Habis Lebaran Terbitlah Cicilan
Oleh : Nur Faktul (Aktivis Muslimah)
Hiruk pikuk lebaran kini telah usai, aktifitas sehari-hari akan dimulai kembali seperti biasa. Tidak sedikit pula yang mulai sibuk mengatur dana agar cukup hingga gajian. Sebab agenda hari raya terutama di Indonesia selalu menguras isi dompet. Tidak dapat dipungkiri memang seperti agenda mudik, berbagi THR, membeli jajanan hingga baju baru seolah menjadi hal wajib yang harus dipenuhi. Hal ini pula yang membuat para keluarga berlomba mengumpulkan dana demi terpenuhinya tuntutan tersebut. Keluarga dengan gaji yang cukup tentu saja tidak akan merasa pusing dengan tuntutan tersebut, namun tak sedikit pula keluarga yang pontang panting memeras keringat tapi tetap saja tak mampu mencukupi. Jika sudah demikian, seringkali hutang menjadi solusinya. Entah itu pinjol ataupun koperasi mekar yang menjadi angin segar bagi mereka. Menurutnya hutang adalah hal mudah yang nantinya akan mampu dibayar setelah uforia lebaran telah usai. Namun faktanya tetap saja menjadi beban hidup yang tak berkesudahan.
Hal ini di perparah dengan melonjaknya harga pangan, sulitnya mencari lapangan pekerjaan serta tekanan hidup mewah ketika mudik ke kampung halaman. Momen ramadhan dan lebaran yang seharusnya menambah ketaqwaan, justru menjadi beban bagi mayoritas keluarga akibat tekanan sosial yang berujung pada utang ribawi demi memenuhi kebutuhan hidup. Di era kapitalisme hari ini kehidupan masyarakat memang semakin sulit. Daya tahan ekonomi keluarga semakin rapuh sementara harga barang naik, ongkos mobilitas bertambah dan jaring pengaman sosial belum sepenuhnya tepat sasaran. Pemerintah yang harusnya menjadi garda terdepan meringankan ekonomi masyarakat justru sibuk dengan program-progam baru yang itu sama sekali tidak menjadi solusi.
Seyogyanya pemerintah hari ini berkaca pada sistem islam yang senantiasa mensejahterakan rakyatnya. Dimana sistem ekonomi yang digunakan mampu membangun keseimbangan, dan distribusi ekonomi merata di seluruh keluarga bukan hanya pada pemilik modal. Di dalam islam sistem ekonomi akan stabil baik itu mata uang maupun harga barang. Lapangan pekerjaan yang layak akan diperluas sehingga para pencari nafkah tidak akan kesulitan memenuhi kebutuhan. Sehingga hutang ribawi tidak akan pernah dijadikan solusi oleh setiap individu masyarakat. Namun hal ini memang hanya akan terealisasi jika sistem ekonomi islam diterapkan oleh negara. Sebab kekuatan politik islam mampu melepaskan ketergantungan negara dari globalisasi liberalisasi perdagangan. Diterapkannya sistem islam akan mengembalikan momentum ramadhan dan IdulFitri sesuai pandangan syariat yaitu mewujudkan ketaqwaan baik individu maupun tataran negara. MasyaAllah. Wallahu a'lam bi shawab.

Posting Komentar