-->

Demo "No King" dan seruan Sinyal Keruntuhan Kapitalisme


Oleh : Asri

Demonstrasi bertajuk No Kings kembali mengguncang Amerika Serikat dengan skala besar. Aksi ini berlangsung serentak di berbagai kota dan melibatkan jutaan warga yang turun ke jalan sebagai bentuk protes terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Menurut laporan berbagai sumber internasional, aksi ini digelar di lebih dari 3.300 titik di seluruh 50 negara bagian dengan total peserta mencapai jutaan orang. Bahkan, aksi ini disebut sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern Amerika Serikat.

Kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, hingga Washington DC menjadi pusat keramaian. Namun yang menarik, demonstrasi juga meluas ke kota-kota kecil dan wilayah konservatif, menandakan meluasnya dukungan terhadap gerakan ini.
Gerakan No Kings muncul sebagai bentuk penolakan terhadap gaya kepemimpinan Trump yang dianggap otoriter. Para demonstran menilai sejumlah kebijakan pemerintah, terutama terkait imigrasi dan keamanan, telah melampaui batas demokrasi.

Selain itu, aksi ini juga dipicu oleh meningkatnya ketegangan global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat. Banyak demonstran secara terbuka menyerukan stop perang Iran sebagai bagian dari tuntutan utama mereka.

Beberapa isu utama yang memicu aksi ini antara lain Kebijakan imigrasi yang dinilai terlalu keras. 
Dugaan pelanggaran hak sipil, 
Kenaikan harga kebutuhan hidup seperti pangan dan bahan bakar, 
Kekhawatiran terhadap arah demokrasi di Amerika Serikat, 
Penolakan terhadap perang Iran dan tuntutan perdamaian global.
dunia membutuhkan tatanan baru yang hanya bisa disediakan oleh Islam dan hanya dapat dilakukan oleh sebuah negara Islam, yaitu Khilafah. Namun, negara Islam yang diwariskan oleh Rasulullah saw. telah runtuh sejak 1924. Sejak saat itu tatanan dunia digantikan dengan tatanan kapitalisme yang rusak.

Oleh karena itu, umat Islam harus berusaha dengan segenap kemampuannya untuk memperjuangkan kembali tegaknya Khilafah. Terlebih, banyak kaum muslim setelah mendengar dakwah yang mereka ikuti, keimanan dan kesadaran mereka tersentuh. Dengan dasar Al-Qur’an dan Sunah serta kaul (perkataan) ulama, juga argumen historis dan empiris, penjelasan itu terasa demikian kukuh sehingga membuat orang yang ikhlas tidak ada tempat mengelak untuk tidak turut berjuang menegakkan Khilafah.

Meski demikian, masih banyak umat yang belum paham, salah paham, atau pahamnya salah terhadap Khilafah. Oleh karena itu, penting untuk memahamkan atau meluruskan pemahaman mereka secara terus-menerus. Diperlukan kerja keras, cerdas, dan ikhlas untuk menjelaskan ide ini kepada umat. Dengan demikian, banyak umat yang akan terpahamkan.

Memang, akan selalu ada ancaman, tantangan, hambatan, dan rintangan dalam dakwah. Itu sunatullah. Teruslah melangkah, masa depan Islam gemilang menanti, menggantikan kapitalisme yang hampir mati.

Demikianlah, janji Allah dan Rasul-Nya pasti terjadi, sebagaimana sabda Nabi, ”Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi, dan Al-Bazzar).