-->

Murid Hina Guru, Tanda Nyata Runtuhnya Wibawa Pendidikan

Oleh : Henise

Peristiwa yang dahulu dianggap mustahil, kini menjadi tontonan yang dianggap biasa. Murid yang seharusnya hormat justru berani melecehkan guru di depan kelas. Bukan hanya sekadar membangkang, tetapi sampai pada tindakan merendahkan martabat pendidik. Fenomena ini bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan sinyal keras bahwa ada kerusakan serius dalam sistem pendidikan dan sosial yang sedang berjalan.

Fakta: Wibawa Guru Kian Tergerus

Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh peristiwa memprihatinkan. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan sikap tidak pantas terhadap seorang guru di ruang kelas. Dalam rekaman tersebut, para siswa tampak mengejek, bahkan melakukan gestur acungan jari tengah, sebuah simbol penghinaan yang jelas tidak mencerminkan adab seorang pelajar.

Pihak sekolah telah memberikan sanksi berupa skorsing selama 19 hari. Namun, sejumlah pihak menilai bahwa sanksi tersebut belum tentu efektif dalam membentuk karakter siswa. Bahkan, muncul usulan agar hukuman yang diberikan lebih bersifat edukatif dan mampu memberikan dampak perubahan perilaku secara nyata.

Fakta ini menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap guru bukan lagi kasus tunggal, melainkan fenomena yang semakin sering terjadi. Media sosial memperparah keadaan. Banyak siswa melakukan tindakan menyimpang demi mendapatkan perhatian, popularitas, dan pengakuan dari lingkungan pergaulan mereka.

Lebih memprihatinkan lagi, keberanian siswa melakukan pelecehan ini mengindikasikan melemahnya wibawa guru. Guru tidak lagi dipandang sebagai sosok yang dihormati, tetapi justru dianggap sebagai pihak yang bisa dipermainkan. Kondisi ini memperlihatkan adanya krisis adab yang serius di kalangan pelajar.

Kritik Islam: Buah Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalistik

Dalam perspektif Islam, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan sekuler yang diterapkan saat ini. Sistem ini memisahkan ilmu dari nilai-nilai agama, sehingga pendidikan hanya berorientasi pada aspek akademik, bukan pembentukan akhlak.

Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin adab. Mereka memahami pelajaran di kelas, tetapi tidak memahami bagaimana menghormati guru. Mereka terampil menggunakan teknologi, tetapi tidak memiliki batasan moral dalam berperilaku.

Sistem sekuler juga membuka ruang bagi budaya liberal yang mengagungkan kebebasan individu. Siswa merasa bebas mengekspresikan diri tanpa mempertimbangkan nilai benar dan salah. Media sosial menjadi sarana yang memperkuat budaya ini, di mana tindakan yang menyimpang justru mendapatkan perhatian dan dianggap “keren”.

Lebih jauh lagi, lemahnya sanksi dalam sistem pendidikan saat ini turut memperparah keadaan. Guru seringkali tidak memiliki kekuatan untuk mendisiplinkan siswa secara tegas karena khawatir berhadapan dengan aturan hukum atau tekanan dari orang tua. Akibatnya, siswa tidak memiliki rasa takut untuk melanggar.

Program-program seperti “Profil Pelajar Pancasila” yang sering digaungkan pemerintah juga belum mampu memberikan perubahan nyata. Program tersebut cenderung bersifat administratif dan tidak menyentuh akar persoalan, yaitu pembentukan kepribadian yang berbasis nilai yang kokoh.

Dengan demikian, pelecehan terhadap guru bukan sekadar masalah individu siswa, tetapi merupakan buah dari sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang gagal membentuk karakter generasi.

Solusi Islam: Membangun Generasi Beradab dan Berwibawa

Islam menawarkan solusi yang menyeluruh dalam membangun sistem pendidikan yang mampu menjaga wibawa guru dan membentuk karakter siswa.

Pertama, kurikulum pendidikan harus dibangun berlandaskan akidah Islam. Tujuannya bukan hanya mencetak siswa yang cerdas, tetapi juga memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyyah), yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat. Dengan landasan ini, siswa akan memahami bahwa menghormati guru adalah bagian dari ketaatan kepada Allah.

Kedua, negara memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan yang kondusif bagi pendidikan. Konten digital yang merusak moral, seperti tayangan yang menampilkan pembangkangan atau pelecehan, harus disaring secara ketat. Negara tidak boleh membiarkan arus informasi bebas tanpa kontrol yang merusak generasi muda.

Ketiga, Islam menetapkan sistem sanksi yang tegas dan adil. Sanksi berfungsi sebagai penebus dosa bagi pelaku sekaligus pencegah bagi orang lain. Dengan adanya sanksi yang memberikan efek jera, siswa tidak akan berani melakukan pelanggaran serupa.

Keempat, Islam memuliakan guru sebagai sosok yang memiliki kedudukan tinggi. Negara wajib memberikan penghargaan dan kesejahteraan yang layak kepada guru, sehingga wibawa mereka terjaga di mata siswa dan masyarakat. Guru tidak hanya dihormati karena perannya, tetapi juga karena sistem yang mendukung kehormatan tersebut.

Kelima, Islam menanamkan konsep adab sebagai fondasi utama dalam pendidikan. Sebelum ilmu, adab harus diajarkan. Dengan adab yang kuat, siswa akan memiliki kesadaran untuk menghormati guru tanpa harus dipaksa.

Penutup

Peristiwa pelecehan terhadap guru adalah alarm keras bagi dunia pendidikan. Ini bukan sekadar masalah kedisiplinan siswa, tetapi tanda runtuhnya wibawa pendidikan akibat sistem yang salah.

Selama pendidikan masih berlandaskan sekularisme dan kapitalisme, maka krisis moral akan terus berulang. Solusi parsial seperti skorsing atau program formal tidak akan mampu menyelesaikan masalah secara tuntas.

Islam menawarkan solusi yang tidak hanya memperbaiki perilaku individu, tetapi juga membangun sistem yang menjaga kehormatan guru dan membentuk generasi beradab.

Sudah saatnya kita menyadari bahwa masalah ini bukan sekadar kenakalan siswa, melainkan krisis sistem. Dan solusi hakikinya adalah kembali kepada sistem pendidikan Islam yang kaffah.

Wallahu a'lam