telah dirancang oleh musuh-musuh Islam. Ini merupakan taktik Barat dalam mengendalikan negara-negara Islam. Dengan alasan nasionalisme, kaum Muslim dibagi menjadi puluhan negara.

Di setiap negara Muslim, pemimpin yang diangkat biasanya memiliki kesetiaan politik kepada negara yang kuat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika serangan Amerika terhadap Iran dianggap dipicu oleh ketidakselarasan pemimpin Iran dengan kebijakan politik global Amerika.

Semangat nasionalisme yang dipromosikan oleh Barat telah berhasil mengganggu persatuan umat Islam. Terbukti, banyak penguasa Arab yang bersedia mengkhianati sesama Muslim demi mendukung Amerika. Mereka membolehkan sebagian wilayah mereka dijadikan pangkalan militer, yang mempermudah Amerika dalam menyerang umat Islam di Timur Tengah.

Kesatuan Umat Islam Menandingi Kekuatan Global

Pada dasarnya, umat Muslim memiliki potensi yang besar, baik dari segi jumlah, kekuatan ekonomi, maupun militer. Di balik serangan Amerika yang didukung oleh Israel terhadap Iran, terdapat potensi umat Islam yang belum terwujud secara penuh, yaitu persatuan antara negara-negara Muslim. Apabila umat Islam dapat bersatu dalam satu barisan yang solid, maka kekuatan ini bisa menjadi penyeimbang, bahkan penantang terhadap hegemoni global yang ada saat ini.

Kesadaran mengenai pentingnya persatuan ini menjadi sangat mendesak. Tanpa adanya persatuan, negara-negara Muslim akan terus berada dalam posisi lemah dan rentan terhadap intervensi. Sebaliknya, dengan persatuan yang kuat, umat Islam memiliki peluang besar untuk mengarahkan perkembangan peradaban dunia. Persatuan umat ini pun diperintahkan dalam Islam, seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 103:

“Bersatulah kalian semua di dalam tali (agama) Allah, dan janganlah kalian berpecah belah. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kalian dahulu bermusuhan, lalu Allah menyatukan hati kalian sehingga, dengan karunia-Nya, kalian menjadi bersaudara. (Ingatlah juga ketika itu) kalian berada di tepi jurang neraka, sehingga Allah menyelamatkan kalian dari situ. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kalian mendapatkan petunjuk. ”

Beberapa kalangan berpendapat bahwa bentuk persatuan itu perlu diwujudkan dalam suatu institusi politik yang dapat menyatukan negara-negara Muslim. Dalam pandangan ini, institusi tersebut dianggap mampu mengintegrasikan potensi sumber daya, kekuatan militer, dan pengaruh politik umat Islam secara global.

Lebih dari semua itu, diharapkan bahwa persatuan yang mantap bisa menjadi cara untuk mengakhiri beragam penderitaan yang dialami oleh negara-negara muslim, mulai dari konflik yang berlangsung lama hingga penjajahan dalam berbagai bentuk. Dengan kekuatan yang terstruktur, umat Islam diyakini bisa menciptakan tatanan dunia yang lebih adil.

Akhirnya, pertikaian antara AS dan Iran bukan sekadar soal siapa yang akan menang atau kalah. Lebih dari itu, pertikaian ini mencerminkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya ada pada senjata, tetapi juga pada persatuan, keberanian, dan tujuan perjuangan. Bagi komunitas Islam, ini adalah saat yang tepat untuk merenungkan sekaligus membangun kembali kekuatan bersama menuju masa depan yang lebih mandiri dan bermartabat.

Wallahua’lam bissawab.