-->

Demo "No Kings" Bukti Rakyat Gerah Dengan Pemerintahan Trump

Demo "No Kings" Bukti Rakyat Gerah Dengan Pemerintahan Trump

Oleh. Susi Ummu Musa

Amerika Serikat yang kita tahu sebagai negara super power kini tengah mengalami Gelombang protes bertajuk “No Kings” kembali meluas di berbagai wilayah Amerika Serikat pada Sabtu, dengan Minnesota menjadi pusat aksi utama di tengah meningkatnya tensi politik dan kebijakan imigrasi pemerintahan Donald Trump.

Menurut laporan Al Jazeera (29/3), aksi ini merupakan demonstrasi “No Kings” pertama sejak perang gabungan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai sekitar satu bulan lalu. Aksi tersebut juga menandai gelombang ketiga protes nasional sejak Trump kembali menjabat untuk masa jabatan kedua.

Lebih dari 3.300 aksi direncanakan berlangsung di seluruh 50 negara bagian, menjadikan protes ini sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar di Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir. Kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, dan Washington, DC diperkirakan menjadi titik konsentrasi massa, sementara aksi paralel juga digelar di berbagai kota dunia seperti Roma, Paris, dan Berlin, dikutip dari Al Jazeera (29/3).

Hal ini tentu mendapat perhatian di seluruh dunia mengingat Amerika sebagai polisi dunia telah menampakkan kebusukannya, terutama Trump sebagai presiden yang memiliki sifat Arogan dan serakah, dibalik segala kebijakannya ternyata Trump mendapatkan ketidaksukaan dari rakyatnya sendiri. 
Bentuk protes dan kemarahan besar rakyat Amerika terus mencuat diberbagai wilayah dengan beberapa tuntutan.   Tuntutan Utamanya Gerakan "No Kings" bukan sekadar aksi protes biasa. Ini adalah akumulasi kegerahan rakyat terhadap gaya kepemimpinan Trump yang dinilai otoriter dan didikte oleh elite miliarder.

 Koalisi lintas sektor ini menyuarakan tuntutan yang menyentuh berbagai isu krusial: Stop Kebijakan "Ala Raja": Menolak segala tindakan presiden yang mengabaikan Kongres dan Konstitusi. 

Hentikan Perang Iran: Mendesak AS menarik diri dari konflik berdarah di Iran. 

Reformasi Imigrasi: Menolak razia agresif dan penahanan massal oleh pihak ICE. 

Tarik Aparat Federal: Mendesak militerisasi di kota-kota besar segera dihentikan. 

Lindungi Hak Sipil: Menuntut jaminan hak pilih dan kebijakan lingkungan yang pro-rakyat. 

Atasi Biaya Hidup: Mendesak pemerintah fokus pada inflasi yang mencekik ekonomi warga.

Cendekiawan Muslim 
 Ustadz Ismail Yusanto memandang gelombang "No Kings" yang muncul di Amerika Serikat sebagai bentuk gugatan atau penolakan rakyat terhadap hegemoni dan kekuasaan absolut yang menyerupai raja. 

Hal ini semakin menguatkan bahwa sistem kapitalis sekuler telah gagal dalam menjalankan perannya mengatur dunia, inilah wajah demokrasi Karena kebebasan menjadi prinsip demokrasi, kebenaran pun bersifat relatif. Tidak heran, Trump yang menjalankan kekuasaan dengan brutal tetap penuh percaya diri menyatakan bahwa hukum internasional berada di bawah kendalinya. Kalau seperti ini kondisinya, di mana prinsip demokrasi yang menyatakan bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat? Dengan kediktatoran yang ditunjukkan Trump—sebagaimana ditunjukkan pula di negara penganut demokrasi lainnya—di mana kedaulatan rakyat itu?

Amerika justru menanti kejatuhan paling rendah dengan beban hutang yang menggunung Utang nasional Amerika Serikat (AS) resmi menembus US$39 triliun (Rp661.440 triliun) pada Maret 2026. 
Sebagai catatan, populasi AS saat ini adalah 342,62 juta jiwa. Dengan beban utang yang menumpuk, maka utang yang harus ditanggung oleh tiap individu penduduk AS kini menembus US$113.875 atau sekitar Rp1,93 miliar.  Artinya, per kepala warga AS atau setiap bayi yang baru lahir di AS akan menanggung beban utang Rp1,93 miliar. Tentu saja ini bukan dalam pengertian sebenarnya karena utang AS akan dibayar dari pajak dan pendapatan lainnya. Namun, rakyat AS kecewa, begitu pula kepercayaan global terhadap AS yang terus merosot.

Masihkah berharap dengan Sistem Demokrasi? Sistem rusak yang lahir dari akal manusia namun tak mampu memberikan solusi bagi kedamaian dunia. 
Sudah saatnya umat sadar bahwa ada satu idiologi yang benar benar memberikan solusi yaitu kembali kepada aturan islam secara kaffah. 

Wallahu a' lam bisaawab