-->

IBADAH DIBATASI DAN KRISIS PERSATUAN UMAT


Oleh : Evi Derni, S.Pd.I.

Warga Palestina dilarang menjalankan salat idul Fitri di masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur Jumat 20 Maret 2026. oleh otoritas Israel.Polisi Israel sempat menggunakan senjata untuk melarang warga mendekati masjid. Dilansir dari anadolu pelarangan ini dilakukan sebagai bentuk pembatasan keamanan yang diberlakukan di tengah perang melawan Iran. Bahkan polisi Israel sebelumnya telah menggunakan pentungan granat suara dan gas air mata terhadap warga Palestina yang melakukan protes dengan menjalankan salat di luar tembok kota tua. israel membatasi akses dengan alasan larangan berkumpul sementara. Para pemilik toko Palestina dilarang membuka toko mereka, hanya apotek dan toko makanan yang di izinkan beroperasi. (Detik Kalimantan Jumat 20 Maret 2026).

Mendefinisikan hari raya idul Fitri dengan hari raya kemenangan apakah masih relevan? mengingat realitas kita umat Islam mengalami krisis multidimensi. Disebut hari kemenangan sebenarnya juga bisa, dalam arti bahwa sepanjang bulan Ramadan kita diwajibkan berpuasa, di situ kita dilatih dengan cara meninggalkan yang halal tidak makan, minum, berhubungan suami istri, untuk kita punya kemampuan mengendalikan diri dan ternyata kita bisa sukses, terbukti bahwa kita bisa menjalani seluruh proses dari awal sampai akhir, tapi memang itu secara individu. Namun ketika dibenturkan dengan realitas umat yang semestinya memang menyatu, dalam arti bahwa kita umat Islam di penghujung Ramadan memasuki Syawal itu hari bahagia, seperti kata Nabi untuk orang yang berpuasa itu ada dua kebahagiaan, yaitu ketika berbuka dan ketika idul Fitri Tapi ketika kita melihat situasi di luar diri kita tidak bisa tidak kita pasti merasa sangat prihatin, kita punya perasaan campur aduk. Allah telah menyebutkan kita sebagai khairu umat, ini preposisi yang istimewa namun pada saat ini tidak,jika tidak bisa dikatakan Sahrul umat, tapi umat terbaik tidak. Kita tertinggal secara ekonomi politik sains dan teknologi bahkan secara apapun.

Maka kondisi ini tentu membutuhkan sosok (orang) untuk berbuat satu perubahan, korelasinya dengan momen idul Fitri di mana di bulan Ramadan ada proses pendisiplinan dengan krisis kepemimpinan, kita perlu mengevaluasi pemaknaan kita terhadap idul Fitri. Idul Fitri di masyarakat lebih banyak bersifat teknis. maka itu akan membawa kita pada 4 poin: ada filosofi ada konsepsi ada strategi ada teknik di situ, tidak sekedar idul Fitri ganti baju baru akan tetapi cetak biru kepemimpinan rasulullah yang sudah terbukti berhasil membawa masyarakat jahiliyah menuju masyarakat yang penuh berkah masyarakat yang rahmatan lil alamin itu yang pertama. Ketika sudah paham makna itu kita akan kembali kepada Ramadan, agar krisis kepemimpinan mengerucut pada satu poin word view "kapitalisme" yang memang mengerikan sekali. Allah SWT membidik langsung kedua unsur dalam word view yaitu aqidahnya dan syariatnya, sehingga yang ditembak di madrasah Ramadan memang di titik krisis itu. Kita sebagai santrinya sebagai siswanya, apalagi pemimpin mestinya dia bisa mengalihkan word view yang word kapitalisme itu menjadi word "Islam".

Telah muncul gagasan baru yang membangun persepsi tentang persaudaraan yang tidak berdasarkan prinsip universalitas iman karena ashobiyah ada nasionalisme ada kesukuan Dan inilah yang membuat kita seolah-olah tidak menjadi bagian dari mereka dan ini berbahaya sekali. Di televisi kita dengar dan kita lihat kenapa harus peduli kepada Palestina? Apa jasa Palestina kepada kita? Transional kalau dipakai nanti kita kena sendiri akan muncul istilah kenapa harus peduli kepada Aceh apa jasa Aceh kepada Jawa, Jawa sudah cukup banyak masalah dan lain-lain sebagainya. Atau sebaliknya bukankah Palestina juga akan mengatakan hal yang sama kenapa harus peduli dengan Indonesia? Apa jasa Indonesia terhadap Palestina?

Kita dibelah-belah dan caranya yang paling gampang dengan ashobiah (nasionalisme) atau tribe. Oleh karena itu ketika kita ingin mengembalikan mereka kembali ke umat yang satu, maka jalan pertama memang harus kembali kepada Islam, akidahnya Islam, dia harus betul-betul beriman dengan kuat dengan akidah Islam. Kedua mereka totalitas taatnya kepada syariat sebagaimana yang dicontohkan Salahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, dan lainnya. Insya Allah mereka menjadi perekat ideologis, karena daya rekatnya datang dari sumber yang sama yaitu aqidah dan syariat dan ini sudah terbukti pada masyarakat Madinah, bangunan masyarakat seperti ini berjalan selama 14 abad itulah yang kita kenal dengan khilafah Rasyidah ala minhajin nubuwah.
Allahu a’alam bishawab.